Prosesi haji dan umrah tidak dapat dipahami hanya dengan melihat pada aspek lahir, manfaat-manfaat kesehatan, maupun efek positif dari interaksi sosial yang di peroleh melalui ibadah ini. Lebih jauh, haji dan umroh harus dipahami dalam kerangka filosofis agar dapat dipahami secara utuh dan benar. Agar kemudian ibadah haji ini bisa menjadi sarana pengembangan diri ke arah yang lebih baik

Dalam perspektif ini, Al Kasani menulis bahwa ibadah diberlakukan karena dua alasan, yaitu kewajiban sebagai hamba dan kewajiban mensyukuri nikmat. Jika puasa dan salat dikerjakan untuk mensyukuri nikmat-nikmat badaniyyah, dan zakat untuk mensyukuri nikmat harta, maka haji adalah penggabungan dari keduanya. Karena, selain melibatkan aspek fisik, haji juga tidak dapat dipisahkan dari biaya yang relatif tinggi.

Didalam pelaksanaan ibadah haji, seseorang harus memenuhi delapan macam rukun didalamnya, diantaranya ihram, wuquf, thawaf, sa’i, melempar jumrah, memotong rambut, mabit, menginap di tanah Muzdalifah dan Mina. Semua rukun haji tersebut diberlakukan tentu saja mempunyai makna tersendiri.

Salah satunya adalah sebagai pengingat akan perjuangan Nabi Ibrahim beserta keluarganya pada saat di Mekkah. Ibadah haji juga mempunyai keterkaitan dengan nilai-niai kemanusiaan universal, diantaranya persamaan, keharusan memelihara jiwa, harta dan kehormatan orang lain, larangan melakukan penindasan terhadap kaum lemah di bidang apapun.

Nilai-nilai kemanusiaan universal itu telah dideklarasikan oleh Nabi Muhammad saw. Ketika berada di padang Arafah. Pada saat itulah Nabi mendeklarasikan tentang nilai-nilai kemanusiaan universal di depan seratus ribu jamaah yang hadir. Karena disanalah mereka seharusnya menemukan ma’rifah pengetahuaan sejati tentang jati dirinya, akhir perjalanan hidupnya, serta di sana pula ia menyadari langkah-langkahnya selama ini.

Disana pula ia menyadari betapa besar dan agung Tuhan yang kepada-Nya bersembah seluruh makhluk, sebagaimana diperagakan secara miniatur di padang tersebut. Kesadaran-kesadaran itulah yang mengantarnya di padang Arafah untuk menjadi ‘arif (sadar) dan mengetahui akan makna keberislaman mereka.

Pada saat Nabi menyampaikan pesan-pesan yang agung itu, beliau berada diatas punggung untanya; al-Qashwa, ketika matahari tepat berada tengah langit bumi Arafah. Kondisi fisik dan mental Nabi saat itu amat paripurna. Beliau meminta seorang sahabatnya: Umayyah bin Rabi’ah, mengulang kata-katanya dengan suara keras agar semua jamaah yang hadir bisa mendengarnya.

Didalam pidatonya itu Nabi saw. memberikan wasiat yang intinya: ““Wahai manusia. Aku berwasiat kepada kalian, perlakukanlah perempuan dengan baik. Kalian sering memperlakukan mereka seperti tawanan. Ingatlah, Kalian tidak berhak memperlakukan mereka kecuali dengan baik”. “Wahai manusia, aku berwasiat kepadamu, perlakukan isteri-isterimu dengan baik.

Kalian telah mengambilnya sebagai pendamping hidupmu berdasarkan amanat, kepercayaan penuh Allah, dan kalian dihalalkan berhubungan suami-isteri berdasarkan sebuah komitmen untuk kesetiaan yang kokoh di bawah kesaksian Tuhan”. “Wahai manusia. Sesungguhnya setan-setan telah putus asa untuk dapat disembah oleh manusia di negeri ini, akan tetapi setan-setan itu masih akan terus berusaha (untuk menganggu kamu) dengan cara yang lain. Setan-setan akan merasa puas jika kamu sekalian melakukan perbuatan yang tercela.

Oleh karena itu hendaklah kamu menjaga agama dan keyakinan kamu dengan sebaik-baiknya”. “Perhatikanlah perkataanku ini. ”Aku tinggalkan sesuatu bagi kamu sekalian. Jika kamu berpegang teguh dengan apa yang aku tinggalkan itu, maka kamu tidak akan tersesat selama-lamanya. Ialah Kitab Allah (Al-Quran) dan Sunnah Nabi-Nya (Al-Hadits/tradisi Nabi).

"Wahai manusia. Dengarkanlah kata-kataku ini dan perhatikanlah dengan sungguh-sungguh. Ketahuilah, bahwa setiap muslim itu adalah saudara bagi muslim yang lain, dan semua kaum muslimin itu adalah bersaudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil hak-milik saudaranya kecuali dengan kerelaan hati.

Oleh sebab itu janganlah kamu menganiaya diri kamu sendiri”. “Ya Allah, sudahkah aku menyampaikan pesan ini kepada mereka..? Kamu sekalian akan menemui Allah. Maka setelah kepergianku nanti janganlah kamu menjadi sesat dan berkhianat, seperti sebagian kamu memukul tengkuk sebagian yang lain”.

“Hendaklah mereka yang hadir dan mendengar khutbah ini menyampaikan kepada mereka yang tidak hadir. Acapkali orang yang mendengar berita tentang khutbah ini di kemudian hari lebih memahami daripada mereka yang mendengar langsung pada hari ini”. “Kalau kamu semua nanti akan ditanya tentang aku, maka apakah yang akan kamu katakan? Semua yang hadir menjawab: 'Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan tentang kerasulanmu, engkau telah menunaikan amanah, dan telah memberikan nasehat".

Sambil menunjuk ke langit, Nabi Muhammad saw kemudian bersabda: ” Ya Allah, saksikanlah pernyataan kesaksian mereka ini. Ya Allah, Lihatlah, mereka telah menyatakan itu. Ya Allah, saksikanlah pernyataan mereka ini..Ya Allah, saksikanlah pernyatan mereka ini.”(HR. Bukhari dan Muslim). Tak lama setelah Nabi Saw, menyampaikan khutbah itu turunlah firman Allah yang disebut terakhir. 

"Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kamu agamamu. Aku cukupkan nikmat-Ku untukmu, dan Aku rela Islam sebagai agamamu". Para sahabat Nabi menunduk, terkulai. Matanya mengembangkan air lalu menetes, satu-satu lalu makin deras. Umar bin Khathab yang jarang menangis tak kuasa menahan desakan air di matanya. Abu Bakar, sahabat nabi yang lain, juga tak dapat menahan kesedihannya.

Ia segera pulang ke rumah, menumpahkan duka dan kesedihan karena seorang kekasih akan meninggalkannya selama-lamanya. Hatinya membisikkan tanda-tanda itu. Beberapa waktu kemudian, Nabi, sang kekasih, orang yang paling dicintai itupun pulang dengan senyum, kembali kepada Dia Yang Menciptakannya dengan cinta. Itulah kurang lebih amanat yang di wasiatkan oleh Nabi kepada seluruh manusia yang hadir pada saat itu. Sungguh sangat penting wasiat Nabi ini.