Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk yang sangat banyak di dunia, tidak dapat dipungkuri terkait penggunaan kertas dalam kegiatan sehari-hari. Hampir disetiap lini aktivitas masyarakat Indonesia tidak dapat lepas dengan penggunaan kertas. Keberadaan kertas dalam kehidupan manusia cukup penting, karena kertas berfungsi sebagai pencatat ilmu pengetahuan, media untuk promosi perdagangan, sarana untuk menyampaikan pikiran tentang gagasan, dan lain-lain. Di atas permukaannyalah terletak berbagai informasi yang ingin disampaikan, misalnya tulisan atau gambar. Hal inilah yang menyebabkan produksi kertas di Indonesia mengalami kenaikan setiap periodenya.

Pada tahun 2013, produksi kertas diprediksi mencapai 13 juta ton, ungkap Direktur Hasil Hutan dan Perkebunan Kementerian Perindustrian. Katanya, peningkatan tersebut lantaran permintaan kertas pada semester II-2012 juga berpotensi tinggi. Tahun ajaran baru juga diyakini membuat permintaan kertas melonjak sehingga membuat industri harus meningkatkan produksi mereka.

Selain peningkatan produksi kertas, produksi bubur kertas pada tahun ini juga diprediksi meningkat menjadi 8 juta ton. Ini berarti produksi bubur kertas berpotensi naik sekitar 5,3% dibanding dengan realisasi produksi pada tahun lalu. Ketua Asosiasi Pulp dan Kertas Indonesia (APKI) Misbachul Huda mengakui, potensi permintaan kertas di dalam negeri masih cukup tinggi. Apa lagi konsumsi kertas per kapita di Indonesia masih rendah yakni sekitar 32,6 kg per kapita pada tahun 2015.

Aktivitas masyarakat Indonesia yang beraneka ragam, menyebabkan konsumsi kertas dalam menunjang kegiatannya juga mengalami kenaikan. Seiring perkembangan zaman dan teknologi diiringi perkembangan intelektual manusia yang mendorong manusia untuk terus menuntut pendidikan formal di sekolah. Dari hal tersebut kebutuhan manusia akan kertas juga akan terus meningkat. Sekolah merupakan lingkungan kecil di mana manusia di dalamnya membutuhkan kertas karena di luar sana masih benyak masyrakat dari berbagai golongan yang juga menggunakan kertas sebagai kebutuhannya, misalnya karyawan kantor, arsitek dan masih banyak lagi. Contohnya saja penggunan kertas pada suatu perguruan tinggi. Keadaan dan pemandangan yang menjadi sangat biasa dan hal yang wajar di lingkungan perkuliahan adalah lembaran kertas. baik itu tumpukan menggunung, selembaran yang berserakan, dan kertas laporan serta tugas akhir yang setiap harinya akan menggunakan kertas minimal 100 lembar setiap mahasiswa dimana 100 lembar kertas = 1/5 rim kertas yang akhirnya kebanyakan nasib dari kertas itu akan menuju ke tong sampah. Dan jika diakumulasikan dengan jumlah perguruan tinggi di Indonesia, banyak sekali tumpukan sampah kertas. Penggunaan kertas pada instansi pemerintahan. Sudah berapa banyak sampah kertas yang dihasilkan dari setiap instansi pemerintahan. Jika hal tersebut juga diakumulasikan, sudah berapa banyak sampah yang dihasilkan dari setiap aktivitas suau intansi. Hal inilah yang menjadi perhatian khusus dengan adanya sampah kertas dan bagaimana untuk memanfaatkan sampah kertas tersebut.

Sampah menjadi persoalan serius, jika dilihat dari data statistik nasional terkait jumlah sampah yang dihasilkan perharinya, sampah nasional mencapai 175 ribu ton per hari. Sampah tersebut berasal dari konsumsi rumah tangga, instansi maupun industri yang ada di Indonesia.  Dengan jumlah penduduk hampir 250 juta jiwa dan estimasi timbunan sampah per orangnya 0,7 kg, jumlah timbunan sampah nasional per harinya mencapai 175 ribu ton. Profil sampah di Indonesia masih didominasi sampah organik (60%), sampah plastik (15%), sampah kertas (10%), dan lainnya (logam, kaca, kain, kulit) sekitar 25%. Penimbunan sampah di TPA (69%), kubur (10%), daur ulang dengan prinsip Reduce, Reuse, Recycle (7,5%), bakar (5%) dan lainnya tidak terkelola (8,5%).

Dari profil sampah di Indonesia menunjukkan bahwa sampah kertas sebanyak 10% dari total 175 ribu ton dari total sampah nasional yang di Indonesia. Jadi total sampah kertas nasional perharinya mencapai 17.500 ton. Sampah kertas berasal dari pengguna kertas, karena sampah kertas merupakan kertas yang sudah tidak terpakai lagi oleh penggunanya sehingga penggunanya lebih cenderung membuangnya. Sampah kertas ini terdiri dari berbagai jenis di antaranya, kertas tulis, majalah, koran, karton ataupun pembungkus makanan.

Banyaknya sampah kertas yang dihasilkan dari setiap aktivitas, hal ini akan memiliki dampak tersendiri bagi kehidupan manusia. Dampak kertas terhadap lingkungan merupakan akibat negatif yang harus ditanggung alam karena keberadaan sampah kertas. Dampak ini ternyata sangat signifikan. Sebagaimana yang diketahui, kertas yang mulai digunakan sejak zaman dahulu sebagai alat bahan dasar untuk menulis, kini telah menjadi barang yang sudah tidak terpisahkan dalam kehidupan manusia. Kertas terbuat dari bahan dasar pohon, untuk memenuhi kebutuhan manusia akan kertas maka ribuan pohon ditebang setiap tahunnya sehingga mengakibatkan rusaknya hutan yang merupakan paru-paru dunia dan juga mengakibatkan kelangkaan flora dan fauna. Kebutuhan manusia yang berlebih terhadap kertas mengakibatkan bertambahnya produksi sampah kertas di lingkungan sekitar. Meskipun terbuat dari bahan organik yang bisa terurai, namun masih sering ditemukan tumpukan sampah yang terdiri dari kertas. Hal ini tentunya menjadi pemandangan yang tidak nyaman dan juga menjadi sumber penyakit.

Pada dasarnya prinsip utama mengelola sampah yang benar adalah mencegah timbulnya sampah, mengguna-ulang sampah dan mendaur ulang sampah yang biasa dikenal dengan prinsip 3R (Reduce, Reuse, and Recycle)Akan tetapi, banyaknya aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat tetap saja menghasilkan sampah kertas yang banyak jumlahnya. Oleh karena itu muncullah gagasan “Omah Kertas”. Gagasan ini bertujuan untuk menciptakan wilayah padat karya dengan memanfaatkan sampah, khususnya sampah kertas sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Pada era millenial seperti saat ini, konsep pengembangan ekonomi masyarakat harus diterjemahkan dalam bentuk program operasional berbasiskan ekonomi domestik pada tingkat kabupaten dan kota dengan tingkat kemandirian yang tinggi. Namun demikian perlu ditegaskan bahwa pengembangan ekonomi masyarakat pada era millenial saat ini tidak harus ditejemahkan dalam perspektif territorial. Tapi sebaiknya dikembangkan dalam perspektif ‘regionalisasi’ di mana di dalamnya terintegrasi kesatuan potensi, keunggulan, peluang, dan karakter sosial budaya.

Adanya gagasan Omah Kertas ini merupakan gabungan dari segala aspek kesatuan potensi, keunggulan, peluang, dan karakter sosial budaya masyarakat sekitar. Makna gagasan Omah Kertas adalah Omah yang berasal dari bahasa jawa yang berarti rumah atau tempat tinggal. Jadi konsep gagasan Omah Kertas yaitu suatu tempat dimana dilangsungkannya pemanfaatan kertas atau limbah sampah yang sudah tidak terpakai agar menjadi benda atau produk yang memiliki nilai guna, nilai jual dan nilai seni yang tinggi yang dalam prosesnya sudah tersistematisasi dan terstruktur.

Gambar 1. Konsep Alur Omah Kertas

Proses kerja Omah Kertas adalah yang pertama adalah bagian pengumpulan atau penampungan sampah kertas. Jadi sampah kertas ini diperolah dengan cara membeli sampah kertas atau dengan kata lain masyarakat sekitar, instansi maupun industri menjual sampah kertasnya kepada Omah Kertas. Setelah bahan baku utama yakni sampah kertas diperoleh, langkah selanjutnya adalah proses pemilahan. Proses ini bertujuan memisahkan sampah kertas yang akan diproses untuk menghasilkan barang kerajinan tangan dan sampah kertas yang kurang layak akan diolah menjadi kompos. Dalam proses pembuatan kompos bahan yang digunakan tidak hanya berasal dari sampah kertas saja, melainkan ditambah dengan daun kering.

Hasil produksi Omah Kertas ini diharapkan nantinya mampu menembus pasar nasional maupun pasar internasional. Bukan hanya itu, pemanfaatan wilayah padat karya seperti Omah Kertas ini mampu menarik tenaga kerja khususnya yang berpendidikan rendah, jadi secara tidak langsung akan mengurangi angka pengangguran di Indonesia karena banyaknya kasus lulusan pendidikan yang rendah maupun masyarakat putus sekolah. Hal ini juga meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar Omah Kertas.

Dengan adanya Omah Kertas diharapkan semua pihak mampu bekerja sama, terutama pemerintah dalam memsosialisasikan tentang konsep dan gagasan Omah Kertas. Sehingga Omah Kertas mampu menjadi pelopor Omah Kertas lain diberbagai penjuru pelosok Indonesia. Dan harapannya bisa mengurangi tingkat kemiskinan di bumi pertiwi ini.