Beberapa tahun lalu, sosok Luna Maya sempat membuat miring kepala kawula muda. Segala hal tentangnya tampak begitu menggoda. Lagu, film, hingga video-videonya tersimpan rapi di banyak flashdisk mahasiswa. Hingga akhirnya banyak yang sadar, pesonanya terlalu jauh untuk dikejar.

Namun tidak demikian dengan maya yang satu ini. Ia begitu dekat, melekat laiknya daki di jidat. Datang tiap hari, menemani banyak dari kita untuk sekadar mengintip mimpi. Maya yang satu ini juga tampak lebih menggoda. Segala yang kita mau, dia punya. Dialah Dunia Maya, pengisi hati usai Luna Maya pergi.

Bedanya dengan Luna, maya yang satu ini tak berdaya. Ia tak punya kuasa bahkan untuk dirinya. Wajahnya sangat tergantung pada siapa yang menjamahnya. Ia bisa tampak girang, bisa juga tampak garang. Ia bisa begitu bersahabat, tapi bisa pula begitu jahat.

Salah satu penjamah yang membuat maya menjadi urakan adalah kelompok teroris. Di tangan mereka, maya berubah menjadi ladang persemaian untuk berbagai kegilaan. Terutama sejak akhir 90-an, kelompok-kelompok penggila kekerasan yang kerap merasa menjadi Tuhan telah memperkosa maya dengan pesan-pesan kebencian dan permusuhan. 

Di tahun 1998, kelompok teroris diketahui memiliki 12 situs yang fokus memproduksi dan deseminasi pesan-pesan kekerasan. Lima tahun berselang, jumlah situsnya meningkat tajam menjadi 2.650 situs. Di 2014, kumpulan begundal ini sudah punya 9.800 situs. Baca bukunya ASB (2015) deh biar tahu petanya.

Banyak pihak kemudian kalang kabut dengan sebaran konten-konten kekerasan di dunia maya. Ada yang tanggap, tapi ada lebih banyak yang malah gagap. Alih-alih menghilangkan sumbernya, beberapa negara justru sibuk melawan gejalanya. Mereka tak fokus melawan pangkal terorismenya, melainkan hanya muter-muter ngeblok situsnya.

Hadeeeh,,, ini ya sama saja kayak orang yang sibuk nyobek-nyobek foto mantan tapi masih sering ngajak ketemuan.

Jika hanya sibuk ngurusin situs, terorisme nggak akan bisa dihapus. Gitu sih kata mbak Endang Parabola (nama samaran aja, ya!). Dia bilang kita harus lakukan pendekatan yang lebih bermutu, tak sekadar politik gincu; tampak merona namun palsu. Kayak alismu!

Seharusnya, fokus utama penanggulangan terorisme itu ada di upaya pencegahan dan kontranarasi. Bukan nutupin situs ya, tapi memastikan agar konten mereka tak jadi viral.

Sebab, jika kita block situs-situs mereka, kita malah tak akan pernah tahu apa yang sebenarnya ada di kepala orang-orang ini. Dalam kondisi begini, kita pun tak akan bisa membuat kontra narasi. Apalagi, belakangan ini kita makin tahu, dunia maya tak memperluas cakrawala, tapi justru menyempitkan cara pandang (isolating views). Nyatanya, kita hanya membaca dan berinteraksi dengan sumber-sumber yang itu-itu saja. Ngaku aja, deh!

Mbak Endang pengen kita semua tahu bahwa masalah kita adalah terorisme, bukan dunia maya, bukan pula Luna Maya. Haish!

Dunia maya hanyalah alat yang digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kekerasan khas kelompok jablay kurang belaian. Meski ia juga bilang, kalau di dunia maya terorisme tampak lebih berbahaya. Terutama karena target sasarannya bisa siapa saja. Orang dewasa, anak-anak, lakik, perempuan, penyanyi dangdut gerobak dorong, tukang nasi goreng, ojek pangkalan, dst. Semuanya bisa jadi sasaran.

Tapi, khusus untuk perempuan, mbak Endang –yang sepertinya juga perempuan— ngelihat ada trend peningkatan di soal keterlibatan. Awalnya sih, perempuan-perempuan ini hanya dilibatkan sebagai pelapis; berada di baris kedua. Mereka dimanfaatkan untuk ngurusin hal-hal selain perang. Mulai dari masak, hamil, ngurus anak, hingga bantuin bikin dan nyebarin pesan-pesan kekerasan di dunia maya. Sudah ada banyak perempuan yang kerjaannya begini saban hari.

“Daripada nonton acara gosip, yekan?”

Nah, belakangan ini, perempuan dilibatkan lebih dalam. Mereka diajari cara menggunakan senjata dan diijinkan untuk ikut berperang. 

“Nonton acara gosip aja deh ah, ngeri amat!”

Dunia maya memang tampak penuh dengan ketidakpastian. Ada orang yang sebenarnya biasa saja, namun tampak luar biasa di dunia maya. Biasa, trik kamera!

Waktu datang ke Adam’s Center di Virginia, Shaykh Abdurafaa Ouertani juga cerita soal bocah yang sebenernya masih bau kencur tapi nyaris bikin dunia hancur. Bocah tengik ini menggunakan dunia maya untuk menyebarkan propaganda. Dari jari-jari nakalnya, sudah ada 5 orang dewasa yang berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS! Gilak nggak, tuh?!

Kata beliau, untuk melawan pesan-pesan kekerasan di dunia maya, kita harus lebih aktif di ‘dunia nyata’. Salah satunya dengan membuka ruang-ruang perjumpaan. Dia nggak cuma berteori, dia beneran lakukan kerja-kerja kemanusiaan ini dengan membuka banyak ruang-ruang perjumpaan. di masjid terbesar kedua di AS yang dipimpinnya ini, ia menjalin hubungan baik dengan semua orang. Tak hanya dengan sesama Muslim, siapa saja boleh datang. Beda suku, budaya dan agama tak pernah jadi soal.

Kita semua memang tak sama, karenanya kerjasama. Kira-kira begitu semangat yang beliau bawa. Yang perlu kita fokuskan sekarang bukan tampak hebat di dunia maya, tapi bermanfaat semaksimalnya. Karena, kalau cuma hebat, klean-klean ini nggak ada apa-apanya sama Luna Maya!

“Ya kan, mbak Luna?”

“Ih, anda siapa ya?”

“Loh, masak nggak kenal? Aku nonton videomu tiga kali sehari, mbak!”