Di suatu malam yang dingin, lampu temaram yang mencerminkan khazanah keilmuan mulai redup. Listrik yang menyedot banyak sekali biaya mulai membebani pemerintah. 

Bangku-bangku di sepanjang jalan setapak Ciputat mulai dilumuti lumut yang hijau kehitaman. Yang seharusnya bukan sampah tempat membuang, jadi juga tempat sampah terbuang.

Kurang tahu mengenai pelbagai kebijakan yang ada dalam struktur pemerintah. Di dinding-dinding belakang bangku yang seharusnya menjadi objek menarik untuk disorot kamera, justru menjadi hiasan manusia berbangsa vandal. Bukan oleh tulisan-tulisan gravity yang penuh kreasi tapi oleh muka-muka orang yang kelak hanya mengumbar janji ekspektasi tanpa ada bukti prestasi.

Gopek yang seorang mahasiswa perantauan, menikmati tahun pertama dalam bangku kuliah. Semangat menuntut ilmu tak kunjung padam dari redup lampu taman yang temaram. Pelbagai majelis dia duduki, seminar kampus dia sudah regristasi. Begitu seterusnya dia sepanjang dua semester perkuliahan.

***

Dalam setiap obrolan yang dia duduki, ditemani kopi dan kretek, dia memperhatikan serius orang yang sedang bercanda dan menertawakan candaan orang yang sedang serius. Dalam periode tahun kedua ini, dia merasa ada sesuatu yang belum dia temukan dalam setiap majelis dan seminar yang dia ikuti. Dan si Gopek tidak tahu itu, setidaknya belum sadar.

Pada suatu ruang diskusi depan warung kopi yang membahas tentang teori the clash of civilization-nya P. Huntington, dia bertanya pada si Ethek.

“Thek, lu merasa ada yang kurang enggak sama diskusi kita?” kata si Gopek.

”Kayaknya gak ada deh? Emang ada sesuatu?” kata si Ethek.

“Sepertinya ada missing lyrics gitu di pembahasan kita.”

“Mungkin kamu aja yang berpikir seperti itu, lagian perhatikan aja pemantik bicara, nanti kamu juga akan tahu.”

“Iya juga sih, mungkin gue nya yang kurang merhatiin,” pikir si Gopek.

Dalam diskusi tersebut membahas persoalan fundamental mengenai konflik dunia baru. Dunia baru di sini adalah mengenai kondisi dunia pasca perang dingin, yang mana dua negara super power-Amerika dan Rusia-berebut dominasi perpolitikan dunia. 

Dan adu kekuatan dua negara ini bukanlah mendefinisikan atas negara bangsa dalam pengertian klasik akan tetapi sebagai identitas ideologis yang menggerakan kebijakan dua negara tersebut.

Nah, si Gopek menyadari adanya potongan puzzle yang belum terisi dan dia tidak tahu apa potongan apa itu. Gopek masih penasaran dengan apa yang sebenarnya dia cari. Dia nyalakan kreteknya lagi dan mulai penasaran dengan apa yang malam telah bercandakan.

***

Pada suatu siang di ruang kelas, si Gopek mengikuti perkuliahan filsafat. Dia mendengarkan dengan seksama dosen berbicara menerangkan walaupun di ujungnya tidak ada titik terang. Dosen itu menerangkan mengenai social contract Thomas Hobbes dan bagaimana persoalan konflik itu yang menjadi masalah adalah manusia.

Dosen itu menjelaskan bahwasannya setiap manusia itu mempunyai sifat alami dalam dirinya masing-masing atau state of nature. Dalam kondisi ilmiah masing-masing individu manusia itu, naluri untuk memaksimalkan kebahagiaan dan meminimalisirkan penderitaan telah menjadi selfish gen bagi tiap homo sapiens.

Maka tidaklah salah bila Thomas Hobbes membuat istilah terkenal yaitu  “Homo Homini Lupus” atau manusia merupakan serigala bagi manusia yang lainnya. 

Jadi pada dasarnya, manusia itu jika mengikuti naluri alaminya maka dia akan selalu ingin mempertahankan dirinya dari pelbagai potensi ancaman. Manusia itu tidak segan untuk bersaing, bertarung, dan bahkan membunuh sesamanya hanya untuk mempertahankan dirinya.

Konflik dan pertikaian akan muncul dalam dinamika kehidupan jika manusia mengikuti naluri alamiahnya tersebut. Tanpa menghendaki akal sehat dan hati nuraninya. Lalu konflik dan pertikaian tersebut juga melahirkan istilah lainnya yaitu “Bellum Omnium Contra Omnes” atau yang berarti perang semua lawan semua.

Maksud dari istilah itu adalah terjadinya peperangan dan pertarungan antar sesama manusia untuk mencapai tahapan kebahagiaan dan menghindari penderitaan dengan melakukan pelbagai macam cara. Berawal dari tahapan inilah manusia harus mengikuti akal sehat dan hati nuraninya dan membuat suatu kesepakatan dalam masyarakat yang merupakan komponen sosial.

Berangkat dari hal itu, manusia haruslah melepas kehendak pribadinya untuk berkehendak semaunya sendiri dan membuat perjanjian dengan sesamanya yang mana nantinya akan menghasilkan kontrak sosial. Kontrak sosial itu yang akan diserahkan wewenangnya pada penguasa negara untuk mengaturnya dengan hukum yang telah disepakati bersama.

Dengan penjelasan yang panjang tersebut si Gopek masih belum menemukan titik terang yang membuatnya penasaran. Dia masih mencari potongan puzzle yang belum dia sadari. Dan teka-teki kata yang belum dia obrolkan dan diskusikan ini akhirnya membuat malam-malamnya tidak tenang. 

Setiap malam dia mengelilingi tongkrongan di depan warung-warung kopi dan ikut mendengarkan apa yang orang-orang obrolkan dan juga diskusikan.

Si Gopek berjanji tidak akan tidur selama belum menemukan obrolan tersebut. Dia merasa mempunyai tanggung jawab moril kalau belum menemukan “obrolan yang hilang” tadi. Si Gopek pontang-panting mencari apa yang dia sendiri tidak tahu sedang mencari apa. Hidupnya berantakan dikarenakan pencarian tak berkesudahan. Dia mulai frustasi dan emosi terhadap tanggung jawab moril tersebut.

Pada suatu malam, setelah tiga minggu pencarian “obrolan yang hilang”, teman malam dia merenung tidaklah hanya kopi dan kretek tapi juga san Miguel. Bir kini menjadi kenalan baru dia. Ketika dia membeli bil tersebut, dia bertemu dengan bapak-bapak yang ketika itu sedang mabuk berat sambil mengangis sedu-sedan. 

Tak tahu kenapa dia seperti itu dan ketika si Gopek bertanya pada penjual bir tersebut, si Bapak tadi sudah tiga minggu menangisi hidupnya seperti itu. Dan pada akhrinya si Gopek memberanikan diri untuk bertanya kepada bapak itu.

“Anda kenapa sedih pak?” Tanya si Gopek tanpa basa-basi.

“Tidak apa, ini bukan urusanmu bocah!” Jawab si Bapak yang meninggikan intonasi suaranya.

“Yah, saya cuma penasaran saja apa yang membuat anda bertahan selama tiga minggu dengan menangis seperti itu. Tidak pantas bagi orang tua seperti anda menangis seperti seorang bocah.”

“Kamu tidak tahu bahwa menangis itu tidak mengenal usia dan gender. Itu adalah sifat alamiah manusia. Kamu tidak akan tahu bahwa semakin kamu lama hidup di dunia ini, kamu akan merasa bahwa hidup ini tidaklah adil. Keadilan kini bukanlah wewenang Tuhan, melainkan manusia yang mencoba mengambil peran tersebut” Timpal si Bapak.

Lalu si Gopek teringat akan hal yang membuat dirinya lupa akan suatu obrolan yang belum pernah dia obrolkan. Dan obrolan itu mengenai “keadilan”. Suatu kata yang membuat nestapa dalam hidupnya. Obrolan yang selama ini dia cari. 

Obrolan yang tidak pernah dia dengar dari mulut orang-orang yang katanya pintar. Persoalan keadilanlah yang selama ini menghilang dalam wacana diskusi kita sehari-hari.

Mungkin “obrolan yang hilang” inilah yang membuat kita lupa diri akan hal mendasar yang diperebutkan orang. Ya, keadilan adalah hak dasar dalam social contract yang telah kita diskusikan. 

Apabila dilanggar, maka the clash of civilitazion akan terjadi karena kita tidak bisa memenuhi cita-cita keadilan. Keadilan dalam segala hal. Ekonomi, politik, sosial, dan budaya adalah hal mendasar diterapkannya keadilan.

Keadilan bila dipermainkan akan menjadikan manusia seperti serigala yang teritorialnya akan terancam. Segala hal akan dihalalkan untuk melawan ancaman. Bahkan, serigala itu akan melawan saudaranya sendiri. Kata yang selama ini kita butuhkan tetapi tidak pernah kita cari. Kata yang melekat semenjak ruh kita ditiupkan. Obrolan yang hilang itu bernama KEADILAN.