Tak mudah merangkai ide menjadi kata. Di samping butuh latihan ekstra nan serius, pun perlu pemahaman memadai bagaimana mestinya mengorganisasikan ide—semacam keharusan sebelum menjelmakan ide-ide ke dalam satu bentuk tulisan utuh.

Dalam sesi Pelatihan Menulis Qureta di Jambi, Daru Priyambodo memberi penjelasan komprehensif terkait itu. Menurut Redaktur Senior Tempo ini, organisasi ide layaknya kompas bagi para pelancong, pedoman arah agar tak nyasar.

“Kadang orang kesulitan menyelesaikan tulisan. Karena apa? Tidak adanya persiapan panduan sebelum menulis. Ide-idenya jadi nyasar ke mana-mana.”

Ibarat pelancong yang ingin bepergian dari Jambi ke Palembang, misalnya, maka yang paling utama harus diketahui terlebih dahulu adalah arah jalan menuju ke sana.

“Kalau tak paham arah, tentu potensi nyasarnya lebih besar. Begitulah fungsi utama organisasi ide.”

Sebagai langkah awal, ada beberapa tahapan penting dalam organisasi ide yang Daru paparkan ke peserta. Yang pertama adalah menentukan angle, fokus, atau topik tulisan.

“Kunci penulisan itu ada di sini. Tidak semua peristiwa layak ditulis. Tapi, sebuah peristiwa lama bisa saja diangkat jadi sebuah esai. Ya, asal ada sesuatu yang baru dari segi anglenya.”

Angle pun, lanjut Daru, membantu para penulis esai yang minim perbendaharaan kata. Sebuah angle, baginya, meredam kebosanan pembaca atas kata-kata yang melulu dipakai para penulis dalam merangkai ide-idenya.

“Kita tahu, kelemahan penulis esai, jika dibanding dengan wartawan, adalah cenderung menggunakan kata yang itu-itu saja. Ini yang membuat pembaca jadi bosan. Karenanya, permainan angle penting jadi keutamaan.”

Setelah menemukan tema, angle sudah ditentukan, maka langkah selanjutnya adalah membuat rincian ide-ide apa yang saja yang nanti akan tertuang dalam sebuah tulisan.

“Rincian ini berbentuk outline. Tuliskan saja poin-poin yang akan kita sampaikan ke pembaca. Urutkan mulai dari yang penting sampai yang paling tidak penting.”

Serupa dengan organisasi ide, outline ini pun merupakan sejenis panduan. Ia adalah rambu-rambu penuangan ide, sebuah urutan pemikiran, bahan baku untuk menulis.

“Jika angle adalah tujuan perjalanan, maka outline adalah rangkaian jalan yang akan mengarah ke tujuan itu. Outline membantu kita untuk melantur dalam menuangkan ide.”

Langkah berikutnya adalah menuliskan ringkasan keseluruhan poin yang sebelumnya telah dipetakan dalam outline. Ringkasan ini, menurut Daru, berpotensi jadi paragraf pertama.

“Ringkasan itu nantinya bisa dipakai jadi lead tulisan. Lead adalah jendela pemancing agar orang terus mau membaca.”

Untuk soal penentuan lead, beberapa karakternya pun harus penulis perhatikan. Semisal, lead harus ringkas dan tidak bertele-tele. Tepat, enak dibaca, dan menarik.

Selain itu, lead sebisa mungkin juga harus menggunakan kata-kata aktif, yang dinamis, menunjukkan adanya gerakan. Jangan sekali-kali membuat lead dengan kalimat seperti, misalnya, “Dalam rangka...”, “Setelah itu...”, “Pada suatu hari...”, dan kalimat-kalimat sejenisnya.

“Gaetlah pembaca sejak awal. Tentukan mana kata yang lebih mampu menyeret perhatian ke kata selanjutnya. Itu fungsi lead.”

Di bagian yang lain, Daru juga menyampaikan banyak soal perbedaan antara opini dengan berita, juga posisi esai dalam segala jenis kepenulisan.

“Jika berita menginformasikan sesuatu berupa fakta, berprinsip 5W-1H, maka opini adalah tulisan yang mengandung pendapat penulis. Dalam berita, wartawan dilarang membuat opini. Sementara, dalam opini, meski berpendapat, tetap harus didukung dengan argumen.”

Adapun esai, lanjut Daru, nyaris serupa dengan opini. Ia juga berisi pendapat dari penulis. Meski demikian, yang paling membedakannya dengan opini adalah esai ditulis dengan narasi yang lebih reflektif dan kontemplatif.

“Reflektif itu ada renungan di dalamnya. Misalnya, kenapa ya orang kok masih banyak percaya bahwa perilaku manusia bisa dilepaskan dari penggunaan kertas? Jadi, ada narasi yang lebih bersifat reflektif di sana.”

Lalu, seperti halnya pada opini, esai pun berisi pendapat penulis dan argumen pendukungnya. Sebab, menurut Daru, seorang penulis esai yang baik adalah yang mampu memasukkan dasar-dasar argumen dalam tulisannya, yang tak mesti aktual tapi mengandung angle yang baru.

“Enaknya nulis esai karena penulis diizinkan untuk kental dengan subjektivitas. Dalam esai, kita boleh mencela siapa pun, memuji siapa pun, asal ada argumennya. Tidak harus faktual. Tidak harus faktanya ada.”

Akan tetapi, tegas Daru, meski tidak melulu berdasar fakta, tapi ide-ide yang dituangkan di dalamnya tetap harus berasal dari fakta.

“Esai memang harus berangkat dari fakta. Ya, walaupun tidak harus faktanya itu terjadi sekarang. Bisa saja kejadian sebelumnya.”