Pernahkah terlintas di pikiran semua umat manusia, bagaimana rasanya menjadi orang yang buta mata, tapi tidak tuli? Ia tentu punya hak juga mengemukakan pilihannya melalui pencoblosan/sejenisnya dalam pemilihan.

Kali ini kita tidak akan membahas tentang teknis pemilihannya di TPS atau apapun sejenis demikian. Mari merenungkan, apakah pernah kita menanyakan bagaimana cara orang buta menentukan sikap dalam memilih. 

Penulis pernah membayangkan, jika kita berada di posisi mereka ( buta mata, tapi tidak buta hati) pada saat pemilihan, saya akan mendengarkan mana visi misi yang rasional. Memilih pemimpin tidak musti yang beragama, tapi ialah yang menjunjung tinggi keberagam-an. Seandainya si buta ini memilih berdasarkan agama, dari mana ia bisa percaya karena ia tidak bisa melihat identitas kependudukan si calon pemimpin. 

Beruntunglah si buta karena dia merasakan jalanan dan trotoar sudah berpihak kepadanya. Jalur yang memudahkannya berpindah dari satu tempat ke tempat lain karena ia memilih pemimpin yang baik dan benar, tidak memandang agamanya. Jika salah memilih, tentu ia hanya terdiam di rumah atau keluarpun akan kesusahan.

Hal lain yang menjadi faktor menentukan pemimpin yang mungkin dijadikan landasan bagi orang buta adalah mendengarkan ketika seseorang menyatakan suatu pendapat. pemimpin merupakan manusia, maka nilailah ia sebagai manusia. Apabila ia memiliki pengetahuan, seseorang akan menawarkan ide,inovasi dan kebermanfaatan. Bukan malah sebaliknya menceritakan atau membahas kejelekan manusia lainnya dan seolah-olah menyatakan dialah yang tepat.

Memang boleh jika berprinsip ingin memilih pemimpin yang beragama, tapi jangan sampai menghilangkan pemikiran rasional dan faktual. Jika kita terlalu dangkal menyikapi sesuatu seperti memilih pemimpin yang agamanya A, B ataupun C, siap-siaplah anda memilih pemimpin yang agamais dan kereligiusannya hanya berpengaruh dominan terhadap pribadi sendiri. Sedangkan pemimpin yang baik akan membawa perubahan cepat kearah kemajuan masyarakat yang telah rela memilih. Tutup mata bagian fisik luarmu, dengarkan dengan telinga dan bukalah mata hatimu saat mencaritahu trackrecord calon pemimpin.

Bila nanti terpilih pemimpin yang beragama, waktu memimpin rapat ia akan menghentikannya saat mendengar panggilan ibadahnya. Sayangnya, ia tetap melanjutkan rapat itu. Di lain sisi, ia seringkali membuat acara kemasyarakatan di hari sabtu, atau minggu. Alasannya celaka sekali karena ia mengatakan itu weekend. Tidakkah ia ingat bahwa ada saudaranya yang beribadah di hari minggu? Ya karena dia pemimpin yang beragama, bukan beragam. 

Jadilah orang buta yang memilih pemimpin Beragam Diantara yang Beragama. Melalui penjelasan orang buta, Apakah kita akan puas dengan jawaban itu, mungkin saja tidak. Mengapa? Karena kita tidak buta, buktinya kita selesai membaca tulisan ini, lalu tersenyum sendiri.