Tepat pada jarum jam yang ke sekian dengkang jam melanglangi kuping ku yang baru saja lena. Entah mengapa entah.

Siapa membangunkan aku dipijarnya malam?! 

Siapa mengangakan tampangnya yang segarang kenang di jejak mataku?

Kau kah itu?

Lalu.... Sia-sia kemari menantang gamang... Ahaiii siang lah kita!

Siang menjadi dermaga yang melayarkan makna-makna. Siang menjadi bila yang menyingsingkan suara-suara. Siang menjadi debu dikarangan kata-kata. Sudah itu, beralih ke masa, beralih ke sana-sini. Sambil membaca beberapa catatan penting ternyata telah banyak hutan-hutan terbakar, jalan-jalan tergenang, akar-akar naik sudah ke atap bangunan. Ombak pasang menyasar ke tangkai-tangkai riang.

Usai itu, lengang membaham riak. Kita dianjurkan diam. Lahap semua ujar sampai akar. Padam.

Sesanggupnya mengekang bagak. Meluncur jua agak sejemang. Lintuh segala badan.  

Pukul 06.26 kembali mendengkang. Sudah lama kita kehilangan tahun. Terlambat dan ngelantur ke jamban-jamban sunyi.

Ku harap hanya sebuah kesalahan menyetel alarm. Jam-jam yang terpasang di rumah terlihat sudah usang, karatan dan sudah sepantasnya diganti dengan yang lebih modis. Sayangnya, tidak cukup efektif. Tidak berdengkang seperti jam lama. Jarumnya sudah berganti menjadi panel-panel futuris. Tidak berdengkang artinya tidak mengingatkan. Lalu kita berleha-leha menghitung badan mengukur untung sampai senteng. Sial!

Jam yang berdengkang ini lahir dari pekat malam. Yang suka mengerinyitkan dahi mandangi mimpi para pemimpi. Seperti kesumat yang menggelegak di matanya. Sesekali ku dengar dari bibirnya semacam tulah, sekali dua kali. Lepas itu, diam.

***

Adakah segalanya berjalan waspada? atau hanya langkah yang abai di linimasa. Ketakutan demi ketakutan makin terakumulasi tanpa terevaluasi. Kota itu masih meminjam hujan untuk menangis dan menyembunyikan bayangan. Masih saja kota yang sedih. Derai gerimis menyulam tampangnya. 

Dari kota ke kota yang tak jauh jaraknya, kita berladang kenang. Menyirami padang  gersang. Tidak bisa direguk manfaatnya dan masing-masing kita terlatih untuk menekur. Membiarkan isi hati mengembang sambil memikirkan siasat apalagi yang akan dijalankan. Kota yang meredam amarah. Ada banyak bara yang tak teredam, sebenarnya.

Masing-masing kepala menyimpan khayali dengan kepala tertekur. 

***

Pada jam yang mendengkang nama-mu. Dengkang yang mendendang. Sungguh tidak tahu diuntung!

Apa kau tahu? Sekarang aku telah jago mengomel. Menceracau pagi sehabis minum kopi dan tentu saja belum tergoda untuk merokok. Masih sama seperti remaja namun bedanya lebih sering meracau saja! Apa kau sudah tua?

Aku masih muda mentah, belum banyak makan asam garam. Tapi mencak-mencak dalam hati sungguh enak! Kau tahu kan bagaimana enaknya karena kau yang mengajarkannya.

Bersantai di beranda sambil menghitung denting ke denting. Susul menyusul menjadi dengkang yang mengingatkan, pernah kau menangis di suatu petang! Aku tersedak karenanya.

Dari denting ke denting, dari dendang ke dendang, semua detik dan lagu asyik mendengkang. Dan kita berbisik saling menyuruh diam. 


LAKI-LAKI YANG KU HARAP TAK PANJANG UMURNYA

Pagi kemarin, ada seorang laki-laki masuk ke rumahku.
Ia meninggalkan benih di rahim Mama dan meninggalkannya untuk melahirkan.
Penerus petaka nan tidak terkata. Lalu Mama melahirkannya.
Petaka itu berenang dalam sukmaku. Yang mengeras dan hening.
Ku bilang, “ia bakal jadi laki-laki. Kurang tanggungjawabnya dan tidak mengerti matematika!”
Benar kata ku. Cepat sekali ia bertumbuh. Kini digotongnya lah aku menuju pintu rumah.
Dalam goyah, aku dengar Mama meringsak sakit gigi, sakit punggung, juga kehilangan minat membaca.
Gawat. Rel waktu seperti melebar, lamban sekali. Sedang ia bertumbuh semakin kencang.
Tahun ke tahun, kita semakin tua namun makin lincah menari. Mama masih sakit gigi.
Sudah siang, hari ini. Petaka sudah bisa memasang dasi sendiri. Ia janji akan pulang makan siang
Doa-doa kami ditaruhnya di dalam kopernya yang dibelinya di Perancis.
Kita sudah biasa melihatnya membawa barang mewah dari luar negeri, termasuk obat sakit gigi Mama.
Sering ia bacakan sajak cinta dari India, dari Aljazair dan diujung pembacaannya dititipkannya pesan.
Ia bilang, “Ke mana kita menuju mama? Sudah telatkah kita?”
Dua tahun yang lalu, ia belikan jam di Amerika. Namun kita sudah terlepas dari sayap waktu
Kita sudah tak terbawa waktu. Sakit gigi mama abadi. Mama bilang petaka ini yang mengakibatkannya!
Ternyata siang ini ia tak pulang makan siang. Seperti siang-siang yang lalu.
Mama yakin ia terjun ke politik.
Malam menjelang. Hari-hari terasa panjang karena direkatkan gerimis petang.
Tak ada kunang-kunang juga harapan yang datang. Terkecuali petaka yang sudah pulang.
Ia membawa gadis yang dikenalnya di Thailand ketika berbisnis udang.
Ku rasa ia akan bersumpah akan menikahi gadis itu dan berakhir di rumah ini seperti kami.
Satu hal yang ku tahbiskan di dalam doaku “Semoga laki-laki ini tak panjang umurnya!”
Namun ia tidak tahu doa itu yang ia bawa di dalam kopernya.