Setiap kali saya melihat image di atas ini tentang pertemuan antara presiden Abraham Lincoln dan pejabat-pejabat berseberangan lainnya yang tidak sepaham dengan ide Abraham, saya biasa mengagungkan film Satan's Slaves buatan Joko Anwar.

Akhir dari film tersebut mengajariku bahwa sebagai "aibon" dari kota Nabire, Papua juga bisa mengalahkan kuasa gaib; dan bahwa pengkhotbah-pengkhotbah di rumah Tuhan juga manusia biasa semata.

Dalam film itu terlihat, ustaz tidak mampu mengalahkan setan. Tentu, film asal Indonesia, jadi banyak yang mengkritik filmnya dan sutradara secara personal (sebuah tradisi Indonesia; belum sampai telaah atau baca sampai habis, langsung mengkritik mentah-mentah) lantaran bagaimana bisa hamba Tuhan kalah sama si jahat/setan; tidak mungkin.

Dan saya pikir-pikir, oh iya, ya, kalau begitu saya yang aibon—tidak berguna ini juga bisa mengalahkan suanggi meskipun saya tidak punya kuasa berlebihan, hanya bisa mengandalkan strategi, percaya diri, dan kitab suci sebagai bom atom. Mirip presiden Abraham, kehidupannya selalu berbantal dengan Alkitab.

Lincoln yang menjadikan Alkitab sebagai buku ‘hukum’-nya, kekuatan dalam hidupnya, dan perjalanan dunia politiknya, kini Alkitab miliknya selalu digunakan saat sumpah janji presiden Amerika. 

Perlu ingat bahwa suanggi-suanggi yang mengganggu kehidupan orang Papua adalah pemerintahan Jakarta (sistem, kekuasaan, ormas buatan, dan Islam radikal, bukan orang Indonesia), dan bukan seperti setan yang ada di film Satan's Slaves.

Pace-pace Jakarta; Eksekutif, Yudikatif, dan Legislatif, tidak mampu merestorasi kehidupan hantu orang Papua. Terutama kematian masyarakat biasa di Nduga sampai meninggalkan tempat tinggal mereka. Wamena Berdarah yang berdobel-dobel. Jayapura yang tidak hanya dulu Uncen (Universitas Cendrawasih) Berdarah pada 2006, tapi juga kembali kejadian yang sama terulang lagi akhir-akhir ini.

Paniai kembali sapa Jokowi, umur 17, anak SMA dibunuh oleh aparat. Janji kakek Ethes dari Jayapura yang mau menuntaskan pembunuhan anak-anak sekolah di Paniai pada tahun 2014, yang bukannya kasih obat kesembuhan, malah merawat suanggi-suanggi kekuasaan.

Percikan cerita horor di atas ini mewabah ke ranah politik dan dunia akademisi Indonesia terhadap penilaian kemerdekaan Papua. Tuan-tuan mahkamah konstitusi (MK), (wakil Tuhan) dan segelintir akademisi asal Indonesia—(terdidik)—bilang kebebasan Papua adalah ‘mustahil’.

Jika tuan Mahfud MD, seorang Haji beda tipis dengan Lincoln dan pace dosen HI di UI, Hikmahanto Juwana menyatakan dengan tegas, Papua tidak bisa (mustahil) menggelar referendum, saya kira tidak menjadi masalah mengeluarkan pernyataan seperti itu karena tidak ada yang akan membantahnya gara-gara hilangnya sejarah Papua di dunia akademisi.

Tapi ada orang pintar selalu ada dan mendoakan buat kemerdekaan Papua. Siapa lagi bukan pace Wiranto. Pelaku Biak berdarah (pembunuh orang Biak misterius) saja sudah menguasai dan membawakan lagu Rohani Kristen berjudul “bagi Tuhan tidak ada yang mustahil” di hari Natal di RCTI. 

Bukankah lagu itu adalah sebuah dukungan kemerdekaan Papua dan membantah perkataan dari kedua contoh profesor di atas bahwa Papua lepas dari NKRI adalah tidak akan bisa?

Kalau tidak bisa dijelaskan UU tentang referendum, nanti Obama akan menceritakan kenapa dia bisa jadi presiden pertama orang kulit hitam di AS. Jika tidak, tukang kayu Jokowi saja sudah bisa jadi presiden. Jika tidak, kenapa pembunuh-pembunuh orang Papua dan pelanggar HAM Indonesia bisa kasih pangkat sampai langit dan bisa kerja sampai sekarang di lingkaran pemerintahan?

Serta, Puan Maharani saja bisa jadi ketua DPR RI perempuan pertama meski pekerjaan sebelumnya dipertanyakan. Kita jangan baper dengan kejayaan dinasti di pemerintahan RI seperti ini. Kita juga jangan terlalu emosi saat presiden B.J Habibie mengenai pemberian kemerdekaan Timor Leste. Iya, toh?

Semuanya ini mustahil? Tidak, itulah kata-kata anak TK. 

Saya kira pelontar-pelontar ‘Papua merdeka adalah tidak bisa,” mereka umumnya berpuasa dan berdoa buat tanah Papua untuk lepas dari segala penindasan dari sistem negara. Sebab kebohongan dan kemustahilan yang orang menumpukkan banyak-banyak, akan melahirkan bayi mutiara yang tidak terhitung harganya, yakni Papua Merdeka.

Seperti tradisi pembuatan mutiara di dasar laut, makin banyak pasir menutupi, mutiara murni akan melahirkan karenanya. Tidak apa apa juga, orang Indonesia bilang orang Papua tidak akan memimpin dirinya sendiri dan dilabelkan stigma-stigma kepada orang Papua. Sejarah-sejarah sederhana di atas akan menjawabnya.

Lagi, padahal seorang aibon yang tidak pernah sekolah baik, anak dusun dari Springfield, Illinois, AS, Abraham saja bisa menginjak-injak sampai mematikan UU tentang power of slavery di AS, dan kemudian Abraham presiden ke-16 AS mengarahkan anak buahnya (seperti gambar di atas ini) tuk toki palu tentang proklamasi emansipasi—tidak ada yang bergaya bos di antara manusia sebelum hukum/UU—semua orang setara.

Dengan kata lain, kata tra mungkin bisa jadi mungkin, tapi lebih jelasnya ‘mustahil’ adalah sinonim dari ‘bisa’. Barang ‘M’ atau merdeka yang diharamkan dan dikeramatkan oleh Jakarta. Tapi Wiranto bisa kasih tahu ‘bagi Tuhan tidak ada yang mustahil’ lewat pengadilan internasional, bukan?

Saya tidak terlalu mendukung Papua merdeka. Saya punya bapak pejabat, jadi saya mencalonkan diri sebagai Bupati dulu di Nabire—Papua. Baku berkompetisi dengan anak Jokowi, Gibran yang sedang calon wali kota Solo karena semuanya akan bisa, tidak mungkin tidak bisa. Iya, kan?

Kalau ko bilang Bapak Gibran, Jokowi, dan sa pu bapak banting 100 juta untuk membantu kami jadi kepala daerah, semuanya bisa toh? karena Papua Merdeka bisa saja karena Jakarta sendiri mendoakannya. Lalu saya jadi bupati dan Gibran jadi politisi bisa saja karena saya 100 persen meyakini bahwasanya; bagi Jakarta, tidak ada yang mustahil, bukan?