Aku melihatmu. Menyimpan lengkung senyummu di saku baju atas nama pagi yang pucat menahan dingin angin yang ditiupkan orang-orang, juga segala yang mereka percaya sebagai hal-hal yang paling benar. 

Kepada matamu yang mereka anggap beda, aku ingin menatapmu berlama-lama.

Berbekal secangkir kopi, remah roti, keripik kentang atau kacang rebus, kita habiskan sore yang dipaksa mengerti rumitnya hari.

Kelak saat kenyataan menjadi api, menjilati tubuhmu, mendidihkan darahmu, pastikan kau tidak sedang tertidur dalam mimpi mereka. Sebab aku menjagamu dalam doa-doa.


Ibu Pertiwi

Aku ingin mencintaimu seperti ibuku mencintaiku. Memberimu harga sepantasnya. Pada wangi tanahmu, gagah ombak lautmu, dan luas langit dengan limpahan udara yang melegakan dada; aku cinta.

Aku ingin mencintaimu dengan leluasa. Dari pagi ke pagi, dari kesedihan demi kesedihan yang mereka tinggalkan.
Aku ingin mencintaimu sebagai mimpi. Dari segala rapuh pikir dan terjangan keakuan diri.
Aku ingin mencintaimu kini dan nanti, saat mereka bilang, "Inilah kemerdekaan itu, nikmatkanlah."


Semacam Demokrasi

Orang-orang sedang berpesta. Tak sederhana. Cukup meriah oleh drama dan pura-pura.

Kubaca basa-basi itu di surat kabar pagi, buku-buku dan status-status yang mereka pikir bergengsi. Kudengar makian bersahutan. Kiri ke kanan, kanan ke kiri.

Di sudut-sudut ruang wangi serupa mawar atau mungkin melati menjadi-jadi. Semakin wangi. Terlalu wangi. Gemetar jarum jam pada angka-angka pasti yang ragu-ragu mengantar rupa-rupa wajah.

Di tanah ini kecemasanku dan kecemasanmu sibuk sekali. Di jalanan kematian tersangkut-sangkut. Benar diyakini salah, salah dipercaya benar. Maut lupa dirinya sendiri.


Tuhan yang Berbeda

"Tuhan yang mana?" Katamu sengit.
"Tuhan kita, sayang? Jawabku pelan sambil tersenyum.
"Bodoh! Tuhanku tak sama dengan Tuhanmu!" Kau bicara nyaris berteriak. Ototmu terlihat jelas, mengakar membelit leher.
Sebentar kemudian napasmu memburu, lalu terengah-engah, lalu bergetar hebat.
Kepeluk tubuh bepeluh cemas itu dan berbisik di telinganya, pelan... "Tuhan kita sama, sayang, kitalah yang membuatNya beda.


Merdeka itu nyata?

Musim menandai dirinya sendiri. Pada derak ranting patah, jejak dibiarkan mengabur.

Beberapa kepala terbentur-bentur. Peraturan-peraturan menjadi jurang. Dinding semakin tebal, setebal topeng yang menyimpan rapuh nurani. Dinding semakin tinggi, setinggi keakuan diri.

Sebab kita tak sama katanya, maka api harus dinyalakan dan angin ditiupkan untuk kebaikan. Serupa bom waktu yang terburu-buru merobek rasa dan pikiran.

Entah pada halaman berapa puja puji memberkati langkah kaki. Kepak sayap menjelma sepi kata-kata. Bibir terkunci janji sendiri. Di tanahku aku sebagai rancu mimpi, sekarat sendiri, lalu mati dalam ingatan kepulan asap kopi tak murni, gerimis, kelokan-kelokan, gelisah mata angin dan gigil kebebasan.


Kau, pkiranmu dan hal-hal yang seharusnya sederhana

Andai saja kau percaya dengan denyar-denyar kasih yang ditinggalkan sejarah. Ia tak berdusta.
Gerimis yang jatuh di musim ini tak salah. Ia hanya penanda bahwa segala adalah kebetulan-kebetulan yang semestinya.
Sungguh seharusnya menerima menjadi penawar luka, hingga tangis tak lagi sia-sia.

Kau menjelma kabut bagi hati, mata dan telingamu sendiri. Limbung di lirih angin, di hafalan buku-buku setebal ingatanmu, di kalender-kalender yang seringnya kau abaikan.

Suatu waktu tawamu pecah di tengah-tengah. Derainya memenuhi pucat siang. Gemanya berdenting di lantai, merambat ke dinding, memekakkan sepi yang paling sunyi. Kesedihan menjadi alasan bagi omong kosong yang tak berkesudahan.

Lalu saat bebal semakin menebal, nasi bungkus dan sebatang rokok adalah panggung bagi kepicikanmu. Bagi orasi-orasi atas nama nurani, bagi surga dengan tujuh bidadari dan bagi rapalan yang terbunuh kata-katanya sendiri. Mati.


Indonesiaku, bahagiakah engkau hari ini? 

Indonesiaku, bahagiakah engkau hari ini?
Ketika orang-orang menerbangkan harap bagi kebaikanmu, entah terang-terangan atau diam-diam.

Indonesiaku, bahagiakah engkau hari ini?
Saat sebagian orang meributkan perbedaan, mengkotak-kotakkan pikiran atas nama bibit, bebet, bobot iman.

Indonesiaku, bahagiakah engkau hari ini?
Sebab lautmu penuh pecahan mimpi, gunungmu muram tersiram kesedihan, tanahmu pekat oleh muntahan janji, hutanmu payah dikepung api dan langitmu sesak menghirup udara bertimbal tebal.

Indonesiaku, bahagiakah engkau hari ini?
Sesungguhnya aku tak sekedar bertanya, hanya memastikan saja apakah anak-anakku masih bisa berulang tahun lagi nanti.