"Aku ingin jadi seorang guru, mengajar anak-anak hingga menjadi pintar. Kalau kamu, kamu gak mungkin jadi guru.” Ia menghentikan celotehnya, membiarkan aku menanggapi ejekannya.

“Kenapa tidak? Aku juga bisa mengajar dengan baik.” Aku membela diri, memperlihatkan keyakinan melalui wajahku.

“Tak ada guru yang tak pernah mengerjakan PR sepertmu.” Lalu ia lari, seraya tertawa mengejekku, sedang aku tak bisa diam segera mengejarnya bertelanjang kaki meski juga tak mampu berkelit sebab kenyataannya memang begitu. Ah tapi ia nampak semakin memesona, dengan gigi yang berderet sempurna menghiasi senyum manisnya.

“Aku suka melukis, aku akan jadi pelukis hebat.” Aku menghentikan langkahnya, lalu menatap lamat-lamat kekasihku.

“Sungguh?” Lalu ia mengalihkan diri dari pandanganku, lagi.

“Ayo kita buat semuanya terealisasi. Aku jadi seorang guru dan kau jadi pelukis, meski terdengar sedikit aneh tapi tak apa. Kita bisa masuk di kampus yang sama dengan jurusan berbeda,” sambungnya sebelum melanjutkan berlari di tepi laut, memercikan air ke wajahku. Sebuah pohon yang telah mati menjadi saksi, membisu, membiarkan kami menyatukan rindu.

Aku dan Diva telah mengikat hati sejak kali pertama aku pindah ke sekolahnya, kelas 2 SMA aku jatuh hati pada perempuan hitam manis yang selalu menjadi bintang kelas, pandai dan pendiam. 

Sedang aku begitu berbeda dengannya, aku tertinggal jauh dari pelajaran sekolah membiarkan ia mengajariku setiap hari meski tak pernah memahaminya. Bagaimana mungkin aku bisa pintar, sedang wajahnya selalu mengalihkan titik fokusku.

Akhirnya, aku dan Diva masuk di kampus yang sama. Ia tetap sama, pandai sekali dan disukai dosen-dosen di kampus. Diva menyelesaikan studinya dalam rentan waktu tercepat, meraih predikat terbaik dengan IP sempurna. Sedang aku, masih menempuh studi ketika Diva telah merealisasikan mimpinya, ia menjadi seorang guru seperti keinginannya dulu.

“Aku lelah sekali hari ini, dulu aku pikir menjadi guru sekedar mengajar anak-anak lucu saja. Ah, berkas-berkas itu, menyebalkan sekali.” Ia berceloteh di sisi kiriku, menyandarkan dirinya pada sebuah kursi tua. Ia rutin mengunjungiku selepas pulang bekerja, melihatku melukis meski kerap terabaikan. Ia sering kali ngambek tak karuan seperti hari ini.

“Aku bosan, kamu selalu saja mengabaikanku demi lukisanmu yang tak pernah ada habisnya itu.” Ia mengalihkan wajahnya, menarik tasnya dan hendak pergi. Aku menahan langkahnya, menggenggam jemarinya erat.

“Maaf, kau mengenal aku lebih dari siapa pun, Div.” Ia hanya diam, tak menjawab apapun lagi hanya terdengar tangisnya yang tertahan.

“Kau terlalu sibuk dengan duniamu, Vito. Aku sudah 23 tahun, dan kau masih belum kunjung lulus.” Ia masih tak menatapku. Sedang aku hanya mencoba menenangkan, memeluknya dari belakang.

Aku memang lebih lambat darinya, bahkan sangat lambat. Semua ini bukan karena nilai kuliahku yang jelek, hanya saja aku tak ingin lulus dengan embel-embel menyedihkan. Kau tau kenapa, seorang pembimbing akademikku menghentikan lajuku untuk lulus sebab tonjokkanku pernah melesat di pipinya, bukan tanpa alasan. Aku tak suka diam dalam kesalahan, kesalahan yang ia lakukan hari itu.

“Vito, lukisanmu bagus. Kau tak perlu lagi belajar, saya bisa saja meluluskanmu lebih cepat dari yang kau mau.” Ia mengawalinya dengan kata-kata yang membuat diriku ingin terbang.

“Maksud bapak bagaimana ya?” aku memperjelas percakapan kami berdua.

“Aku tertarik dengan lukisanmu, bisakah kau membuatkannya untukku?” ia tersenyum

“Saya bisa lulus cepat hanya dengna membuat lukisan tuk bapak?” aku belum mengerti lebih jauh maksudnya.

“Ia, namun aku ingin kau merahasiakannya bahwa itu adalah karyamu.” Ia menatapku, aku pikir ia bergurau, tapi melihat wajahnya aku tahu bahwa ia serius dengan perkataannya.

“Saya tidak akan melakukannya pak, mohon maaf. Saya permisi.” Aku beranjak dari tempat dudukku meninggalkannya, namun kalimatnya membuatku berbalik arah, menghantam wajahnya tanpa berpikir lagi.

“Bodoh, lukisan sampah itu membuatmu menolak. Terlalu naif.” Itulah kesalahan terbesar yang ia lakukan, aku tak bisa lulus sebab ia yang memegang kendali hingga saat ini. Aku juga tak masuk kuliah, sebab sebenarnya kuliahku telah usai. Hanya karena problematika dengannya, tak ada ruang untukku bergerak. Ah, biarlah ...aku sudah melakukannya dengan benar.

“Aku tak perlu ijazah sampah itu untuk sukses Diva.” Aku berbisik dibelakang rambut hitamnya.

“Tapi sampai kapan? Ibuku sudah mendesakku untuk menikah Vit, sedang kau bahkan belum menyelesaikan studimu, kau hanya tau melukis dan menyimpannya dalam ruang ini.” Ia menarik nafas beberapa detik sebelum akhirnya berbalik ke arahku dan melanjutkan kalimatnya.

“Vit, ini belum terlambat. Kau masih bisa minta maaf pada pembimbingmu itu.” Diva menggenggam jemariku erat, meyakinkan.

“Diva, kau jangan gila. Aku tidak akan mengemis pada manusia brengsek itu. Dia yang harusnya bersujud di kakiku atas kesalahannya. Yang namanya salah itu salah, tak bisa dibenarkan hanya karena itu memiliki kuasa.” Aku membalikan badan, kembali pada aktivitasku, menggenggam kuasku dengan kemarahan.

“Kau terlalu idealis, Vit.” Lalu Diva pergi tanpa sepatah katapun lagi, ia berlari menahan tangisnya yang menganak. Aku juga menangis meski tak mampu mengeluarkan air mata, aku cukup kecewa mendengar ia berkata seperti itu, bukankah ia yang mendukungku sejak dulu ketika dosen itu menginjak-injak harga diriku, lantas sekarang.

Sejak hari itu, Diva tak lagi hadir menemaniku sepulang bekerja. Aku tak lagi mampu mengungkapkan kerinduanku melalui pesan singkat, ia menghilang.

“Diva adalah bagian dari inspirasiku ketika melukis, sebab melukis itu cinta dan sebab aku mencintainya. Ia pergi bukan karena lelah mencintaiku, buktinya ia selalu datang meski hanya memelukku dari belakang, melihatku melukis sepanjang hari. Ia tak pernah lelah meski aku kadang tak menanggapi ia berceloteh. Ia lelah karena keadaan, aku tahu ia masih  mencintaiku.” 

Aku menatap lengang ke depan, memegang dadaku yang terasa sesak. Tak sadar, air mataku meneteskan tegar yang tertahan. Ini kali pertama aku menangisinya, tepat setelah Diva memutuskan tak akan kembali, ia menerima dijodohkan oleh orang tuanya dengan seorang PNS. 

Aku merasa sangat hancur, tak ada yang bisa aku salahkan. Sebab mimpinya dan aku terealisasi menjadi nyata, ia menjadi seorang guru dan aku menjadi pelukis, beberapa bulan terakhir lukisanku diborong oleh seorang penikmat seni dengan harga yang tak murah membuatku memilliki galeri sendiri. 

Aku juga telah lulus dari studiku, aku dibantu oleh dosen lain setelah pembimbing akademik itu tak lagi mengejar karena terserang sakit. Jika saja kesuksesan itu datang lebih cepat, aku mungkin bisa menikmati impian kami terealisasi bersama.

“Aku dan Diva menjadi apa yang kami inginkan, tapi kami tidak bersama.” Aku melanjutkan kalimatku yang tertahan sebab sekilas tawanya tergambar  jelas di sana, ia sedang berlarian dikejar-kejar ombak.

“Sudahlah Vit ...Diva sudah menentukan pilihannya. Kau harus bangkit.” Ranti menepuk-nepuk pundakku menenangkan, ia adalah sahabat Diva dan aku sejak SMA, meski begitu hatiku masih terasa sakit.

“Vito, aku akan membantumu, melupakannya.” Ranti menggenggam jemariku, di atas pohon tua yang mati disertai deburan ombak yang merdu.