Viralnya kue odading Mang Oleh di kota kelahiran, Bandung, sampai juga gemanya ke telinga urang Sunda di perantauan seperti saya.

Kue camilan favorit saat saya mengantar ibu berbelanja itu kini menjadi jajanan yang booming di era pagebluk. Setelah promo singkat dengan bahasa gado-gado nan 'provokatif', dari seorang netizen bernama Ade Londok, viral di media sosial.

Memang dahsyat betul power of netizen yang satu ini. Bisa membuat ratusan orang antre dalam social distancing yang sampai dijaga ketat aparat, hanya untuk mencicipi beberapa potong odading manis, yang menurut beberapa testimoni tetap kenyal dan empuk, meskipun dikonsumsi satu hari setelah dibeli.

Antrean menuju gerobak Mang Oleh, yang saya simak dari sebuah vlog, mengingatkan saya pada antrean karcis nonton Persib Bandung versus PSMS Medan, pada era kejayaan kedua tim di era kompetisi perserikatan. Sang vlogger dalam videonya bilang, butuh waktu satu jam antre di situ.

Kalau saya datang ke kios Mang Oleh sekarang, mungkin saya tidak bisa duduk santai sambil menunggu ibu beres belanja seperti dulu, melihat besarnya animo masyarakat dan membludaknya pembeli.

Dulu, setiap membeli, kadang satu keping kue suka ditambahkan Mang Oleh ke dalam bungkus belanjaan saya. Ada dua kategori bonus yang saya tahu, yang suka spontan beliau terapkan. Pertama, bonus untuk pelanggan tetap. Kedua, bonus untuk pembelian dalam jumlah yang banyak.

Kalau saya perhatikan, tukang parkir, sesama pedagang atau bakul sayur, malah suka diberi cuma-cuma oleh beliau. Mungkin sebagai wujud silaturrahiim sesama pengais rejeki di sekitar pasar, yang satu jalan dengan lokasi pementasan teater bersejarah di kota Bandung, Gedung Rumentang Siang, itu.

"Nuhun, sing berkah, Mang!" begitu kata seorang bapak tua pada Mang Oleh, ketika tahu diberi bonus, saat saya kebetulan menunggu pesanan. "Terimakasih, berkah ya, Mang," begitu kira-kira arti kalimat yang diucapkan beliau, bila kita cek lewat google translate, dalam fitur terjemahan sundanese-bahasa.

Jangan-jangan, berkat kebaikan Mang Oleh dan doa-doa pelanggan seperti itu juga salah satunya, lapak beliau kini kebanjiran konsumen. Justru di masa-masa yang sulit, ketika banyak orang dirumahkan, dan banyak pengusaha pesimis akan keberlangsungan usahanya.

**

Viralnya kue odading itu kini, juga mengajak saya mengenang lagi medio akhir 2000-an. Saat masih bekerja sebagai tukang filem, yang kerap door to door ke stasiun-stasiun televisi lokal, untuk menawarkan ide program yang diperkirakan menarik untuk tayang.

Salah satu ide yang jadi bahan jualan saya adalah, program tentang sejarah kuliner yang populer di kalangan masyarakat Jawa Barat. Diantara rencana program, terselip rencana untuk memproduksi sebuah dokumenter tentang kue odading. Saya dan tim melakukan riset literatur, observasi dan wawancara, untuk mematangkan materi program itu.

Dari hasil pre-writing naskah, saya mendapatkan tiga kisah asal-muasal kue odading dengan versi yang satu sama lain berbeda.

Versi pertama berasal dari buku sastrawan dan seniman kenamaan, Remy Sylado. Kisahnya serupa dengan apa yang ditulis dalam media-media saat ini, yang rata-rata mengutip dari buku beliau, 9 Dari 10 Kata Bahasa Indonesia Adalah Bahasa Asing.

Pada buku itu dikisahkan, seorang anak Belanda merengek pada ibunya meminta dibelikan kue, namun tak tahu apa nama kue yang dimaksud. Saat ditunjukkan kuenya, sang Ibu berkata, "O, dat ding !", yang berarti "O, barang itu !" Kalimat 'o dat ding' itulah yang kemudian diserap ke lidah urang sunda menjadi odading.

Versi kedua berasal dari tuturan lisan seorang guru SMP. Kisahnya sedikit lebih panjang dari versi pertama.

Menurut guru SMP itu, kisah kue odading ini berawal dari lokasi perkebunan teh di Kabupaten Bandung, ketika perkebunan teh itu masih dalam pengelolaan pemerintah kolonial Belanda.

Kisahnya bermula dari ajakan pegawai pada kepala perkebunan teh, untuk berkunjung ke rumah penduduk yang dituakan. Istri dari penduduk yang dituakan ini, setelah diberi tahu akan kedatangan tamu yang notabene orang barat, berusaha menyiapkan roti khusus untuk menjamu. Mengingat, yang ia ketahui, orang barat makanan pokoknya harus berbasis terigu.

Istri dan para pegiat dapur penduduk yang dituakan itu, sebetulnya tidak pernah tahu cara yang benar untuk membuat roti. Maka setelah beberapa percobaan, jadilah beberapa bentuk kue dan roti. Satu diantaranya berasal dari adonan terigu campur gula, yang digoreng sehingga warnanya coklat, bertekstur kenyal, dan rasanya manis.

Kepala perkebunan menyukai kue yang digoreng itu. Ia memilih kue itu sebagai suguhan terbaik, diantara ragam suguhan yang disajikan oleh tuan rumah. Saat tuan rumah menanyakan kue yang mana yang paling ia sukai, meneer itu menjawab, "Dat ding !", sambil menunjuk kue yang dimaksud.

Yang hadir mendengarkan lalu mafhum, terus mengangguk-angguk sambil berkata,"O, dat ding..." Dari situ kemudian orang-orang menyebut kue yang belum bernama itu dengan : odading.   

Versi ketiga, dituturkan oleh jurnalis televisi dan senior saya dalam dunia videografi, Bambang Irawadi. Menurut beliau, kisah ini berawal dari kisah seorang pembantu rumahtangga, yang gagal membuat kue/roti. Sampai-sampai, ia diberhentikan oleh majikannya, seorang Nyonya asal Belanda.

Si Bibi pulang ke rumah membawa serta adonan yang gagal, sebab sang majikan sangat marah, saking kesalnya, sampai tak ingin melihat adonan tepung itu lagi. Sesampainya di rumah, sebab tak ada sesuatu untuk dimasak, dan juga karena perasaan sayang jika harus membuang adonan itu, Si Bibi sebisa mungkin mengolah lagi adonan lalu menggorengnya.

Setelah matang, ia hidangkan pada anak dan suami. Ternyata olahan dari adonan yang gagal itu malah disukai oleh seluruh keluarga. Hingga timbul ide dari mereka, untuk memasarkan kue itu keliling kampung sebagai jalan ikhtiar menjemput rejeki.

Keesokan harinya Si Bibi memasarkan kue kreasinya berkeliling kampung. Rasanya yang manis, ukurannya yang besar dan harganya yang terjangkau, membuat jajanan unik itu kemudian cepat digemari. 'Viral'nya odading Si Bibi ketika itu, menerbitkan rasa penasaran pada eks majikannya.

Anaknya sendiri, yang tergiur setelah menyaksikan teman-teman sepermainannya dengan nikmat menyantap kue itu, merajuk dan meminta Nyonya Belanda untuk segera mengundang eks pelayannya, sambil membawa serta kue dagangannya.

Nyonya Belanda itupun memanggil Si Bibi untuk membeli kue yang 'viral' itu. Sesampainya di beranda, Nyonya Belanda meminta Si Bibi memperlihatkan kue yang dijualnya.

Ketika Si Bibi membuka daun penutup dagangannya, Nyonya Belanda spontan teringat dengan kue yang membuatnya murka beberapa waktu lalu. "O dat ding !"serunya kaget.

Sebagaimana dua versi sebelumnya, setelah momen di beranda itulah, kalimat 'o dat ding' bertransformasi ke dalam lidah sunda menjadi odading.

**

Mana versi yang benar diantara tiga versi tersebut ?

Saat itu, saya dan tim program menyepakati versi Remy Sylado-lah yang paling benar. Alasannya, versi pertama itu sudah ditulis dalam sebuah buku, juga dipresentasikan dalam sebuah momen seminar internasional, yang berarti paling bisa dipertanggungjawabkan validititasnya.

Sayang, kami urung mengerjakan program tersebut. Sebab setelah itu, malah datang tawaran lebih besar untuk program kami yang lain.

Tapi yang jelas, kue ini sudah lama sekali hadir di tengah-tengah masyarakat Bandung. Kue ini adalah makanan yang paling dicari selain bubur ayam dan lontong kari, jika warga kota dan sekitarnya mencari makanan untuk sarapan pagi.

Penjualnya biasa menjajakan pada waktu pagi dan sore hari. Adakalanya di kawasan Pasar Baru Bandung, Stasiun Kereta Api, dan terminal bis antar kota, odading dijual bersama gorengan Bandung seperti pisgor, comro, misro, gehu, dan bala-bala, yang sudah melegenda dan menasional.

Jaman saya kecil odading ini suka dijual dengan cara dipanggul keliling kampung. Kemana-mana dijual  berpasangan dengan makanan lain yang tak kalah enak, yaitu : cakwe.

Ibu saya suatu kali berkelakar ketika saya bertanya, kenapa odading itu selalu pergi kemana-mana, tak terpisahkan dengan cakwe. Ibu bilang, sebab mereka itu adalah pasangan suami-istri. Yang satu asin (cakwe), melambangkan sang suami. Yang satu manis (odading), melambangkan sang istri.

Saya percaya dengan apa yang dikatakan ibu, sebagaimana saya percaya dengan apa yang dikatakan Remy Sylado, tentang asal muasal odading ini.

Bukan dinilai dari rasanya, tapi dilihat dari bentuknya, odading memang gemuk seperti almarhumah ibu, dan cakwe memanjang dan langsing seperti postur almarhum ayah tercinta. Berarti memang sah mereka ini suami-istri, seloroh saya waktu itu, membuat ibu dan ayah tertawa.

Obrolan akrab dan kebersamaan saat ngopi dan ngeteh dengan orangtua itu ikut terkenang lagi, usai menyimak video Ade Londok dan liputan para vlogger langsung dari lokasi gerobak Mang Oleh di kota kelahiran.

Di masa-masa yang sulit karena pandemi kini, mengenang kisah-kisah dan hal-hal sederhana yang menyenangkan di masa lalu, ternyata mampu menghibur hati yang sedikit sempit pada masa perantauan kini.

Siapa sangka, semua itu terjadi 'hanya' gara-gara : odading, dan power of netizen.