Tahun 2019 akan menjadi saksi perhelatan besar bagi bangsa Indonesia. Pesta demokrasi dan semua hiruk pikuk yang mengikutinya akan dilangsungkan dalam waktu dekat. 

Layaknya laron di musim hujan, janji dan agenda calon legislatif kini mulai memenuhi udara di tahun politik saat ini. Masing-masing calon sibuk berburu dan meramu formulanya sendiri untuk menarik hati pemilih.

Lepas dari perdebatan mengenai siapa calon terbaik yang diharapkan tampil memimpin Indonesa, ada satu pola yang nampaknya sangat mencolok di tahun politik kali ini. Mayoritas kandidat beramai-ramai mengangkat tema ‘millenials’. 

Seorang calon legislatif di Jawa Timur menyatakan bahwa, “... program-program saya ini millenials banget. “. Calon yang lain bersikukuh kalau strategi membuat fans page Facebook miliknya adalah ‘...strategi millenial...’. Istilah millenial menjadi kacang goreng yang laris diolah menjadi beragam hidangan di tahun politik. 

Kondisi ini mau tidak mau menyisakan sebuah pertanyaan penting, setidaknya bagi kita para calon pemilih. Pertanyaan yang sejatinya cukup sederhana: Apa para caleg ini benar-benar memahami siapa generasi millenials?“

Memahami Millenials

Kesalahan paling umum yang nampak dari jargon politik yang menyasar millenials adalah penyederhanaan makna. Millenial dimaknai sama dengan ‘muda’, ‘masa kini’, ‘cool’, ‘media sosial’ dan beragam atribut lain yang intinya kurang lebih senada: Anak muda beserta semangat dan semua kebiasaan mereka. 

Caleg juga salah memahami Millenials sebagai sebuah image alias tampilan semata. Caleg dengan susah payah berupaya membentuk citra bahwa mereka ‘berjiwa muda’ agar bisa menarik para pemilih millenials, seringkali dengan skenario yang canggung dan wagu.

Kesalahpahaman ini pada akhirnya justru mengasingkan generasi millenials yang sebenarnya. Siapa mereka? Walaupun definisi tentang millenials beragam, namun hampir seluruhnya setuju bahwa millenials adalah generasi yang lahir di akhir tahun 1980an hingga awal 2000an. 

Millenial tidak lagi bermakna ‘muda’. Mungkin lima hingga sepuluh tahun yang lalu mereka muda,tapi tidak di tahun 2019 ini. Mereka adalah generasi dewasa awal yang sekarang berupaya membangun kehidupan.

Istilah millenial pertama kali dikemukakan oleh William Strauss dan Neil Howe untuk menyebut generasi yang lahir menjelang perubahan millenium. Generasi yang oleh banyak peneliti dipercaya memiliki karakter percaya diri, inovatif, berorientasi tim, dan melek teknologi. 

Dan sama seperti semua generasi yang lahir sebelum mereka, millenials memiliki masalah-masalah generasional. Masalah yang penyelesainnya seharusnya menjadi fokus utama para calon legislatif.

Masalah Utama Millenials

Perhatikan problem yang menjangkiti millenials di negara lain dan Anda akan menemukan satu warna yang sama. Millenials, yang saat ini memasuki usia 20an, mengalami kesulitan dalam membangun kehidupan mandiri yang ideal. 

Masalah pekerjaan menjadi isu yang paling krusial. Problemnya bukan pada kurangnya lapangan kerja, namun pada kestabilan dan perlindungan kerja. 

Situasi ini merupakan efek dari fenomena gig economy. Sebuah istilah untuk menyebut sistem pasar dimana posisi pekerjaan sementara menjadi sangat umum dan dan kontrak organisasi biasanya lewat pekerja independen berjangka pendek. Gig economy bisa kita lihat dari munculnya layanan angkutan online dan layanan sharing akomodasi seperti AirBnB. 

Bagi beberapa pihak, gig economy merupakan menawarkan kesempatan yang luar biasa untuk mendapatkan penghasilan. Namun gig economy tidak menawarkan kestabilan jangka panjang seperti kontrak tetap dan asuransi kesehatan. 

Banyak bisnis yang dibangun di atas semangat gig economy melihat pekerja sebagai kontraktor independen, bukan pegawai. Ini berarti tidak memiliki kewajiban untuk memberikan asuransi kesehatan, dana pensiun, bahkan pesangon.

Situasi ini diperparah dengan kenyataan bahwa harga properti seperti rumah dan apartemen harganya meroket menembus langit. Kenaikan harga tanah dan bangunan di kota-kota besar seakan tidak terkendali, jauh di atas kemampuan generasi millenial (yang masih harus bergulat dengan rapuhnya posisi kerja mereka). 

Kedua problem ini menjadi alasan banyak generasi millenial yang mengalami kesulitan, atau setidaknya khawatir, untuk memulai membina keluarga.

Berkah dan Kutukan Media Sosial

Rasanya ironis saat memahami bahwa internet  yang menjadi kekuatan dan karakter kental generasi millenial juga memberikan segudang beban bagi mereka. Efek terpaan media sosial ditengarai menyebabkan generasi milenial mengalami tekanan yang lebih berat dibandingkan generasi pendahulu mereka, baik Baby Boomer (140-1960an) maupun Generasi X (1960-1980an). 

Sebuah penelitian hasil kerjasama dari Universitas San Diego dan Georgia menyimpulkan bahwa generasi millenial cenderung lebih bersifat materialistis dibanding generasi sebelum mereka. Millenials cenderung lebih mementingkan materi, penampilan, dan popularitas dibandingkan nilai-nilai klasik seperti penerimaan diri dan komunitas. 

Media sosial seperti Facebook ditengarai menciptakan sebuah tekanan konstan dimana kehidupan personal secara terus-menerus dibandingkan dengan pihak lain, baik secara penampilan, materi, maupun prestasi. 

Penelitian lain dari Universitas West England juga menemukan bahwa kaum millenials, baik laki-laki maupun perempuan, mengalami kegelisahan akut dalam melihat penampilan mereka sendiri. 

Kegelisahan ini seringkali berakhir pada depresi dan stres. Fenomena selebgram dengan ‘kehidupan mereka yang sempurna’ menjadi referensi bahkan idola generasi millenials, yang pada akhirnya meningkatkan ekspektasi dan kekecewaan pada hidup yang menurut mereka ‘biasa-biasa saja’.

Berhenti Mengeksploitasi Generasi

Millenials dan generasi Z harus mulai memandang perhelatan politik sebagai cara untuk memperjuangkan problem-problem dalam kehidupan. Hal ini penting agar millenials tidak hanya dimanfaatkan sebagai jargon atau slogan politik yang bersifat sementara. 

Generasi ini hanya akan dipandang tidak lebih sebagai angka statistik yang ditunggu suaranya, bukan sebagai bagian masyarakat yang membutuhkan sarana untuk didengar dan diperjuangkan.

Proses demokrasi yang ideal memberi ruang bagi seluruh kalangan, termasuk generasi millenial, untuk menyuarakan pendapat dan memperjuangkan apa yang mereka percaya. Untuk itu pertama-tamakaum millenials harus memahami, dan tentu saja menerima, semua kekuarangan dan problem yang mereka hadapi sebagai sebuah generasi. 

Tulisan di atas tentu saja tidak bisa digunakan untuk menyamaratakan problem yang dihadapi millenials. Beragam variabel demografis, seperti lokasi tinggal dan pendapatan dapat menunjukkan warna problem yang bervariasi. Tapi setidaknya tulisan ini bisa mulai membuka ruang diskusi mengenai posisi generasi millenials dan keruwetan politik kita saat ini.