Manusia secara naluri memiliki insting untuk "melawan" dikarenakan faktor perbedaan pendapat, perbedaan pengalaman, perbedaan usia, perbedaan latar belakang, dan perbedaan apapun itu yang pada intinya semua itu adalah kepentingan individu sebagai aktor sosial. 

Secara psikologis, menurut Sigmund Freud, manusia memiliki tiga elemen kepribadian atau yang lebih dikenal dengan psikoanalisa, yaitu Id, Ego, dan Superego.

Id adalah prinsip kesenangan dimana individu perlu menyalurkan represi-represi yang menyebabkan rasa tidak nyaman, gerah, atau mengganjal yang biasanya bersifat fisiologis. Bila ditarik lebih jauh, Id sebenarnya tidak hanya berkutat dalam ranah fisiologis tapi ia bisa lebih universal misalnya dalam ranah Idea.

Ego adalah prinsip realitas, individu memiliki hubungan Resiprocy (Timbal Balik) antara dia dan alam serta dia dan individu yang lain. Setiap penyaluran Id dari individu tentunya akan berdampak kembali kepada individu itu sendiri baik berdampak secara positif (penerimaan) maupun negatif (penolakan) karena Sunnatullah alam dan kepentingan dari individu lain atau biasa dikenal sebagai "interaksi".

Superego adalah bagian moral atau etika dari kepribadian yang didapat dari orang tua, masyarakat, dan penentuan nilai benar atau salah dalam segala sesuatu yang bisa menjadi pendukung atau antitesis bagi Id dalam ber-"interaksi".

Inilah yang nantinya disebut Pierre Bordeau sebagai Human Capital bagi individu untuk ber-vita activa (bertindak) dan ber-vita contemplative (berkontemplasi) dalam membentuk identitas sosial atau bergerak otentik (Arendt, 1958).

Selanjutnya, Pierre Bordeau juga mengemukakan gagasannya mengenai Habitus atau pembentukan relasi sosial yang berawal dari proses Eksternalitas atau pengenalan indentitas, gagasan,cita-cita dari Individu kepada individu yang lain, lalu Internalitas atau reaksi dari individu yang lain, dan yang terakhir Objektivitas atau pemahaman individu dari arti reaksi yang ia terima. Sehingga tercipta relasi sosial bagi individu.

Dari Psikoanalisa Sigmund Freud dan Habitus Bordeau, ada satu faktor yang mampu mematahkan Ego menjadi interaksi satu arah dan merubah Superego menjadi unsur pembenaran yang akhirnya membuat  Id menguasai kepribadian dan menjadikan Individu Thagut (tiran) terhadap dirinya sendiri, ia adalah Nafsu. Manusia memiliki Akal dan Nafsu yang menjadikan ia Sempurna, Individu sebagai oknum Manusia tentunya memiliki hal ini.

Maksud Thagut disini adalah Individu yang menolak mencari Objektivitas dari proses pembentukan relasi sosial sehingga terciptalah  kelompok interaksi oposisi dalam relasi sosialnya.

Contoh, dalam kelas perdana semester satu Individu sebagai mahasiswa baru melihat teman-teman yang memiliki kepribadian, latar belakang, hobi, bahkan paras yang berbeda-beda di dalam kelasnya Individu yang Thagut akan memilih teman-“bermain” yang "kolusif" dengannya entah dalam aspek apapun itu karena dengan itu akan memudahkan penyaluran Id-nya.

Hal ini akan terus berlanjut seperti dalam pembentukan kelompok tugas, Individu akan lebih memilih teman-“bermain”-nya untuk menjadi anggota kelompok tersebut.

Sifat Thagut ini bagaikan bola yang tidak memiliki sudut, akan terus berlanjut seiring waktu dan keadaan seperti kausalitas yang terus menerus melahirkan peristiwa-peristiwa.

Organisasi sebagai objek penerapan Habitus sebenarnya juga merupakan implikasi dari Thagut itu sendiri karena menciptakan orang-orang yang hanya bergerak dalam suatu tujuan dan dirantai oleh AD/ART atau Konstitusi yang berlaku di organisasi tersebut.

Tapi bukan itu intinya, hubungan individu sebagai anggota organisasi adalah bersifat pengabdian terhadap organisasi bukannya timbal balik sehingga akan menimbulkan kesadaran untuk terus membangun organisasi terlebih khususnya untuk organisasi non-profit, organisasi kemahasiswaan internal kampus, ataupun organisasi kemahasiswaan eksternal kampus, dll.

Sifat Thagut individu merupakan permasalahan terbesar bagi organisasi karena menghambat perkembangan dengan menimbulkan perpecahan dan tidak memberikan solusi.

Peristiwa ini terjadi karena aktor melihat organisasi bukan lagi berdasarkan tujuannya tetapi berdasar hal lain yang subjektif sehingga ia menolak segala bentuk Objektivitas dengan pembenarannya sendiri. Hal lain yang subjektif itu contohnya seperti yang dikatakan Bordeau bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa adanya upaya Distingsi (perbedaan) untuk mendapat pengakuan.

Upaya Distingsi muncul karena seorang Individu dalam satu Kelompok Besar merasa bahwa dia "sama" dengan Individu yang lain sehingga tidak ada wujud otentik terhadap dirinya sendiri. Hal ini tentunya mempermudah Individu tersebut untuk menyalurkan Id-nya dalam mencari pengakuan.

Yang paling buruk adalah jika Individu yang Thagut di dalam organisasi ini akan mencari cara untuk mempermudah penyaluran Id-nya salah satunya dengan menjalin relasi dengan individu lain yang sama dengannya .

Jika mereka membentuk kelompok separatis mereka akan menimbulkan perpecahan dalam organisasi hal ini memang terkesan apriori namun patut diperhitungkan karena organisasi merupakan kumpulan pemikiran abstrak yang dirantai AD/ART atau Konstitusi Organisasi.

Jika mereka hanya membentuk teman-“bermain” itu juga akan menimbulkan permasalahan yang abstrak tanpa solusi bagi organisasi. Inilah yang dimaksud penulis sebagai dorongan Nafsu yang merubah Ego menjadi interaksi satu arah dan merubah Superego menjadi unsur pembenaran.

Yang biasanya menjadi kausalitas dari sifat ini dan sering dijumpai adalah persoalan komunikasi entah karena keterbatasan akses, ketidaksengajaan atau bahkan karena kesengajaan sebuah organisasi yang mengalami Persoalan Komunikasi sebenarnya mengalami masalah besar.

Bagaimana sebuah organisasi dapat dikatakan organisasi jika individu-individu di dalamnya tidak terorganisir, oleh karena itu penulis sendiri tidak mampu memberikan solusi kongkrit dari permasalahan ini.

Karena solusi sederhananya dikembalikan kepada masing-masing individu sebagai Kader dari organisasi yang sadar akan Hak dan Tanggung Jawabnya serta mampu menahan dorongan nafsu mereka sendiri dalam hal apa pun itu.