Saat membaca berita Syaikh Ali Jaber meninggal saya sontak menangis. Tak percaya dan berharap kabar itu hoax. Saya dan rekan sekantor semua ikut berduka. Semua grup yang saya ikuti pun membicarakan  tentang Syaikh padahal kenal pun tidak. 

Semua orang selalu kaget jika menerima kabar duka. Refleks turut berduka. Lumrahnya mayoritas orang akan menanyakan penyebabnya. Padahal penyebab itu bisa apa saja. Seperti tragedi jatuhnya Sriwijaya Air yang mengaduk rasa kita. Sebuah tragedi memilukan yang memaksa bertanya kenapa bisa terjadi. 

Kita semua mahfum, jika sudah habis jatah waktu hidup kita maka semua yang bernyawa pasti mati.  Tua muda, kaya miskin, rakyat jelata ataukah penguasa tidak bisa menolaknya. Pun demikian, tetap saja kabar kematian selalu mengejutkan. Kita tidak percaya . Ah masa iya, kemarin masih baik saja.  Secepat itukah? Mengapa bisa terjadi? Ada banyak tanya dibalik rahasia kematian yang tak pernah terduga. 

Di masa pandemi ini, tiap hari saya menerima kabar duka dari orang-orang yang saya kenal. Kebanyakan masih muda. Ada aktivis kemanusiaan, pejuang HAM, ustaz, guru teladan. Rasanya jadi ada semacam rasa was-was betapa dekat kematian. Takut saya rasakan. Betapa saya belum punya persiapan. Bisa jadi banyak orang merasakan hal serupa. 

Tapi entah bagaimana kabar kematian itu kadang membuka ruang-ruang kebaikan yang tersimpan. Memberi sebuah inspirasi dan pencerahan bagi saya. Meninggalnya orang-orang baik lebih terdengar seperti kabar bahwa mereka baru saja dapat tiket traveling ke negeri yang jauh. Negeri yang konon indah bagi pelaku kebaikan. Kita belum melihat tempat tujuan itu tapi kita bisa melihat jejak kebaikan yang ditinggalkan oleh mereka sebelum keberangkatan ke sana. 

Saat kematian orang-orang baik, tiba-tiba saja semua kebaikannya seolah dibukakan untuk publik ketahui. Kita tiba-tiba teringat semua kenangan baik dengan almarhum. Dalam tragedi Sriwijaya, kita tak mengenal korban-korbannya. Toh itu tak menghalangi testimoni kebaikan dan kenangan tentang mereka mengetuk rasa kita. Kisah mereka terus mengalir dan kita ikut menyebarkannya dengan penuh simpati. 

Kita mendadak seolah kenal dengan sosok Captain Afwan.  Tulisan tangan dan status whatapps terakhir beliau menjadi pesan terakhir yang dibaca seluruh Indonesia. Kenangan dari orang-orang yang mengenalnya dibagikan. Semua kisah pribadi itu kemudian di share menjadi parade kebaikan dari almarhum yang telah meninggal. 

Dulu semasa hidupnya, kenangan yang hanya milik personal tiba-tiba menjadi kisah bersama. Menjadi pengikat rasa dalam komunitas.

Itu berlaku untuk semua orang yang dianggap baik. Lihat saja peristiwa kematian Didi Kempot misalnya. Saat sudah meninggal tereskpose mendirikan masjid untuk istrinya.  Kontribusi sosialnya dalam menggalang dana sosial dengan konser virtualnya mengharukan semua orang, termasuk saya yang sebenarnya bukan fans. Kepergiannya diantarkan oleh pagelaran kebaikan. Kebaikannya  dipuji dan dirayakan oleh semua orang untuknya. 

Tak perlu menjadi artis atau publik figur untuk ditestimonikan kebaikannya. Seperti kisah guru saya. Saat meninggalnya diantarkan tidak saja oleh  keluarga, rekan tapi juga seluruh siswanya dalam banyak generasi dan profesi.  Orang-orang memujinya sebagai guru, ayah dan suami yang baik. Sesederhana itu.

Hari kematian seseorang  menjadi semacam pagelaran tentang apa yang dilakukannya selama hidup. Tak menyaratkan harus kaya, terkenal ataupun jadi publik figur. Semua orang berhak dirayakan kebaikannya.

Kabar duka memang tidak diharapkan tapi ia mampu membuka ruang-ruang kecil penuh kenangan. Tiba-tiba semua orang yang mengenal almarhum teringat satu dua momen kebaikan. Saya teringat almarhum guru SD saya menghukum saya lari keliling lapangan karena ketinggalan PR. Ketinggalan buku PR dihukum rasanya saat itu saya ingin protes, sungguh tak adil padahal sudah semalaman saya sibuk mengerjakan. Beliau  juga yang memberikan hadiah-hadiah kecil jika kami berhasil menjawab pertanyaan.  Di kemudian hari saya mengenangnya sebagai ajaran disiplin, rewards dan punishment.

Semua cerita mengalir seperti catatan harian.  Orang-orang memberikan kesaksian bahwa almarhum adalah orang baik.  Mirip sebuah parade kebaikan. Kami selalu mengisahkan kenangan-kenangan tiap kali bersama rekan-rekan SD berjumpa.

Parade kebaikan membuat kita merenung ingin seperti apakah nanti kita akan di kenang? Membuat kita yakin bahwa bukan variabel harta, bukan prestasi dan ketenaran yang membuat seseorang di kenang. Melainkan tentang apa yang  telah dilakukan untuk orang orang yang yang kelak di tinggalkan. Untuk siapa semua kebaikan itu dilakukan. Jika karena alasan membahagiakan orang lain maka tak semua orang dapat dipuaskan. 

Kita semua hanya bisa mengucap doa selamat jalan untuk yang pergi. Rasa simpati untuk yang ditinggalkan agar ditabahkan. Kehilangan yang kita rasa menunjukkan pengakuan seberapa baik dan seberapa penting kontribusi seseorang.

Dibalik setiap kabar duka ada ruang kesaksian eksistensi manusia.  Betapa beruntungnya mereka yang parade kebaikannya dirayakan banyak orang. Kepergiannya diantarkan taburan doa-doa.