Whatever education we give to the children, it should be constructive and creative. - M. Gandhi

Di tengah perubahan dan perkembangan dunia saat ini, kutipan di atas tentu menjadi sebuah pegangan yang amat sangat relevan. Cara mendidik mungkin berubah mengikuti perkembangan zaman, tetapi esensi pendidikan haruslah tetap membangun jiwa dan semakin memanusiakan para peserta didik. 

Zaman dulu, mungkin belum ada teknologi komputer yang canggih. Guru mendikte, murid mencatat. Kapur tulis menjadi saksi perjuangan para guru mengabdi. 

Saat ini, kapur tulis sudah "dimuseumkan". Layar proyektor. pengeras suara (speaker), dan layar sentuh yang begitu sophisticated menjadi gantinya. Guru dituntut untuk berubah dan berkembang mengikuti pergerakan zaman, menyesuaikan diri dengan generasi milenial yang terbiasa dengan kecanggihan teknologi di sana-sini.

Lantas, kalau dijelaskan di atas bahwa dunia mengalami perubahan, apa yang mesti dilakukan oleh pelaku pendidikan untuk dapat beradaptasi dengannya? Tantangan macam apa yang dibawa oleh dunia yang berubah saat ini? Perubahan macam apa yang mesti dilakukan dalam perjumpaan dengan tantangan-tantangan tersebut? Haruskah mereka diam saja?

Menurut saya, salah satu tantangan abadi dalam dunia pendidikan adalah bervariasinya karakteristik peserta didik dari masa ke masa. Sebagaimana telah saya jelaskan di awal, tidak dimungkiri, hal ini tentu dipengaruhi oleh perkembangan dunia di sekitarnya. 

Saat ini, teknologi dan informasi berkembang pesat. Situasi demikian memberi pengaruh signifikan tidak hanya bagi peserta didik, tetapi juga pada bagaimana proses pendidikan terjadi. 

Dewasa ini, peserta didik sangat akrab dengan dunia teknologi dan informasi yang terus berkembang. Mereka dengan mudah dapat beradaptasi dengan pelbagai tawaran yang disajikan dalam dunia digital. Jari-jemari mereka dengan terampil mengakses platform media sosial yang satu ke yang lain. Mereka inilah yang kerap disebut sebagai generasi milenial.

Berhadapan dengan generasi milenial ini, satu pertanyaan besar dapat diajukan: guru macam apa yang dibutuhkan untuk menemani dan mendampingi mereka? 

Pertanyaan tersebut bukan tanpa sebab muncul ke permukaan, karena sebuah proses pendidikan yang baik tentu membutuhkan kerja sama antara peserta didik dan pendampingnya. Inilah tantangan dunia pendidikan yang aktual.

Dalam tataran psikologis, saya merasa bahwa biasanya muncul rasa takut dalam diri para guru untuk mampu beradaptasi dengan dunia digital yang terus berkembang. Tidak jarang, para guru tidak berani untuk keluar dari zona nyaman mereka. Dengan kata lain, cara-cara mengajar konservatif yang dianggap efektif terus-menerus dipertahankan tanpa memperhatikan mereka yang diajar. 

Untuk itu, langkah awal yang perlu diambil oleh seorang guru untuk mampu beradaptasi dengan dunia digital, juga dengan generasi milenial, adalah dengan rendah hati dan jiwa besar mau belajar menggunakan teknologi yang terus berkembang. 

Bukankah esensi seorang guru memang adalah belajar? Proses belajar ibarat tetesan air yang jatuh dari kran mengisi ember. Tanpa tetesan air, hal apa yang mau dibagikan?

Hal-hal sederhana dapat diupayakan untuk mewujudkan hal ini. Misalnya, menggunakan presentasi yang sudah dipersiapkan dengan gambar dan video yang menarik, mengirim soal-soal latihan atau diskusi melalui platform media sosial tertentu, mengadakan kompetisi foto atau video sebagai nilai tugas terkait materi pelajaran di kelas, dan sebagainya. 

Tentu, dalam banyak kesempatan akan ada kesulitan dan kebingungan yang akan dijumpai. Persis di sanalah, sebagaimana saya katakan sebelumnya, dibutuhkan kerendahan hati untuk belajar, bahkan dari para muridnya sendiri yang lebih berpengalaman.

Memeluk dunia digital dan mengikuti perkembangan teknologi dalam proses pembelajaran menjadi tantangan sekaligus panggilan guru saat ini ketika berhadapan dengan generasi milenial. 

Meski demikian, ada satu panggilan lagi yang tidak kalah pentingnya bagi seorang guru. Sesaat setelah para guru mampu menyelami dunia generasi milenial, masuk melalui pintu mereka, saat itulah para guru punya panggilan lebih untuk menawarkan kedalaman di tengah kedangkalan. Apa maksudnya?

Dunia digital adalah hutan belantara yang luas dan berbahaya. Tidak semua yang ada di dalamnya berdayaguna. 

Terhadap situasi ini, para guru tidak boleh tinggal diam. Mereka harus menjadi garda depan yang memberi teladan para murid untuk tidak takut bertualang dalam dunia digital, tetapi tanpa tersesat di dalamnya. Para guru perlu menanamkan sikap diskret pada para murid. 

Sikap diskret menjadikan para murid tetap mampu bersikap kritis sebagai generasi milenial yang memeluk dunia digital. Dengan demikian, di satu sisi para murid tetap mampu merasakan pengaruh dunia digital dan di sisi lain mampu mengambil jarak untuk memilah dan memilih mana yang baik dan berdayaguna. 

Inilah panggilan mulia para guru milenial zaman ini. Mereka diajak untuk menemani anak-anak zaman ini berjalan dan melangkah dengan berani.

Daftar Pustaka

  • Sastrapratedja, M. Pendidikan Multidimensional. Yogyakarta: Sanata Dharma University Press, 2015.
  • Wibowo, Setyo. Mendidik Pemimpin dan Negarawan. Yogyakarta: Lamalera, 2014.