Sebelum kita berbicara mengenai parenting without screaming (mendidik anak tanpa teriakan atau kekerasan), maka sebelumnya harus kita ketahui dulu apa dampak atau efek pada anak dengan pola kekerasan atau teriakan. Hal tersebut nantinya akan membantu kita dalam memahami bagaimana pola didik anak tanpa teriakan atau kekerasan.

Seperti dilansir dari Healthline, berteriak bisa membuat anak berperilaku lebih agresif, baik secara fisik maupun verbal. Berteriak dalam konteks apapun, bagi seorang anak merupakan ekspresi kemarahan, yang membuat anak-anak ketakutan dan merasa tidak aman. Sementara itu, ketenangan akan membuat anak-anak merasa dicintai dan diterima, terlepas dari perilaku buruk mereka. Ketika si kecil merasa lebih “aman”, mereka akan cenderung memiliki keinginan untuk berubah lebih baik secara mandiri.

Semua orang tua pasti pernah memarahi anaknya, tapi kalau terlalu sering, Anda harus menghentikannya dari sekarang. Jika dilakukan secara terus menerus, maka teriakan-teriakan itu akan membuat pola guratan di otak sang anak, demikian dikatakan pegiat perlindungan anak, Diena Haryana yang sekaligus pendiri Yayasan Sejiwa (Semai Jiwa Amini) --lembaga nonprofit yang bergerak di bidang pendidikan. Sejiwa memusatkan perhatian pada usaha pengaktualisasian diri melalui nilai-nilai, seperti integritas, empati, respek, toleran, dan tanggung jawab.

Lebih lanjut Diena menjelaskan pola guratan di otak akan terbentuk apabila kebiasaan-kebiasaan telah tertanam dalam benak anak. Misalkan kita mengajarkan anak untuk meletakkan handuk setelah mandi. Hari pertama misalnya dilakukan baik, lalu hari kedua si anak lupa. 

Apa yang harus dilakukan? Ya, diingatkan. Kalau anak lupa lagi, terus ingatkan hingga jadi kebiasaan baik pada anak. Nanti itu akan menimbulkan guratan pada otak, sehingga miliki kebiasaan baik untuk meletakan handuknya setelah mandi.

Beliau juga mengatakan, apabila orang tua mengajarkan anak dengan amarah, maka akan ada perkembangan negatif lain yang terjadi. Amarah ini hanya akan membuat anak selalu merasa takut dan tidak bisa fokus berpikir. Kalau orang tua marah, guratan di otak anak isinya hanya “mama marah”. Jadi bukan kebiasaan baik yang tertanam, tetapi malah ketakutan.

Ketika guratan pada otak anak terbentuk dari amarah, akan ada tiga bentuk reaksi yang terjadi pada anak yakni aktif, pasif dan pasif agresif. Aktif adalah ketika anak menjadi keras seperti orang tuanya, pasif adalah ketika anak tidak percaya diri dan takut, hingga pasif agresif ketika anak menjadi pendiam dan bila merasa marah akan diluapkan dengan luar biasa amarahnya.

Dari uraian di atas bisa kita pahami bahwa dalam pola asuh terhadap anak, teriakan ataupun kekerasan hanya akan berakibat buruk terhadap anak. Itu akan tertanam dalam otaknya dan akan memberikan dampak yang pastinya tidak baik bagi bagi perkembanganya di masa depan. Lebih jauh, bisa mengakibatkan trauma pada diri anak.

Dalam hal mendidik anak, biasanya salah satu nilai yang ingin kita tanamkan adalah nilai kedisiplinan. Secara umum banyak orang berpikir bahwa untuk menegakkan kedisplinan, maka caranya harus dengan keras atau suara yang menggelegar ala militer. Hal ini yang sebanarnya harus diperbaiki, karena disiplin baik secara umum maupun dalam tatanan pengasuhan anak, tidak ada hubungannya dengan teriakan dan kekerasan.

Disiplin adalah kombinasi dari komitmen (kesepakatan), ketepatan waktu dan ketegasan. Jadi disiplin itu bukan keras, tapi tegas dan segala sesuatu dilakukan tanpa kompromi. Disiplin adalah nilai positif yang perlu ditanamkan dan dijadikan sebagai karakter.

Dalam proses pendidikan pada anak, maka sikap fleksibilitas sementara harus dihandari dulu dan kita bersikap tegas. Misalnya sebagai contoh kita ingin mengajarkan kedisiplinan terhadap anak untuk menggosok gigi sebelum tidur. Sebelumnya kita harus membuat kesepakatan dulu dengan si anak, kita katakan setiap hari sebelum tidur, dia harus menggosok giginya. Kalau dia melakukannya, maka keesokan harinya boleh kita beri hadiah, misalnya makan es krim.

Pada awalnya sangat wajar jika anak melakukan pelanggaran, tugas kita adalah mengingatkan apa saja konsekuensinya jika melanggar. Jika anak merengek atau menangis dan marah, maka disini ketegasan diperlukan, kita dapat mengatakan "adek, keputusan tetap berlaku ya, adek boleh marah" marah itu boleh, marah itu harus disalurkan tentunya dengan cara yang sehat, maka kita katakan "Bunda akan kasih adek tempat untuk marah.

Adek boleh milih, mau marah di kamar atau di kursi ruang keluarga. Tapi adek nggak boleh melanggar, ya". Jika kita terbiasa membuat kesepakatan dengan anak maka dengan berjalannya waktu, anak akan terbiasa mematuhi peraturan yang dibuat oleh orang tuanya.

Intinya dalam menerapkan kedisiplinan terhadap anak, sebagai orang tua kita harus membuat kesepakatan yang jelas, hadiah dan hukuman juga dibuat sejelas-jelasnya dan disepakati antara anak dan orang tua.

Tidak mudah untuk mendidik anak sesuai dengan pola asuh yang baik, apalagi kalau anak memiliki kecenderungan berperilaku yang tidak biasa, seperti keras kepala, sering membantah dan lain-lain. Ada beberapa cara yang mungkin bisa dicoba dalam rangka menanamkan nilai kedisiplinan terhadap anak atanpa teriakan ataupun kekerasan, yaitu:

Pertama, adalah mencontohkan, jika kita ingin anak kita memiliki sifat disiplin, maka sebgai orang tua kita harus memberikan contoh terlebih dahulu. Seorang anak pada hakekatnya adalah mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tuanya. Jika sebagai orang tua ingin anak tidak membuang sampah sembarangan, maka sang orang tua juga harus memberikan contoh tidak membuang sampah sembarangan.

Kedua, adalah memilih kata-kata yang lembut tapi tegas. Saat memberikan peritah kepada anak, pilihlah kata-kata yang baik, dan jangan terpancing emosi, dan berlaku atau berkata kasar jika suatu ketika apa yag diperintahkan tidak dilakukan oleh anak. Lakukan perintah dengan baik, sampai dia melakukan apa yang dierintahkan.

Ketiga, adalah membuat aturan yang jelas dan dapat dimengerti si anak. Terapkan peraturan tersebut dengan konsisten. Jika anak melanggar aturan yang telah disepakati sebelumnya, maka katakanlah dengan lembut serta diiringi nasihat bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu salah. Hal ini dilakukan untuk menghindari terjadinya kesalahan untuk yang kedua kalinya.

Keempat, adalah menerapkan hadiah dan hukuman yang jelas. Setelah peraturan dibuat, jelaskan juga mengenai hadiah dan hukuman. Setelah si anak paham, maka berikan hadiah dan hukuman sesuai dengan apa yang sudah disepakati bersama.

Memang tidak mudah menjalankan apa yang sudah dijelaskan di atas. Memerlukan kesabaran dan tekad bulat untuk bisa menjalankan dengan baik. Semoga dengan memahami akaibat yang bisa ditimbulkan dengan pola asuh yang salah, kita bisa diberikan kekuatan untuk menjalankan pola asuh tanpa teriakan dan kekerasan ini… Selamat mencoba.