"Orang utan itu dibunuh, dimasak dan disantap di kamp perkebunan sawit milik perusahaan PT Susanti Permai, Kecamatan Sei Hanyo, Kabupaten Kapuas, pada 28 Januari  2017 lalu"

Salah satu kutipan portal online tentang bagaimana orang utan dibunuh secara biadab yang terjadi di Kabupaten Kapuas 2017 silam. Seakan makluk di bumi hanya manusia. Lantas apakah kekuasaan memiliki HAM membuat manusia menjadi makhluk yang angkuh dan sekeji ini?

Sayang sekali orang utan tidak bisa berbicara, ketika kerumunan manusia asik berdemonstrasi. Berteriak lantang menyuarakan ketidakadilan di negeri ini sembari berkata “Kami butuh keadilan, kami tidak buta, dimana letak keadilan di negeri ini!,” tuturnya dengan lantang. 

Orasi frontal menyuarakan keadilan dan  Hak Asasi Manusia (HAM). Menuntut atas keberadaan hak kodrati pemberian Tuhan. Lalu bagaimana dengan orang utan, bukankah orang utan adalah makluk ciptaanNya yang dikarunia untuk hidup di dunia. Namun apakah mereka sudah dilindungi oleh hak asasi juga, adakah  manusia peduli dengan nasib mereka? Yang peduli tersebut slogan atau memang dari hati?

Ataukah kita terlalu menutup telinga ketika orang utan  berbicara. Berbahasa yang tidak dapat diterjemahkan oleh akal manusia. Sebenarnya mereka meminta keadilan dan kita acuh dengan membudegkan diri. Ataukah bila orang utan ini dapat berbicara layaknya manusia mungkin saja mereka akan meminta hak asasinya dilindungi layaknya manusia. Ingat itu.

Kekerabatan orang utan dengan manusia sangatlah dekat. Kesamaan yang muncul ketika DNA yang dimiliki memiliki persamaan hampir 96,4%. Jadi jangan marah ya kalau kita memang bersaudara dengan orang utan termasuk penulis hehehe

Namun keberlangsungan hidup orang utan sangat memprihatinkan. Habitatnya yang sudah rusak karena dijadilakn lahan warga dan perkebunan sawit. Banyak kasus pembukaan lahan sawit di daerah Sumatera dan Kalimantan yang ikut memusnahkan orang utan ini.

Pemerintah lebih suka untuk membangun jalan-jalan besar dengan lantang suara berkata sebagai program mensejahterakan rakyat. Menanam sawit yang katanya komoditas unggulan. Menghalalkan beragam cara. 

Negeri ini indah ketika dulu dikatakan serpihan surga dan paru-paru dunia. Kini hutan negeriku sudah botak, gundul, dan tandus. Karena mungkin hutan tidak menghasilkan dollar seperti sawit. 

Hutan juga hanya bisa diam ketika dibakar. Hanya bisa diam ketika ditebang dan digergaji, mereka hanya bisa meronta dan menangis ketika manusia melakukan hal tersebut. Hutan-hutan yang dulunya sebagai penjaga ekosistem telah habis dilahap jadi kebun sawit. Lantas pohon-pohon ini bukankah juga perlu keadilan?

Sementara habitat orang utan berada di dua pulau besar di Indonesia, Sumatera dan Kalimantan. Forum Orang utan Indonesia (Forina) mengklaim total orangutan di Kalimantan diperkirakan tersisa 57.000 ekor. Sementara di Sumatera hanya sekitar 14.000 ekor.

Keberlangsungan mamalia bisa dikategorikan memprihatinkan. Lambat laun bila manusia masih saja serakah dengan nafsunya. Mungkin saja anak cucu kita hanya bisa melihat orangutan dari pencarian google atau video di YouTube. Dengan pertambahan luas pemukiman manusia dan lahan perkebunan sawit tiap tahun yang semakin luas telah merampas hak-hak hidup orang utan. 

Pemburuan orang utan yang dilakukan manusia lantaran mamalia ini diklaim merusak lahan pertanian mereka. Tentu tidak mungkin ada asap bila tidak ada api. Orang utan harus mencari makanan dari pemukiman pertanian warga. Sebab di hutan apa yang harus mereka makan? Orang utan adalah pemakan buah-buahan dan daun-daun muda. Ketika rumah dan sumber makanan musnah mereka harus makan dengan apa? Sawit?

Selain dibunuh anakan mamalia ini turut dijual-belikan. Untuk mengambil anak orang utan pemburu harus membunuh orang utan dewasa  bayinya yang kemudian dijual dalam perdagangan hewan ilegal internasional.

Meskipun perlindungan orang utan telah diatur dalam undang-undang. Keberadaan hewan mamalia ini  Undang-Undang 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Dengan penegakan hukum yang masih lemah kita berharap pemerintah mau membuka mata akan perlindungan hewan-hewan langka.

Ia adalah mamalia yang unik sebenarnya, cerdas. Orangutan dapat menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuk mengambil makanan, dan menggunakan daun sebagai pelindung sinar matahari.

Kesamaan yang ada dengan manusia, cerdas mana kelakuan anggota dewan dengan orang utan? Orang utan yang berperilaku layak manusia atau anggota dewan berperilaku layaknya kera atau orang utan, jingkrak-jingkrak tidak jelas upss. 

Ancaman masih datang. Sebuah rencana untuk membangun jalan besar melalui Ekosistem Leuser di bagian utara Sumatera saat ini mengancam habitat orangutan. Jalan raya ini setidaknya akan memotong Ekosistem Leuser di sembilan tempat dan unit-unit habitat tambahan orangutan di bagian utara yang lebih jauh. 

Diperkirakan jika jalan raya tersebut dibuat melintasi kawasan hutan, penebangan liar pun akan semakin meluas sehingga meningkatkan ancaman terhadap habitat orang utan Sumatera. 

Meskipun orang utan bukan manusia, namun ia adalah makluk hidup. Makluk yang diciptakan Tuhan secara kodrati diberikan hak untuk hidup. Namun manusia selama ini terlalu rakus. Rumah, jalan, gedung tinggi, pabrik, sampah, semua dibuat semaunya.

Seakan manusia raja di bumi ini, sebab hidup kita berdampingan dengan makluk lain. Mempertahankan nafsu dan keji memperlihatkan kita ini egois. Mentang-mentang manusia punya HAM semaunya sendiri. Orangutan juga ingin hidup, ingin bisa makan, ingin bisa bereproduksi, Orang utan juga butuh Hak Asasi.