Saat menonton video pengajian Sujiwo Tejo dan Cak Nun di media YouTube, kesan pertama saya adalah pengajian ini cukup menarik. Saya dengan khusyuk menikmati setiap deret argumentasi mereka berdua. Adu gagasan dibungkus dengan diksi-diksi kata Jawa (baik dialek bahasa maupun kata) dan Bahasa Indonesia.

Saya yakin, bagi sebahagian orang akan terkesima untuk menonton pengajian yang mereka bawakan. Video yang berdurasi 33 menit, disaksikan sebanyak 2,2 juta kali. Jumlah viewers yang terbilang tidak sedikit. Tampak peserta pengajian cukup antusias dan penuh hikmat menikmatnya.

Bagi saya, yang cukup menyita perhatian adalah dari apa yang dikatakan oleh Sujiwo Tejo tentang “paradoks”. Satu kata ini sepintas sangat sederhana, namun juga sangat pelik. Pada 1 durasi, beliau membilangkan bahwa di dunia ini, mana yang tidak paradoks, oksigen penting bisa menghidupi tapi oksigen juga membunuh.

Dari sini, Sujiwo tejo menjelaskan dengan penerangan bahasa yang sangat mudah dipahami dan lugas. Air menghidupi juga sekaligus mematikan, cahaya menerangi juga membutakan. Begitu juga dengan rokok, ia menyenangkan sekaligus menyakitkan.

Menyinggung soal rokok. Bagi saya, rokok sudah menjadi bagian dari gaya hidup, setidaknya itu ketika saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Rokok ketika itu menjadi liyannya dunia remaja. Dan saat itu, untuk saya yang masih berstatus pelajar SMA, rokok dan merokok adalah sesuatu yang cukup sulit.

Mengingat Super Ego di masyarakat dan sekolah sangat dikultuskan, sehingga praktik-praktiknya dilakukan secara underground dan diparipurnakan melalui teknik menghilangkan wangi rokok dipakaian menggunakan parfum agar tidak teridentifikasi oleh intitusi pemilik super ego. Setidaknya cukup ampuh dan memungkinkan beberapa anak remaja semasa saya akan memilih menempuh mekanisme ini.

Mekanisme di atas, bagi saya, merupakan self defensive mechanism ego atas kuatnya dorongan keinginan bawah sadar dan kerasnya institusi masyarakat serta sekolah. “Merokok saja deh, lagian tidak ditahu oleh orang tua.

Beranjak dari putih abu-abu (SMA) ke bebas tapi rapi (dunia mahasiswa), rokok masih menjadi liyan bagi dunia remaja menjelang dewasa. Namun, bagi saya, tidak lagi sesulit sebelumnya. Self defensive mechanism sudah tidak terpakai dikarenakan jangkauan hukum institusi super ego (orangtua, masyarakat desa dan sekolah) sudah semakin jauh dan ditambah dinamika the new world berserta liyannya sendiri.

Ketika bermahasiswa, saya memilih Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) sebagai sarana belajar selanjutnya. Seperti namanya, tempat ini mengimani paradigma sehat dan diterjemahkan ke dalam pendekatan preventif promotion. Institusi ini sangat menekankan untuk setiap aktivitas manusia haruslah berorientasi pada perilaku sehat. Untuk itu, sangat menganjurkan menghindari perilaku dan gaya hidup seperti rokok dan merokok.

Karena institusi ini menganggap rokok adalah salah satu faktor terhadap kejadian sakit seseorang. Dengan memberikan kontribusi cukup baik untuk memengaruhi status kesehatan, sehingga rokok mendapat predikat buruk bagi penggiat institusi ini.

Rokok itu paradoks. Ia menyenangkan bagi pencintanya dan ia menyakitkan bagi pembencinya. Bagi para pembencinya, dilakukan berbagai upaya agar dia dijauhi. Mulai dari promosi kesehatan yang gencar dilakukan oleh institusi negara (kementerian kesehatan), riset tentang bahaya dari aktivitas merokok, dan serangkaian legitimasi untuk menjauhkan rokok dari gaya hidup manusia. Sepertinya pernyataan perang sudah dikumandangkan (secara tidak langsung).

Ikhtiar perang terhadap rokok telah dituangkan dalam agenda promosi kesehatan. Promosi ini sudah terjadi beberapa tahun terakhir dan langkah ini diyakini cukup dekat dengan para penikmat rokok, yaitu promosi kesehatan pada bungkus rokok. Mencantumkan tagline “rokok membunuhmu” disertai dukungan gambar efek yang ditimbulkan dari merokok, diharapkan dapat menjauhkan rokok dari gaya hidup masyarakat.

Namun, apakah dengan model promosi kesehatan seperti itu benar-benar dapat mengubah perilaku atau gaya hidup masyarakat atau hanya sekadar menuntaskan program kerja saja?

Teringat kata senior sekaligus dosen yang mengasuh beberapa mata kuliah di tempat saya bersekolah sebagai mahasiswa. Beliau bilang bahwa untuk mengubah perilaku, tidak cukup hanya dengan 1 atau 2 skenario intervensi. Namun, dibutuhkan keterlibatan multi sectoral untuk mencapainya. L. Green juga bilang hal sama dalam teorinya perubahan perilaku. Bahwa perubahan perilaku tidak pada 1 faktor saja, melainkan terdiri dari faktor predisposisi, enabling, dan reinforcing.

Jadi, agar supaya seorang pencinta rokok dan seluruh aktivitasnya dapat berubah, baik dari gaya hidup dan perilakunya, maka tidak hanya kementerian kesehatan yang turut berperan saja. Misalnya seperti Kementerian terkait yang berperan untuk membatasi jumlah peredaran rokok beserta harganya dan peran legislatif untuk perumusan kebijakan peniadaan kawasan untuk perokok di ruang public, artinya peniadaan space bagi perokok.