Malam bukannya tak mau bersahabat. Tapi, aku hanya sedang enggan mengakui bahwa malam ini indah. Lampion warna-warni dengan berbagai bentuk, konkret hingga abstrak, terpasang melintang, membentuk corak tersendiri di langit. Bukan perayaan tahun baru, apalagi imlek.

Hari ini telah berlalu jauh dari hari biasanya lampion terpasang. Mungkin karang taruna setempat iseng menyemarakkan kota kecil ini, atau mereka ingin meledek hatiku yang sedang gelap? Mungkin yang tahu jawabannya hanya malam.

Ramai muda-mudi melintas di jalan yang mengerucut pada suatu bundaran yang berada di Simpang Lima. Entah berjalan kaki, maupun bersepeda motor. Tertawa-tawa melepas sukacita melewatiku, yang untuk tertawa saja sulit, letih bersandar di tiang listrik yang kurus.

Aku seperti patung yang tak sama sekali indah, diletakkan begitu saja tersandar di tiang listrik. Sama sekali tak menarik minat orang-orang yang lewat. Aku lebih mengenaskan dibanding pengamen dan pengemis malam ini.

Lalu lintas bising. Kendaraan roda dua hingga roda empat lewat dengan bunyi meraung-raung seperti ingin berlomba-lomba meramaikan hatiku. Namun, tetap saja sunyi. Aku tak mendengar apa-apa. Aku hanya mendengar suaramu melayang-layang di rongga telinga.

“Kita akan menikah”, suara itu berbisik membuatku ingin muntah. Untung aku tidak muntah, bisa kacau pasangan berusia belasan tahun dengan baju couple yang baru saja persis melintas di depanku. Si laki-laki memakai kaus bertuliskan Bunda, dan si perempuan memakai kaus bertuliskan Ayah. Aku mengutuk dalam hati. Oh kejamnya baju itu! Apa mereka tak merasa telah berganti kelamin?

Aku semakin mual ketika sebuah motor dengan knalpot modifikasi berbentuk naga–sekali lagi aku ingin muntah–lewat dengan lampu sorot bikin katarak. Si perempuan memeluk hangat tanpa rasa malu pada laki-laki kerempeng yang mengendarai motor, amat teramat mesra. Aku membayangkan petir menyambar mereka dan Malin Kundang versi pasangan mesum tercipta di muka bumi.

Kita sering bermimpi memiliki rumah dengan halaman luas dengan banyak anak. Katamu, tidak apa bermimpi, mimpi adalah awal kesuksesan. Aku menelan mentah-mentah omonganmu, karena aku tahu kau lebih pintar. Sedangkan aku masih mencari-cari jati diri. Klasik, pasaran, murahan, apa saja yang bisa kau ucapkan untuk mendeskripsikan aku. 

Lalu kemudian kau sambung lagi dengan pertanyaan “Ingin punya berapa anak?”, dengan polosnya aku menjawab “Banyak!”, padahal tak satu pun bilangan angka tercetak di dalam pikiran. Aku asal bicara saja, yang penting aku bahagia dan aku tahu kau serius.

Waktu itu malam jumat bertepatan dengan malam satu suro. Beberapa tempat di belahan Pulau Jawa biasanya merayakannya dengan pawai obor atau arak-arakan keliling kampung. Kita pun merayakannya pula dengan bermain api.

“Hati-hati terbakar,” Tak pernah kau berkata tanpa melukiskan senyum di bibir.

Hatiku terbakar. Ingin rasanya aku menenggelamkan diri di laut kidul. Ucapan-ucapanmu seperti meresap dalam kulit dan daging. Obsesimu terhadap arete, yang tidak pernah jenuh kau ulangi sebagai bentuk pencapaian hidup antara kita berdua. Aku pun terpaksa mengenal Aristoteles lebih jauh untuk memahamimu.

Kota hujan sedang benar-benar diguyur hujan pada malam itu. Dingin menyebar di sudut kota yang terkenal dengan julukan kota seribu angkot. Aku dan kamu hanya terpaku dalam kamar. Memandang suram ke jendela yang basah. Mengutuk sekaligus bersyukur pada turunnya hujan.

Aku membayangkan, seandainya kita ada di Semarang, bukan di Bogor, mungkin kita sedang menikmati hangatnya pawai obor sambil makan lumpia. Bukan saling gemelutuk menggigil dalam dimensi keabadian dan arete mustahil ciptaanmu.

Aku jatuh cinta, jauh sebelum malam ini. Namun, semuanya menjadi semakin bulat dan padat. Aku tidak bisa meraba hatimu, yang aku tahu kau hanya senang.

Cukuplah aku bahagia bila kau senang.

Pengorbanan cinta paling klise. Tak perlu memaksakan diri untuk memiliki, jika ia berkelimpahan kebahagiaan itu sudah cukup. Tulismu di sebuah dinding. Aku tak pernah tahu siapa ia yang kau tuju dalam tulisan itu.

Esok paginya ketika langit Bogor sudah berhenti menangis, aku dan kamu memutuskan untuk jalan-jalan. Kurang lengkap rasanya berada di kota ini tanpa berkunjung ke Kebun Raya Bogor. Awalnya aku menolak. Malas. Bosan. Udara di luar masih lembab, jalanan masih becek. Tapi, kamu yang lebih banyak menghabiskan diri di kota dengan matahari di atas kepala, ingin sekali menikmati aroma pepohonan.

Apa aku bisa menolak? Aku ingin kau senang terus bersamaku. Tak peduli cinta atau tidak.

Di sini mungkin orang bertanya-tanya, termasuk juga kamu. Aku yang jahat atau kamu? Aku yang terlalu tulus atau kamu yang terlalu penipu?

Kebun Raya Bogor ramai oleh keluarga-keluarga yang berlibur hingga anak sekolah yang sengaja bertandang kemari, merayakan liburnya perayaan tahun baru Islam. Aku dan kamu hanya berjalan-jalan menebak-nebak pohon yang kita lewati, tertawa, kemudian bergandengan tangan, berlari-lari kecil, terpeleset, tersandung batu besar atau baju tersangkut batang pohon. 

Kita tak mengabadikan apa pun. Tidak seperti para pelancong lain yang sibuk potret sana-sini. Aku tahu seleramu tak suka seperti itu. Atau kau tak ingin ada yang tahu bahwa kita pernah ke tempat ini berdua.

Sejujurnya, aku perempuan yang senang hal-hal kecil romantis. Mengenalmu lebih jauh dan melewati banyak malam bersamamu, membuatku mendadak berubah menjadi perempuan yang apatis dan makin impulsif. Karena kamu laki-laki aneh, tidak suka kuperhatikan dan kumanja-manja.

Dua puluh dua menit berlalu setelah kita habiskan berkeliling, kamu terlihat lelah. Aku dan kamu duduk di bangku di bawah pohon beringin yang menghadap kolam kecil. Rimbunnya pohon dan angin yang bertiup lembut membuat kita mengantuk. Agar tidak terlelap, kamu mulai berdongeng. Ingat, ini hanya dongeng.

“Jarang sekali menemukan tempat sesejuk ini, ingin rasanya aku tinggal di Bogor. Tentu saja bersamamu.”

Aku tersenyum tanpa menanggapi, aku tahu kau hanya berdongeng.

“Kita akan punya rumah, tak perlulah terlalu besar. Yang penting halamannya luas cukup untuk menanam banyak pohon dan tempat anak-anak kita bermain.”

Aku tersenyum tanpa menanggapi, aku tahu kau hanya berdongeng.

“Kita akan selalu bersama-sama. Kita akan menikah.”

Aku tersenyum tanpa menanggapi, aku tahu kau hanya berdongeng.

Dongeng, mitos dan legenda adalah hal-hal yang lebih banyak rekayasanya dibanding kenyataan. Karena itu dongengmu juga tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Seperti mitos yang mengatakan bahwa malam jumat adalah malam menyeramkan. Bagiku setiap malam menyeramkan jika memang Tuhan takdirkan.

Setelah tahu bahwa dongengmu sudah berakhir, kuhapus kenangan tentang kota hujan. Tentang malam jumat satu suro yang basah.

Aku pergi ke kota ini dengan kereta kelas ekonomi. Hanya membawa baju di badan dan selembar tiket pulang yang sudah kupesan lebih dulu.

Ini bukan tulisan tentang kebencianku pada laki-laki. Tidak, aku sama sekali tidak membenci laki-laki. Aku hanya ingin menulis yang sebenarnya aku rasakan, yang aku alami bahwa dongeng selamanya tetap dongeng.

Laki-laki, ditakdirkan memang untuk memilih. Perempuan, diciptakan Tuhan sebagai makhluk yang kuat. Kuat jika lelaki tak memilihnya nanti.

Jadi, tak perlu menyalahkan laki-laki bila mereka meninggalkanmu. Salahmu karena terlalu banyak berharap pada mereka. Aku bersyukur karena dari awal aku tahu bahwa dongeng selamanya tetap dongeng. Jangan pernah berharap pada hal-hal indah yang diucapkan terus menerus. Karena itu adalah dongeng. Sesungguhnya, kenyataan yang akan terjadi tak perlu diucapkan. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Aku tak percaya ramalan maupun cenayang.

Begitulah. Aku banyak belajar darimu. Benar kata Bunda Teresa, beberapa orang datang dalam hidupmu untuk memberimu pelajaran.

Aku tak seperti perempuan pada umumnya yang dimanjakan dongeng dan ucapan-ucapan manis. Aku perempuan yang dibesarkan oleh kenyataan, kejadian dalam hidup yang tak pernah terduga, berubah-ubah seiring bergantinya malam.

Orang-orang bergembira. Sepanjang jalan menuju Simpang Lima, semua hati bergembira, semua mulut tertawa, semua mata bahagia. Semua pasangan akan berakhir. Bisa berakhir di pelaminan, bisa juga hanya berakhir di ranjang, bisa juga berakhir di penjara, bisa juga di dalam kubur.

Kau masih berkata padaku bahwa cinta itu abadi? Padahal kau tahu bahwa semuanya akan berakhir? Malam satu suro di mana kehangatan menyelimuti kisah kasih kita juga akan berakhir. Berganti dengan malam senin, malam selasa, malam rabu, malam kamis, dan malam petaka terakhir kita, malam jumat.

Malam di mana sebagian mukmim memutuskan zikir lebih panjang usai salat Isya, malam di mana beberapa keyakinan tertentu membakar sajen, dan malam di mana beberapa penakut dan pecundang ngumpet di dalam kamar.

Di mana kita di malam jumat? Kita terperangkap dalam suatu dimensi bernama keabadian. Keabadian yang sebenarnya tidak ada. Yang ada adalah pilihan, mau seperti apa dan di mana kita akan berakhir.

Dimensi itu ciptaanmu, semata-mata untuk meyakinkanku bahwa kau tulus mencinta. Wajar, kau adalah orang pintar yang bisa menciptakan dimensi dan waktu sesuka hatimu saja.

“Aku masih harus menyelesaikan satu semester lagi.”

“Siapa yang memaksamu segera menikah?” lalu kamu tertawa penuh semangat.

Malam jumat sebelumnya kita masih saling bercanda, tertawa menakuti-nakuti sambil lari pontang-panting ketika lewat depan Lawang Sewu. Masih saling tak mau kalah bercerita siapa yang paling sering lihat hantu.

Sesungguhnya hantu itu bukanlah yang paling aku takutkan.

Kamu sudah memilih untuk menikahi perempuan bermata indah bola pingpong itu di malam selasa. Katanya sudah dihitung baik-baik oleh keluargamu sesuai primbon. Tapi hubungan kita tak kunjung berakhir.

Kamu tak mau mengakhiri, sedangkan aku memilih untuk melihat apakah kau akan tetap menikah dengan perempuan itu di malam selasa?

Aku berdoa semoga malam jumat tak menjadi petaka kedua bagimu. Cukup aku yang tahu betapa mengerikannya malam jumat.

Malam ini, ketika bintang di langit bersaing dengan sorot lampion, menerangi Jalan Pandanaran, adalah malam kebesaran muda-mudi memadu kasih. Tak usah kau tanya lagi malam apa? Tentu saja malam minggu! Aneh, rasanya seperti malam jumat saja bagiku.