Pernyataan Raline Shah yang ‘susah berakting sebagai orang miskin’ dalam film Orang Kaya Baru mendapat perhatian publik dan kritik dalam beberapa waktu terakhir. 

Pernyataan itu, yang Raline sampaikan dalam jumpa pers film ini Oktober 2018 lalu, dianggap tidak empatik terhadap kelompok ekonomi lemah. Rupanya, sangat disayangkan, cara pandang problematik ini terefleksi juga dalam keseluruhan film besutan Ody C Harahap yang ditulis Joko Anwar tersebut.

Film berdurasi 90 menit ini menceritakan keluarga beranggotakan ayah, ibu, Duta, Tika, dan Dodi, yang hidup sederhana di Ibu Kota Jakarta. Ketika satu hari ayah meninggal, keluarga ini mendapatkan rezeki nomplok 30 miliar yang selama ini disembunyikan ayah karena ingin mengajarkan ‘kesederhanaan’. 

Dengan kekuatan finansial itu, mereka menjadi orang kaya baru yang menghadapi gegar budaya sekaligus konflik lain yang ditimbulkan kekayaan mereka.  

Film ini saya akui menyajikan sederet lelucon yang inklusif bagi semua. Adegan salah kaprah pemilik restoran bule ternyata orang Padang buat saya fair. Apalagi adegan Pak Tarno yang muncul sebagai cameo berhasil mengundang gelak tawa seisi teater.

Di satu sisi, film ini memang berhasil melewati jebakan poverty porn di mana film yang memasukkan unsur kemiskinan biasanya mengeksploitasi kesulitan hidup dan air mata. Karya ini tidak. 

Film ini pun mampu menyelipkan unsur intrinsik bahwa uang tidak menyelesaikan semua hal, uang mendatangkan teman-teman palsu yang mencari keuntungan, dan nilai tertinggi adalah keluarga.

Namun, di sisi lain, film ini menggunakan cara pandang yang menertawakan kesenjangan dan menganggapnya sebagai suatu hal yang wajar. Hal ini berbahaya karena kita dirabunkan ketika melihat ketidakadilan ekonomi yang sebetulnya terjadi dalam realitas kita. 

Stephen Pimpare dari University of New Hampshire, Amerika Serikat, pada 2017 merilis buku Ghettoes, Tramps, and Welfare Queens tentang bagaimana orang miskin ditampilkan dalam film-film AS, termasuk produksi Hollywood. 

Dia meriset 299 film AS dari 1902 - 2015 dan menemukan bahwa film kerap salah menampilkan orang miskin: tidak berpijak pada realitas, terjebak stereotip orang miskin karena malas, dan dengan mudahnya beranggapan orang miskin bisa kaya dengan kerja keras (yang dikenal sebagai bootstrap narrative)—padahal, menurut Stephen, kemiskinan itu kompleks dan butuh ‘perubahan kebijakan’.

‘Kampungan’ sebagai Objek Humor

Tampaknya kegagapan itu pula yang dilakukan film OKB. Karya artistik ini menempatkan karakter keluarga miskin sebagai ‘si liyan’ yang ditertawakan karena perilakunya yang dianggap norak. 

Sebut saja adegan ketika mereka membeli rumah seharga 8 miliar dan mandi bersama di bath tub yang selama ini hanya bisa diidamkan.

Antusiasme mereka untuk mencoba dan membeli fasilitas papan atas mungkin ‘kampungan’ bagi sebagian orang. Tapi bukankah itu menjadi ekspresi kebahagiaan yang wajar ketika seorang manusia lepas dari ketidakadilan ekonomi yang selama ini dialaminya? 

Selain itu, istilah ‘kampungan’ sendiri menunjukkan penghakiman angkuh dari kelas atas kepada kelas bawah yang berusaha mengadopsi gaya hidup orang berduit.

Kenapa kita harus menganggap lucu ketika sebuah keluarga, yang hidup dengan keterbatasan sumber daya seumur hidupnya, mengalami gegar budaya ketika tiba-tiba memiliki akses terhadap barang-barang mewah? 

Barangkali kita menganggapnya aneh, tidak alamiah, karena kita belum pernah ada di situasi ekonomi sulit seperti itu. Hal ini bukanlah lelucon bagi jutaan orang Indonesia yang sejak lahir hidup dalam kemiskinan struktural, itu tetap jadi angan tapi selamanya tidak dapat dicapai. 

Penempatan ‘kampungan’ sebagai bahan tertawaan ini dikuatkan dengan ‘kemiskinan’ sebagai objek humor. Misalnya adegan di mana Dodi, yang sepatunya sudah rusak berat, dianggap lucu teman-teman sekelasnya. 

Bahkan, teman sekelasnya pernah memberikan sepatu kepada Dodi yang ternyata dicolong dari masjid sekolah. Kisah ini menampilkan orang miskin yang ditertawakan oleh, bukan bersama, orang kaya. 

Mengaminkan Privilege Orang Kaya

Narasi ini diperparah dengan celah kedua dari film OKB, yakni mengaminkan privilege atau keistimewaan yang dimiliki orang tajir. Ketika orang kaya baru jadi bahan cemoohan film ini, orang kaya lama justru melenggang bebas dari kritik dan konsekuensi.

Sejumlah adegan menampilkan Tika dan Dodi awalnya menjadi objek cemoohan dan perisakan oleh teman-temannya yang kaya. Kemudian perilaku jahil dan ketus lingkungan sebaya ini hilang ketika Tika dan Dodi sudah bergelimang harta. 

Sangat disayangkan, film ini tidak menyajikan ‘ganjaran’ bagi tokoh-tokoh jahat yang seolah mengaminkan bahwa orang kaya dengan imunitasnya berhak berbuat apa saja kepada yang miskin. 

Tanpa disadari, cerita itu mengajari pula bahwa seseorang baru ‘bisa diterima’ ketika dia sudah punya harta, dan bahwa kekayaan adalah sarana validasi sosial dan pembalasan dendam.

Anda mungkin bertanya, dari mana harta 30 miliar dalam film itu berasal? Tokoh ayah mendapatkan warisan orangtuanya. Titik. Tidak jelas apakah itu berkat usaha terdahulu, korupsi, atau memang lahir dengan Rupiah tanpa nomor seri.

Adapun dua tokoh ‘sederhana’ yang bekerja keras, seorang sahabat Tika dan pria yang dekat dengan Tika. Meski mereka digambarkan rajin dan punya etos kerja tinggi, tidak diceritakan apakah kehidupannya membaik. 

Seolah-olah kemiskinan adalah kondisi statis yang menjadi takdir, kecuali anggota keluargamu menyembunyikan warisan miliaran Rupiah.

Yang kaya mendapatkan berbagai kemudahan, yang miskin harus bekerja keras tapi tidak mendapatkan apa-apa. Pada tiitk inilah ketimpangan ekonomi telah secara telanjang ditunjukkan film ini dan jadi bahan tertawaan. 

Hal ini memang lucu seandainya Anda bukan sobat miskin, kemiskinan bukan realitas di sekitar Anda, atau Anda seperti Raline Shah yang hidup dalam keistimewaan sejak dalam kandungan.

Pada akhirnya, saya bukannya anti-komedi. Komedi adalah mekanisme manusia dalam menghibur diri mengahadapi keterbatasannya. Komedi tentu dapat pula dinikmati oleh kelompok ekonomi lemah untuk menertawakan ketidakadilan yang dihadapinya. 

Namun ingat, si miskin harus tertawa bersama kita, bukan ditertawakan oleh kita. Seperti itulah seyogianya ‘Orang Kaya Baru’ memasukkan unsur kemiskinan dalam karyanya. 

Film punya tanggung jawab untuk menyadarkan masyarakat akan masalah di sekitarnya. Jangan malah mewajarkan masalah sosial seraya meraup keuntungan dari khalayak.