Kami sangat jarang punya foto berdua yang kelihatan bahagia, dengan senyum mengembang, dan tampak indah dipandang mata serta dipajang di media sosial. 

Mencari momen foto berdua itu rayuannya dimulai dari dibelikan minuman kekinian, kaus kaki merek Stayhoops yang lucu, atau mau temani dia ke toko sepatu. Bagian terakhir ini sering kali membuat saya terharu. Iya, terharu melihat dompet yang terkuras habis demi janji yang terucap saat boleh foto bareng dengan anak yang usianya menginjak abg.

Jadilah koleksi foto saya terbatas sekali. Kalaupun ada foto berdua, sedang tak manis mukanya, punggung-punggungan, atau sibuk dengan gawai masing-masing. 

Tak mudah merayu abg foto berdua dengan ibunya. Dan saya yakin ini bukan hanya masalah saya saja. Setiap ibu dengan anak remaja pasti akan mengalaminya. 

“Saat di SMP atau SMA memang begitu. Nanti pas kuliah mau lagi dekat dengan orang tuanya. Mau temani belanja atau kondangan. Saya pun mengalaminya,” ujar teman kantor yang baru saja menikahkan anaknya.

Seingat saya, waktu di Malang kemarin, kami tak sengaja foto manis berdua di lobi hotel. Kelihatan tulus sebagai ibu dan anak. 

Kali lain, ada satu foto candid yang diambil teman fotografer ketika kami berdua tengah menyeberang jalan. Di frame itu, kelihatan banyak bagaimana saya sebagai ibu berusaha mengayomi anaknya saat menyeberang. 

Baca Juga: Ibu, Aku Rindu

Beberapa tahun lalu, ada foto berdua saat kami sedang nyengir. Ini benar-benar spontan. Karena jiwanya masih tulus kanak-kanak yang belum punya rasa malu foto dengan emak-emak.  

Selebihnya, dari ribuan foto yang kami punya, bagai mencari jarum dalam jerami susahnya untuk mencari foto berdua.

Tidak rukun dalam foto satu frame ini masih berlanjut saat kami berkendara. Dari pilihan lagu di Spotify yang beda genre, hingga ia suka ngomel kalau merasa saya terlalu sembrono nyetir kendaraannya. 

Begitu juga pilihan baju. Dia seenak hati memadankan batik oranye dengan celana jogger hitam dengan garis merah menyala. Sama sekali tidak ada gaya-gayanya. 

Di saat lain, baju merah, celana biru, dan sepatu hijau pupus. Huuuffff.....rasanya pengen tidak kenal dengan gaya tabrakan seperti ini. Satu-satunya paham yang kami sepakati adalah padanan hitam untuk baju atas dan bawah. Ini gaya yang tak pernah salah. Dan kami salaman untuk kesepakatan tak tertulis ini.

Kami hanya bisa rukun lebih lama kalau berdua di dapur. Ia dengan senang hati membantu masak, atau mengambil alih peran saya. Makin unik masakannya, makin sukacita dia membantu. Pun tak segan untuk mencuci peralatan masak sesudahnya. Untuk urusan ini, dia juaranya. 

Atau pesan makanan. Apa pun bisa kami coba, asal enak rasanya. Dan hanya ada dua kata soal makanan untuk kami berdua: enak dan enak sekali.

Dalam banyak hal, memang saya tidak membantu anak saya yang mendekati abg ini. Semua dia kerjakan sendiri, entah bisa atau tidak. 

Urusan pekerjaan rumah dari sekolahnya, misalnya, hampir tak pernah dia tanya ke saya bagaimana mengerjakannya. Untuk pelajaran matematika, mungkin dia tahu benar jawabannya. Saya sedikitpun tak menguasai pelajaran berhitung ini. 

Baca Juga: Ibuku Malaikatku

Dia akan lari mencari opung, pensiunan guru sekolah dasar yang tinggal di kompleks rumah kami. Opung inilah ibu bagi dia untuk mengerjakan tugas-tugas sekolahnya. Karena menunggu saya pulang ke rumah untuk mengerjakan PR berdua itu mustahil saja nantinya.

Meskipun tak banyak membantu, ada satu dua hal sederhana yang dia tetap perlu saya: menggarukkan gatal di punggungnya atau ngepuk-puk punggungnya pada waktu mau istirahat malam. Dia akan tenang kalau punggungnya saya elus-elus hingga tertidur nyenyak.  

Kedua, pagi hari saat selesai memakai seragam sekolahnya, dia akan bilang: tolong. Sambil mengangkat tangan untuk menarik seragam putihnya membentuk lipatan rapi di atas celana seragamnya. Dia akan minta saya merapikan seragam yang dipakainya tersebut. Dan tiap Senin, tambah satu tugas saya, merapikan dasi sekolahnya.

Hanya hal-hal sederhana yang dia perlu saya. Selebihnya, abg ini mandiri dengan keterampilannya sendiri. Sesekali curhat. Itu pun kalau ada maunya. Misalnya saja sedang tertarik dengan teman sekolahnya, dia akan curhat dan ujung-ujungnya minta dibelikan satu-dua barang untuk diberikan kepada teman yang ditaksirnya.

Meski pernah juga kami membeli barang sedikit mahal dan ternyata teman perempuan yang ditaksirnya sudah lebih dulu ditembak teman lain ketika liburan sekolah berlangsung. Telat deh. Padahal barangnya sudah dibeli sebelum liburan, tetapi baru dikasih ketika masuk sekolah kembali. Kami tertawa. 

“Makanya, kalau masih temenan, yang murah saja belinya. Kalau dah pasti jadi pacar, baru yang mahal,” ledek saya. Dia pun tak marah. Barang yang sudah telanjur dibeli harus dikasihkan, bukan?

Meski sekarang abg ini susah sekali diajak untuk menemani kondangan, hubungan kami lebih seperti teman. Kadang saling nyolot. Kadang diam tenggelam dalam buku masing-masing sambil mendengarkan podcast basket favorit kami berdua.

Apa pun itu, thole anakku, kamu tahu ke mana harus mencariku. Aku percaya, di dalam hatimu akan selalu memanggil malaikatmu ibu.