Akhir-akhir ini saya sedang giat menyaksikan video-video dari Youtuber berparas lucu, Gita Savitri Devi. Entah bagaimana, pipi seorang gita savitri bisa membebaskan hati yang terpasung belenggu rasa bersalah.

Kembang-kempis hidungnya menyiratkan bahwa masih ada detak untuk masa depan yang perlu diarungi. Apa lagi? Oh, matanya adalah sumber pengharapan untuk hidup yang lepas dari kepalsuan. Hingga akhirnya saya terhenti tepat di bibirnya.

Dalam salah satu videonya tentang jalan-jalan singkat di London, ia menampilkan kolase kota tersebut dengan cara sederhana khas vloger. Ia memulainya dari sebuah kamar hotel, dan memulai perjalanan bermodal kamera—saya menulisnya seolah harganya murah, padahal tidak—untuk mengabadikannya.

Di situ, Gita menampilkan St Pancras sebagai tempat di mana seorang director film Harry Potter mengambil adegan si tokoh utama terbang dengan mobilnya. Dibandingkan menggali bagaimana gaya arsitektur gedung tersebut yang juga merupakan gambaran dari kebudayaan masyarakat London pada zamannya.

Hal tersebut mengingatkan saya kepada seorang teman yang berkunjung ke Jogja kemudian meminta untuk ditemani berkeliling daerah jogja, dengan tujuan-tujuan yang sama seperti dalam film Ada Apa Dengan Cinta.

Tidak ada tanggapan yang berlebihan dari saya karena memang tujuan-tujuan tersebut sebagian besar sudah saya telusuri sebelum fim itu meledak. Yang menjadi perhatian saya bahwa hari ini, ketika kita menyaksikan film dan berkunjung ke lokasi yang sama, kita menjadikan film tersebut sebagai panduan.  

Untuk dipahami yaitu tulisan ini bukan tulisan yang akan membahas ajaran moral. Kemudian menentukan baik-buruk suatu kebiasaan menurut ajaran-ajarannya. Melainkan tulisan ini hanya suatu upaya telaah terhadap kebiasaan-kebiasaan masyarakat dan melihat bagaiamana hal tersebut bisa terjadi.

Kebudayaan dalam Masyarakat Massa

Sebelum beranjak lebih jauh, kita perlu memahami konsep dasar dari budaya. Kita bisa melihatnya dalam kacamata cultural studies. John Storey berpendapat bahwa budaya tidak hanya—secara sempit—merupakan kajian objek keadiluhungan estetis (seni tinggi), beserta proses-proses perkembangan estetik, intelektual, dan spritiual.

Lebih luas, budaya dalam kacamata cultural studies lebih didefinisikan secara politis menjadi teks dan praktik kehidupan sehari-hari dan secara spesifik sebagai ranah konflik sampai pada pergumulan.

Selanjutnya, timbul pertanyaan apakah dua contoh diawal dapat dikatakan sebagai gambaran umum dari masyarakat? Saya tidak dapat membenarkan karena metode generalisir sangat berbahaya.

Tetapi nyatanya, tidak sedikit diantara kita yang berperilaku demikian karena kita telah menjadi masyarakat massa. Masyarakat yang teratomisasi oleh sebab industrialisasi dan urbanisasi. Proses industrialisasi di kota-kota besar telah menggantikan lapangan pekerjaan—contohnya—dari cangkul dan jala menjadi produksi industri mekanis.

Pertumbuhan industri yang terjadi di kota-kota mengakibatkan urbanisasi dalam skala yang cukup besar. Kita bisa melihat hal semcam ini ketika hari raya idul fitri.

Jumlah arus massa yang menjelang perayaan pulang ke kampung halaman membuat pemerintah kewalahan. Akibat dari urbanisasi besar-besaran menyebabkan kurangnya stabilitas serta mengikis struktur sosial maupun nilai yang telah dipertahankan sebelumnya.

Dari situ terciptalah suatu proses atomisasi. Layaknya senyawa atom dalam fisika, pola hubungan orang-orang di kota besar tidak bersifat komunal dan benar-benar terintegrasi melainkan hanya bersifat kontrak, berjarak dan sporadis.

Proses atomisasi telah meruntuhkan organisasi-organisasi sosial perantara sepeti desa, keluarga dan juga kepastian moral yang dihidupkan oleh institusi agama. Organisasi-organisasi tersebut dapat memberikan rasa identitas serta integritas moral dibandingkan organisasi modern seperti kota.

Ketika organisasi kota tidak dapat memberikan rasa nilai moral yang baik, maka kemunculan media massa dan budaya populer menjadi lembaga yang berperan mengisi ruang tersebut. Masyarakat massa telah termanipulasi oleh kedua hal itu yang menjadi moralitas pengganti dan palsu. Kebenaran komunal telah tergeser menjadi indvidualisme yang tidak terarah. Kemudian dikaitkan dengan sikap konsumsi massa dan budaya massa.

Bahwa film atau secara umum tayangan televisi telah mempengaruhi kesadaran seseorang, itu adalah bentuk dari hegemoni budaya massa. Budaya massa sendiri yaitu budaya populer yang dihasilkan melalui teknik-teknik industrial produksi massa kemudian dipasarkan untuk mendapatkan keuntungan kepada khalayak konsumen massa.

Tanpa disadari, film atau tayangan televisi telah masuk ke dalam sistem kesadaran dan menjadi landasan bagi perilaku kita. Kita menyadarinya ketika tayangan media massa televisi sangat mengkhawatirkan untuk anak.

Perubahan Mindset Kebudayaan

Sekali lagi, memang tidak dapat dikatakan film-film sepeti Ada Apa Dengan Cinta atau Harry Potter adalah amoral dan tidak mendidik. Tetapi yang perlu ditekankan, sedikit atau banyak, film sebagai budaya populer telah mempengaruhi kita.

Sementara di sisi lain sejarah kebudayaan masa lalu yang masih dalam garis linier peradaban manusia tereduksi oleh budaya populer. Beruntunglah kalau yang kita tonton adalah film yang memiliki nilai sejarah kebudayaan, mungkin seperti film indosiar dengan naga terbangnya.

Hal ini dapat berarti kabar baik untuk kreatifitas industri pariwisata. Dengan begitu kita menjadi sangat maklum ketika berkunjung ke suatu tempat karena pernah melihatnya dalam suatu film. Bukan karena nilai-nilai kebudayaan atau sejarah yang ada di sana, tetapi lebih karena kepopulerannya.

Maka bukan tidak mungkin Candi Ratu Boko hanya akan hadir sebagai situs atau bangunan, sama halnya dengan St Pancras. Ia tidak akan lagi dikenal karena sejarahnya dalam proses peradaban atau pergumulan budaya dalam masa silam.

Kita befoto di tempat-tempat tersebut tidak lebih karena momen-momen romantis dalam film. Atau mungkin ketidaktahuan kita pada situs-situs tersebut telah melahirkan jarak antara kita dengan sejarah peradaban.

Jarak tersebut membuat kita berfikir bahwa bangunan ini unik atau dengan kata lain ‘asing’. Maka kita perlu mengabadikannya dan mengunggahnya di sosial media sebagai bentuk budaya populer yang lain.

 Terakhir sekali, kak Gita, saya tidak sedang menyerang anda secara pribadi, karena saya juga berasal dari masyarakat yang sama, yakni masyarakat massa dan budaya yang sama pula yaitu budaya massa. Pesan saya, seperti Desacartes, “Ka Gita Ergo Sum”.


Daftar Bacaan Utama:

1. Dominic Strinati, Popular Culture Pengantar Menuju Teori Budaya Populer, Yogyakarta: Narasi-Pustaka Promethea, 2016.

2. Francis Mulhern, Budaya / Metabudaya, Yogyakarta: Jalasutra, 2010.

3. John Storey, Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop: Sebuah Pengantar, Yogyakarta: Jalasutra, 2007.