Entahlah, saya melihat sisi lain dari kota Makassar malam itu, 25 November 2017.  Siapapun tahu bagaimana rasanya mendapati diri sendiri melakukan kesalahan. Perasaan itu, seperti kau yang sedang belajar memasak, lalu menemukan rasa dari masakanmu tidak sesuai dengan apa yang kau bayangkan.

Hari ini kepalaku terasa pusing. Seperti ada yang menggaruk kepalaku dari dalam dengan kukunya yang tajam. Leher di bagian belakang kepalaku terasa kaku seperti tiang listrik di jalan-jalan kosong, dan perutku terasa lapar. Saya lalu berjalan menuruni tangga yang berada di depan kamar, lalu mengambil motor yang terparkir di dekat kolam ikan yang airnya sudah kering. 

Di sisi lain kolam ada pagar tembok  yang menghalangi parkiran mobil milik tetangga rumah kos. Saya menyalakan mesin motor untuk keluar mencari makan malam. Ketika berhenti di warung sembako untuk membeli rokok, ternyata uang di dompet saya tinggal Rp.17000. Tanpa pikir panjang saya langsung memesan rokok terbaru kesukaaan, Magnum biru isi 16 batang.

“Harganya sudah Rp.14000.” Kata pemilik toko. “Saya juga tidak tahu kenapa harga rokok selalu cepat naik.” Katanya lebih lanjut

“Oh, tidak apa-apa.” Kataku

 “Mungkin ini yang disebut dalam Ilmu Ekonomi sebagai kebutuhan tak terduga. Ketika harga barang naik begitu saja.” Pikirku

Rencananya saya mau menyimpan dua ribu untuk besok, dan dua ribu dari sisa membeli rokok mau saya belikan mie instan sebagai makan malam. Saya tidak bisa menyisihkan kembalian karena uang di dompet saya tinggal tiga ribu. Kemudian saya teringat beberapa meter dari toko sembako, ada penjual ubi goreng. Saya ke sana untuk membeli dengan uang yang tersisa. Penjualnya seorang Kristen dengan tanda salib di leher, seorang yang dipanggil oma (saya tahu karena ada tetangganya yang juga datang membeli ubi), dengan senyum yang bersahaja. Beliau melayani para pembelinya dengan senyum khas, sama seperti nenek saya ketika melihat saya makan dan menyukai masakannya. 

Ubi goreng di dalam lemari kaca itu tinggal sedikit, berbeda dengan tahu goreng dan bakwan yang masih banyak belum terjual. Beliau lalu memasukkan sisa Ubi yang tinggal beberapa potong itu ke dalam kantong plastik, dan berjalan ke belakang punggung saya.

“Tunggu ya nak, saya ambil dulu lomboknya di dalam rumah, yang di sini sudah habis.” Katanya sambil berlalu.

“Iya.” Kataku.

Saya berdiri di sana cukup lama dengan perasaan tersentuh karena mendapat tambahan lebih untuk makan malam ini. Saya merasa tersentuh ketika menerima kenyataan tidak melulu sama seperti apa yang ada di media-media sosial. Media sosial menampakkan satu kejadian, yang parahnya, membuat kita melihatnya sebagai keseluruhan kejadian dari kenyataan yang ada. 

Coba saja kita pikirkan, ketika di medsos kita melihat perbedaan-perbedaan pandangan, di sisi lain di kenyataan itu, ternyata masih ada yang tidak mengambil keuntungan secara berlebihan. Dan bahwa ternyata dalam kenyataan, masih ada yang melihat kehidupan tanpa embel-embel agama.

Seorang oma penjual ubi, memberi tanpa pandang bulu meski dengan keuntungan yang sedikit, dan ia tidak harus bertanya, agamamu apa?

Saya bukan pecinta kopi. Tapi saya seringkali pergi nongkrong di warkop kalau lagi bosan di kos. Dan saya akan berlarut di sana, menonton Youtube, dan kembali ke kos sebelum isya. Pernah suatu kali, saya sudah bersiap-siap untuk pulang. Saya menyalakan mesin motor, tapi pandangan saya lalu beralih pada seorang nenek yang mengorek-ngorek sampah di depan warkop. Saya mendengarnya dibentak seorang bapak, “Woi, jangan garuk-garuk itu sampah, Nek. Lihat, sampah itu sudah berserakan ke mana-mana. Pergi sana.” Suaranya terdengar menggelegar dengan nada seperti sampah-sampah itu. 

Saya melihat bapak itu memakai sarung. Mungkin ia baru pulang dari mesjid, mungkin juga tidak. Bapak itu mungkin pemilik kos-kosan di samping kiri warkop yang saya tempati nongkrong karena saya melihatnya masuk ke dalam setelah membentak sang nenek. Saya berani bertaruh dia pemilikinya.

Saya merasa iba melihat pemandangan itu. Lalu saya mengambil uang lima ribu rupiah di dompet, mendatangi sang nenek, dan memberikannya padanya. Kejadian hari itu yang membuat saya melihat kota sangat berbeda jauh dengan desa. Di desa, orang-orang saling menghormati, apalagi yang lebih tua, juga saling berbagi. 

Hari itu saya pulang dengan ribuan pertanyaan di kepala dan sumpah serapah di mulut saya. Dan hari ini, Seorang oma telah membuat saya sadar dengan kesalahan yang saya lakukan. Kejadian hari ini membuat saya berpikir bahwa di kegelapan sekalipun, dan meskipun gelap itu membuat kita tidak bisa melihat apa-apa bahkan jari tangan dan langkah kaki kita, kita tahu masih harus terus berjalan, mencari celah untuk mendapatkan setitik cahaya.

Gambaran kehidupan di luar dan di dalam media sosial seperti dua sisi mata uang yang berbeda. Saat di media-media sosial orang saling berdebat karena sedikit berbeda pandangan, di luar, kenyataan berkata lain. Saat di dalam media sosial ada yang menyebarkan berita-berita palsu, di luar itu, masih ada seorang anak yang membantu orang buta menyeberang jalan. Dan saat media sosial banyak membahas isu yang hangat-hangatnya terjadi, di luar itu masih ada yang belum tahu apa-apa. Hal yang bagi saya penting selain mendapat makan malam lebih banyak hari ini, juga fakta bahwa di tengah perbedaan selalu masih ada harapan.