Pagi, tanggal 9 Maret 2020, Jogja kembali memanggil elemen mahasiswanya di jalan Gejayan yang jadi idola semua. Hampir banyak kampus yang terlibat hingga tak sedikit yang memasang tagar dan sepanduk, “Senin ini kuliah di jalan, kita liburkan kelas-kelas sempit ber-AC."

Begitu semangat digaungkan setiap kampus berangkat sama-sama untuk menuju tempat di mana fokus titik aksi akan dilakukan. Kali ini mereka angkat keberpihakan-nya pada UU Cipta Kerja (Omnibus Law). Bukan sebuah masalah sebenarnya karena mindset yang dibangun pemeintah bagus.

Terkait bagaimana kemudahan dalam membuka dan menjalankan kegiatan berusaha. Tetapi ini hanya berpihak pada para pemegang usaha saja, pekerjanya tak layak untuk terima hak yang mungkin pantas mereka terima.  

Banyak poin yang sangat merugikan bahkan menekan para pekerja untuk terus melakukan kerja yang mungkin tak sesuai porsi manusiawi. Dari waktu hingga gaji yang diberikan dengan sistem yang mungkin saja akan memaksa mereka bekerja keras seperti robot.

Pantas saja teman-teman mahasiswa yang merasa mewakili kaum proletar berpihak dan kumpul kembali di jalan, memaksa untuk dibatalkannya UU yang bakal hancurkan kebiasaan manusiawi para pekerja/buruh di suatu perusahaan.

Seiring berjalannya waktu, dari tahun 98 hingga saat ini 2020, gerakan mahasiswa secara kuantitas menurun bahkan secara kualitas pun berbeda dengan teman-teman terdahulu. Ruang-ruang diskusi semacam tempat riset untuk mencari tahu apa yang dibutuhkan rakyat pun hampir tak ada.

Sedikit sekali kampus yang terhitung memiliki ruang-ruang tersebut. Saya bicara begini pun barang tentu saya belum mengetahui pasti, apakah benar ada atau tidak. Ini yang jadi biang keladi, barangkali gerakan mahasiswa menurun pamornya, bahkan sudah bukan tempatnya lagi. 

Kecenderungan Tanggung Jawab Pada Orang Tua

Terakhir Jogja bersuara kemarin tertanggal 9 Maret 2020, Gejayan. Mereka suarakan terkait peraturan yang sedang lobi sana-sini.  

Alasannya adalah sebagai bentuk dedikasi negara dalam membangun sebuah pola pikir dan kemudahan dalam membuat suatu usaha. Dan memudahkan para investor untuk masuk.

Anehnya adalah bukan pada usaha negara membuat dan membangun mindset tersebut. Tetapi pada gerakan mahasiswa yang terkenal organik dan mewakili suara rakyat bawah. Semakin tahun hingga memasuki hampir setengah abad Indonesia merdeka.

Pemuda (Mahasiswa) sudah terlalu lupa tugasnya. Padahal BJ Habibie sudah beri contoh sangat baik dan susah payahnya dia abdikan diri pada negara. Jauh-jauh dia belajar di Jerman hanya untuk Negaranya.

Tetapi mungkin saja pemuda sekarang tak suka buka lembar-lembar sejarah bangsanya. Mungkin saja itu jadi faktor mengapa api semangat memperbaiki negara tidak lagi menjadi prioritas para pemuda (mahasiswa).

Begini, saya ingin angkat sedikit rahasia yang mungkin kita lupakan. Ini bisa jadi faktor utama mengapa gelombang gerakan mahasiswa menurun adanya. Mahasiswa sekarang dimudahkan kuliahnya.

Mereka kuliah dari rumah sudah membawa beban amanah dari orang tua. Prioritas itu yang mereka genggam hingga tidur pun tak nyenyak. Maka tak heran, peduli apa mereka terhadap gelombang masa yang bela rakyat tertindas.

Peduli apa mereka terhadap ruang-ruang diskusi yang disana ada tetesan harapan masyarakat untuk suatu perubahan. Pola pikir yang dibangun adalah penyelesaian kuliah secepat mungkin agar orang tua baik-baik dirumah atas harapannya.

Kuliah sudah bukan lagi untuk kembali ke masyarakat. Perubahan pola peradaban membuat para pemuda di desak orang tua untuk kuliah sekedar memenuhi hasrat pekerjaan yang lebih baik dan gaji yang mapan.

Beban moral yang seharusnya dibawa tentang perjuangan kembali ke masyarakat tampak diabaikan dan dimasukkan dalam list paling bawah, Kira-kira urutan 100.

Perputaran Peradaban mungkin tak seburu-buru itu. Mungkin saja rancangan strategis yang dibangun sangat baik dan tepat sasaran. Salah kaprah kita sebagai orang tua adalah menguliahkan anak untuk jadi pekerja kantoran, syukur bisa jadi PNS.

Kampus sudah jadi tempat persaingan pasar, mereka yang mampu dan mau berusaha akan bisa kuliah. Tetapi kuliah untuk diri pribadi, sekadar memenuhi kebesaran akal dan mudahnya dapat uang.

Kuliah adalah Kemampuan Bukan Moral

Astaga, kemampuan secara finansial dan kecenderungan cepat-cepat kejar nilai untuk cari kerja.

Mahasiswa sudah kehilangan moralnya, mereka lupa kampus adalah peradaban kecil yang bentuk masyarakatnya jadi patriot negara dan pembela rakyat.

Mereka lupa, kecerdasan kita bukan untuk mereka yang pegang uang banyak, yang beli sana-sini tanah, menyebarkan uang dan kembali dengan berlebih atas bunga yang ada.

Kecelakaan ini yang fatal, yang sebabkan intelektualitas tak lagi ada di kalangan mahasiswa, mereka lebih fokus untuk beli dan bayar SKS. Jika tak cukup, mereka beli lagi untuk dapat nilai A.

Jangan heran jika jalan sepi dan yang berteriak suaranya tak keras apalagi penuh power. Mereka sudah berusaha, yang lain sedang tidur pulas. Tak mau ikut campur masalah beginian.

Industri Mahasiswa

Saya agak heran sebenarnya, kampus-kampus di Indonesia punya orientasi yang bagaimana. Agak frustasi untuk berpikir masalah itu kearah sana. Karena memang secara porsi itu bukan tugas mahasiswa untuk selesaikan.

Dulu, atau hingga sekarang, kampus menjadi tempat persaingan, padahal Indonesia sedang siapkan pekerja-pekerja tangguh dari kampus-kampus.

Mencetak nya memang kearah sana. Tidak cinta atau kembali pada gagasan masyarakat. Membangun mindset “kita adalah insan akademis yang patuh perintah”.

Baru ini, mungkin adalah sebuah tambahan entah apa tujuannya. Pak Nadiem gagas tentang “Kampus Merdeka”. Saya lebih frustrasi karena gagasan ini arah nya tidak jelas.

Kampus saya tidak merasakan sama sekali nilai moralnya, jauh dari harapan bahkan ekspektasi kebenaran.

Yang paling parah dan utamanya adalah, kampus Indonesia sudah bukan lagi cetak para perubah yang katanya akan disiapkan untuk bonus demografi.

Sudah beralih fungsi, jadi tempat produksi mahasiswa dan pekerja yang manut perintah. Banyak-banyak terima mahasiswa untuk banyak-banyak juga terima uang.

Astaga, ini cerita kita, mahasiswa dan jati dirinya. Kuliah bukan untuk moral, kuliah untuk siapkan diri bisa dapat uang yang banyak.