Kenangan bisa menjelma seperti gelombang laut. Diraupnya engkau, mengggulung-gulung. Dan Setelah usai, dia pergi. Kadang terlebih dahulu menghempaskanmu. Bisa jadi pula engkau tenggelam. 

Saat Paleha membuka album foto lama, itu akan menjelma getar lalu menjadi riak ombak, kemudian perlahan membesar semakin besar dan menjadi gelombang. Gelombang kenangan.

Pernah pula Paleha menatap pohon kersen yang rindang menghijau, dan sebentar lagi pohon kersen itu juga menjelma gelombang.

Pohon kersen rindang menghijau itu, tumbuh lebat di lahan yang berfungsi sebagai tempat parkir sepeda motor di mal besar di kawasan kota bagian utara. Paleha mengaku tidak terlalu suka dengan mal, terlalu bingar dan menggoda katanya, dulu. Dia masih mahasiswa saat tak terlalu suka ke mal, mungkin karena saat itu uang jajannya yang terbatas, dan begitu banyak yang ingin dia beli jika ke mal, bisa jadi.

Saat Paleha berpindah kota dan bekerja, dia menghadapi jam kerja yang padat. Dia butuh hiburan, jadilah alasannya untuk mengunjungi mal hampir di setiap akhir pekan. Lagi pula kota besar ini tidak menawarkan banyak wisata out door yang menarik, coba ke Kota Tua misalnya, bikin keringetan. Mal selalu dengan pendingin ruangannya. Sejuk, pikirnya. 

Sabtu siang itu, setelah memarkir  sepeda motornya, membuka jaketnya, Paleha tak segera meninggalkan parkiran dan menuju ke arah pintu masuk yang terletak di bagian belakang mal besar itu. Tadinya dia melangkah kemudian tertahan oleh pemandangan buah-buah pohon kersen yang merah menggantung, begitu ranum. Mungkin di sini orang-orang tidak memakan buah pohon kersen, pikirnya. Jika tidak, tak mungkin buah-buah itu bertahan tanpa dipetik. Ini kota paling padat.

Di masa kecil Paleha, buah-buah kersen yang mulai memerah jadi rebutan bersama teman-temannya, apalagi yang merah meranum. Untuk pohon yang lebih tinggi, kakak lelakinya Bara, menolongnya memetik buahnya.

Masa kecil, masa lalu, adalah potongan-potongan ingatan bagi Paleha. Di suatu desa yang cukup jauh dari kota, Paleha bertumbuh. Di sana masa kecil dan masa lalu itu. Paleha masih ingat bagaimana memukaunya film seri MacGyver, meskipun bukan kategori film anak-anak. Dia juga masih mengingat salah satu bacaan masa kecilnya–tabloid khusus anak-anak. Dan sebulan sekali, dia bersama Tiya kakak perempuannya, akan berangkat ke ibu kota kecamatan untuk membeli tabloid itu dengan setengah harga karena telah habis masa edisinya.

Ternyata teman sekelas dan sebayanya malah banyak yang tidak tahu film seri MacGyver dan tabloid untuk anak-anak itu–tabloid yang katanya kini untuk dewasa. Jika akan berangkat saat matahari sudah tinggi, Paleha dan Tiya akan berteduh di rindang pohon kersen halaman rumah, menunggu angkutan umum menuju ibu kota kecamatan. Angkutan umum itu akan lewat di depan rumah mereka.

Sore itu, Paleha berkunjung ke sebuah Mal seperti biasa di akhir pekan. Samar Paleha mendengar Aubrey, itu adalah lagu kesukaan kakaknya, Bara. Bara memutarnya hampir setiap pagi. Saat itu Paleha masih duduk di Sekolah Dasar dan Bara baru lulus kuliah. Tiga belas tahun jarak usia Paleha dengan kakak pertamanya itu, dan enam tahun dengan Tiya, kakak keduanya. Paleha menyukai lagu yang bukan lagu anak-anak itu. Paleha mengingat masa kanak-kanaknya. Dan itu lagi-lagi menjelma gelombang.   

Di pagi hari saat Bara memutar lagu lawas, Paleha bersiap-siap ke sekolah. Paleha tak punya banyak seragam, setelah dipakai akan langsung dicuci pada hari itu juga, itu pun kalau sempat. Jika baju seragam yang dicuci dan mengering tak sempat distrika pada hari sebelumnya, maka Tiya atau ibunya akan menyetrika seragamnya pagi-pagi sebelum berangkat ke sekolah.

Masih lekat dalam ingatannya setrika merek crown dengan gagang kayu berwarna hijau. Sebuah setrika listrik dengan bobot yang cukup berat. Meskipun setrika itu adalah setrika listrik, tapi sejauh ingatan Paleha, setrika itu dipanaskan tidak dengan menyambungkannya ke listrik, tetapi dengan memanaskannya di kompor elpiji milik ibunya.

Pikirnya saat itu, kabelnya mungkin telah rusak. Durasi mesti diperhitungkan dan mesti sangat hati-hati setiap kali menggosokkan benda tersebut pada pakaian. Tiya dan ibunya sudah hapal betul. Saat Paleha pulang beberapa hari sebelum hari raya, dia masih menemukan setrika gagang hijau itu, sedikit berkarat dan tak terpakai lagi.

Pohon kersen dalam ingatan masa kecil Paleha, bertumbuh di halaman rumah, halaman rumah tetangga, dan juga di halaman sekolah. Pohon kersen di halaman parkir pusat perbelanjaan di kota tempat tinggalnya kini, acapkali mengingatkannya pada masa yang lalu, silih berganti.

Pohon kersen di halaman rumah Paleha telah ditebang untuk pelebaraan jalan di kampungnya. Dan pohon serupa yang tumbuh di halaman rumah tetangga juga telah tumbang untuk pembangunan mini market. Paleha tak tahu pindah kemana tetangganya itu kini.

Pohon kersen juga mengingatkannya pada Bara, kakaknya.

Suatu sore di penghujung tahun di desa tempat tinggal Paleha. Sesekali matahari tampak, bersinar keemasan, kemudian awan menutupnya lagi. Paleha kecil memetik buah-buah kersen yang merah dan ranum. Setelahnya, Paleha duduk anteng di depan televisi, menunggu film seri MacGyver kesukaannya. Sore, buah kersen meranum, dan film seri MacGyver.

Dan sore itu saat matahari cerah keemasan, berita itu pun datang. Yang ada kemudian hanya isak. Paleha kecil dapat menangkap berita duka saat mulutnya sementara melumat butir-butir buah kersen. Di depan televisi yang menyiarkan film seri MacGyver, Paleha menelan buah kersen yang rasanya tiba-tiba menjadi hambar.  

Dia masih penasaran dengan film seri MacGyver yang telah setengah jalan itu, tapi sesuatu yang lebih besar menariknya. Berita tiba-tiba itu mengubah suasana rumah menjadi isak dan seperti mencekam Paleha yang masih kecil.

Setelah itu, Paleha dan Tiya serta orang-orang yang mengenal Bara tak akan pernah bertemu lagi dengannya. Dalam kabar, Bara menjadi salah satu korban. Mereka adalah pekerja yang tertimbun  di perut bumi, di tanah kelahiran, di tanah air, tanah tumpah darah, seperti lirik lagu-lagu nasional–di suatu lokasi pertambangan yang dikelola oleh perusahaan asing.

Dan sore itu matahari cerah keemasan, seperti ingin menutup hari itu dengan sinar keemasannya yang paling murni, seperti penghabisan. Seperti perpisahan.

Setelah kejadian itu, Paleha lupa, kapan persisnya ia terakhir kali menikmati buah kersen.