Siapa yang tak kenal grup musik Sabyan? Mungkin ada yang belum tahu atau belum kenal. Namun, popularitas grup bergenre gambus ini rasa-rasanya sudah melekat di sebagian besar masyarakat Indonesia. Puncak ketenaran pun tersemat kepada sang vokalis, Khoirunnisa atau lebih dikenal dengan Nissa Sabyan.

Selain cantik, gadis kelahiran Lumajang, 23 Mei 1999 itu juga memiliki warna suara yang aduhai. Awal penulis menyukai grup musik ini (terutama vokalisnya) adalah ketika mempopulerkan lagu Ya Habibal Qolbi. Lagu ini pun viral dan berjuta-juta pasang mata menyaksikan lagu ini di kanal YouTube.

Dalam tempo yang relatif singkat, vokalis dan grup musik Sabyan makin tenar, terutama saat meng-cover lagu Deen Assalam

Lagu dengan makna perdamaian ini pun viral ke antero negeri. Acara hajatan, sumbangan di jalan, atau hari besar keagamaan kerap memutar lagu ini. Tentu, selain aransmen lagu yang asyik, vokalis yang cantik, juga makna lagu yang ciamik.

Namun pada titik lagu inilah Sabyan dan vokalisnya berada dalam paradoks. Deen Assalam adalah lagu tentang toleransi, perdamaian, dan ujaran-ujaran yang menyejukkan. Lagu Deen Assalam adalah penegasan bahwa Islam adalah agama kedamaian. Maka wajar banyak yang menyukai lagu ini.

Tak bisa ditampik, lagu Deen Assalam turut "meroketkan" nama Sabyan dan tentu saja vokalisnya. 

Namun, kedalaman makna lagu Deen Assalam atau Ya Habibal Qolbi tampaknya tidak tertanam dalam sanubari para punggawa Sabyan, utamanya sang vokalis. Seperti diketahui, Sabyan sudah menunjukkan sikap politiknya dengan mendukung pasangan capres-cawapres nomor urut 02.

Itu hak politik Sabyan? Benar memang. Namun apakah para personel Sabyan tidak berpikir mereka sedang berada di barisan apa? 

Di barisan 02, bercokol Front Pembela Islam (FPI), para eks Hizbut Tahrir Indonesia, serta orang-orang dan/atau kelompok dengan rekam jejak yang jauh, bahkan memusuhi toleransi dan perdamaian.

Sabyan telah menyempitkan seluruh bumi karena telah memilih berada di barisan kelompok tanpa toleransi. Sabyan tak lagi hidup dengan cinta karena satu kubu dengan FPI yang gemar mempersekusi kelompok minoritas seperti Ahmadiyah. 

Tak seperti lagu Deen Assalam yang dinyanyikannya, Sabyan dan vokalisnya tak menunjukkan perilaku mulia dan damai karena satu blok dengan orang yang gemar mengkafir-kafirkan orang lain.

Sabyan tak lagi menyebarkan ucapan yang manis karena satu kamar dengan Gus Nur dan Bahar Smith yang hobi mengeluarkan ujaran kebencian, umpatan, hujatan, serta hinaan. Sabyan tak lagi menghiasi dunia dengan sikap yang hormat, cinta, dan senyuman karena satu barisan dengan kelompok yang selalu mempolitisasi agama.

Di media sosial, sempat beredar semacam infografis yang menerangkan bahwa merapatnya Sabyan ke kubu 02 karena pundi-pundi yang besar yang Sabyan terima, baik karena uang ataupun karena keyakinan politik.

Sabyan boleh saja menentukan sikap politik itu. Namun sangat disayangkan, Sabyan yang digadang-gadang pelopor salawat untuk kalangan milenial sekaligus membawa pesan-pesan toleransi malah bergabung dengan kelompok yang intoleran.

Silakan pantau rekam jejak FPI. Berapa kali kelompok ini membubarkan ibadah di Gereja, mempersekusi orang atau kelompok yang berbeda keyakinan, barbar merusak bar sambil teriak Allahuakbar, serta merisak yang tak sepandangan dengannya.

Sang Imam Besar FPI pun memiliki slogan “NKRI Bersyariah” dan memiliki misi menerapkan hukum Islam di Indonesia.

Atau eks HTI yang juga berada di kubu 02. Kelompok ini pengusung khilafah. Sudah dibubarkan pemerintah dan akhirnya mencari suaka di kubu 02.

Lihat pula Bahar Smith, Sugi Nur, Ahmad Dhani, Neno Warisman, dan yang sudah mereka campakkan, yakni Ratna Sarumpaet. Selain intoleran, Sabyan mestinya sadar bahwa mereka telah bergabung dengan kelompok penyebar kebohongan.

Bila bergabungnya Sabyan karena uang, itu realistis, meski tetap patut disayangkan. Popularitas membuat mereka silau. Uang membuat mereka galau, sehingga melangkahkan kaki ke arah yang berlawanan dengan lagu-lagu yang kerap mereka nyanyikan.

Lagu Deen Assalam pun seketika menjadi dangkal. Makna-makna toleransi dan keharmonisan diberangus oleh segepok uang.

Masih segar di ingatan saat Neno Warisman mengintimidasi Tuhan dengan doanya pada acara 212 di Monas. Atau terikan-teriakan “Pemerintah Anti Islam” serta pekik kafir dan munafik yang kelompok mereka sematkan kepada yang berbeda pandangan. 

Bahkan ancaman ogah menyalatkan jenazah yang tak patuh dengan fatwa yang mereka keluarkan. Begitukah makna toleransi seperti dalam lagu Deen Assalam wahai, Nissa Sabyan?

Bukankah dengan merdu Nissa menyanyikan kalimat “dunia akan terasa sempit bila tanpa toleransi”? Atau anjuran Nissa Sabyan untuk menyebarkan ucapan mulia dan manis?

Siapa di antara kubu 02 yang bisa menunjukkan itu semua? Bahar Smith? Rizieq Shihab? Sugi Nur? Apa ucapan manis dan mulia yang keluar dari mereka bertiga?

Islam sebagai agama perdamaian yang didendangkan Sabyan hanya lip service, karena Sabyan malah satu gerbong dengan orang-orang dan kelompok yang menunjukkan agama sebagai sesuatu yang seram. Sungguh Sabyan dan Nissa sudah tak pantas lagi menyanyikan lagu Deen Assalam.