Kampus ibarat ladang bisnis. Dimanfaatkan sebagai alat dagangan. Menjajakan beranekaragaman jenis ijazah. Mengobral visi dan misi; dalih mencerdaskan kehidupan bangsa justru menjadi alat untuk meraup keuntungan. 

Bilamana kampus telah kehilangan tujuannya dan hanya hendak menyedot uang-uang mahasiswa-mahasiswanya, lalu nasib negeri ini mau dibawa kemana?

Riwayatmu kini pedidikan di negeriku ini. Usiamu makin lama makin menua dam renta. Kamu bagian dari salah satu fungsi. Fungsi pendidikan tinggi salah satu harapan penerus generasi bangsa, dengan berbagai harapan yang diembannya.

Setiap warga negara wajib memperoleh pengetahuan pendidikan dan konstitusi kita menjamin akan hal tersebut. Penyelenggaraan sistem pengajaran nasional telah tegas diatur dalam UUD 1945 Pasal 31: Ayat (1) Setiap warga negara berhak memperoleh pengajaran, Ayat (2) Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran nasional, yang diatur dengan undang-undang.

Dalam kaitan ini, kita pun bertanya-tanya apakah pendidikan Indonesia, khususnya perguruan tinggi kita. Pendidikan bukan persoalan teori dan ceramah oral saja, namun tujuan pendidikan adalah membebaskan diri setiap insan untuk merdeka dan bebas berekspresi

Kampus sudah menjadi bancakan birokrat serta jualan berbagai dagangan-dagangan kampus. Kasus jual beli ijazah bertebaran di mana-mana. Oknum-oknum yang hanya hanya ambil enak tanpa harus masuk kuliah dan tak perlu capek-capek kerjakan tugas atau laporan. Para jajaran kampus cari-cari keuntungan dan main belakang dengan mafia, cermin pendidikan tinggi masa kini.

Pendidikan di masa lalu dijadikan para pendiri bangsa untuk membebaskan belenggu dari kolonialisme. 73 tahun Indonesia merdeka secara penuh. 

Apakah pendidikan kita sudah merdeka? Sedangkan sekarang pendidikan sekarang justru dijadikan alat untuk mencetak tenaga-tenaga pabrik, dididik menjadi penyembah korporasi, insan terdidik diajak tunduk terhadap pimpinan.

Semua dibatasi ruang geraknya. Kebebasan berpikir dan kemampuan seseorang hanya dinilai dari nilai skala A sampai E dan hitungan angka semata. Ketika seseorang nilai mendapat E maka mereka sebut mereka bodoh.

Semua orang akhirnya akan berada dalam tuntutan. Mau dan tidak mau akan masuk kedalam siklus dimana sistem konspirasi tersebut. Kita harus mau mengakui bahwa pendidikan sekarang bicara soal uang dan uang. Mulai biaya pendidikan yang tinggi, biaya hidup yang tidak sedikit, dan semua pada akhirnya berujung pada uang.

Orang diajarkan mindset dan menilai kesusksesan adalah dengan pekerjaan layak dengan gaji tinggi dan pasangan ideal. Karena pada akhirnya semua terpola pada makna realistis dan materialis. Pemikiran kita adalah pemikiran gaya hidup sinetron yang gelamor.

Heran saja ketika tujuan pendidikan tinggi menjadikan insan yang berintelektual kini dibatasi dengan berbagai standart pabrik-pabrik buruh kerja. Karena pada dasarnya mahasiswa dibangku kuliah bukan disiapkan sebagai perubah namun menjadi hamba dengan doktrin normatif. Datang dan duduk dicekoki teori diberikan berbagai midshet materialistis dengan  menghamba pada uang. Berburu Indeks Prestasi Komulatif setinggi-tingginya sebagai targetnya.

Mereka meyakini bahwa dengan nilai yang tinggi akan menjamin segalanya. Kelak semakin lama manusia akan menjadi individualistis dan dan semakin lama manusia akan merasa tidak membutuhkan orang lain. Pendidikan adalah alat pembebasan untuk berfikir, dan berekspresi dengan daya dan kemampuan kita kini mundur.

Lantas bagaimakah Indonesia menjawab dan menghadapi dilematika yang demikian?. Berbagai macam persoalan di usiamu kini. Melihat berbagai kebijakanmu yang dinilai setengah-setengah. Membawa tanggung jawab tugas mulia Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Semua kebijakan dipenuhi dengan politisasi. Mulai dari kebijakan satu golongan, hanya golongan-golongan tertentu yang diayomi. Informasi beasiswa tidak dipublikasikan secara terang-terangan hanya orang-orang tertentu yang tau akan akses tersebut. Serta proses dan alurnya masih menjadi tanda tanya.

Setiap tahun berapa ribu siswa yang diterima menjadi mahasiswa baru seluruh Indonesia? Dan seberapa siapkah para sarjana untuk menganggur. Entah pertimbangan apa yang melandasi hal tersebut. Presentase jumlah lulus dan jumlah masuk yang tidak seimbang tentu akan menumpuk dan membludaknya jumlah mahasiswa.

Belum lagi masalah jumlah rasio antara mahasiswa dengan dosen yang tidak berimbang. Idealkah dalam satu kelas terdiri dari lebih 40 mahasiswa?. Mencari sebanyak-sebanyaknya namun memberikan seadanya. 

Jumlah besar harus didukung sarana dan prasarana yang mendukung civitas akademika. Jumlah dosen yang tak sebanding, belum ada dosen yang terlalu sok sibuk karena mendapat surat tugas ini dan itu. Sementara beberapa Laboratorium penunjang masih vakum. Beberapa fasilitas mendasarpun mulai dari pembelajaran hingga fasilitas lainya masih memerlukan perhatian lagi. Hal ini tentu kesemuanya akan menentukan bagaimana luluan ada.

Setiap mahasiswa memiliki kewajiban dan hak. Kewajiban untuk melakukan pembayaran administrasi setiap semester dan tentu kita memiliki hak mendapatkan pengajaran yang layak dan sebaik mungkin. Bagaimana mungkin pengajaran yang baik didapat bila dosen sendiri jarang hadir. Bahkan beberapa oknum dosen dalam satu semester tidak pernah mengajar.

Memang pusat pembelajaran bukan hanya di dosen dan bisa dimana saja dengan siapapun juga. Namun bagaimanakah tanggung jawab dosen yang memiliki fungsi pengajaran? Lebih mementingkan urusan tugas dan job lain diluar. Belum lagi masalah angka rasio dosen dan mahasiswa yang tidak ideal. Harapan untuk mendapatkan output yang berkualitas dan berdaya saing tentulah hanya akan menjadi jargon omong kosong saja.

Gedung yang kokoh ini akan roboh bila tak dibangun dengan pondasi yang kuat. Akan cepat keropos pula bila didalamnya hanya memelihara rayap-rayap pemakan segala. Sekiranya ingatlah umurmu kini, usia mu semakin tua. Makin tua cepatlah sadar akan kelak mati mu Tuhan mau mengampuni mu. Namun sebelum kematianmu tiba, masih banyak pekerjaan rumah yang harus kau seleseikan, sebelum semua bergejolak dan semakin parah.

Nampaknya kita harus berbenah dan bercrmin diri. Lalu pembangunan yang baik bukan pembangunan beton. Pembangunan manusialah yang paling penting. Semua pula tidak bisa ditangani yang berkewenangan saja, namun semua civitas akademika, mahasiswalah sebagai pelopor, penggerak, jangan diam, harus kreativ.

Tantangan semakin tinggi menghadapi zaman. Mengikuti arus boleh saja, namun jangan hanyut olehnyaWahai kampus masihkah kau main monopoli serta terus mencetak generasi buruh? Pertanyaan kecilku dalam hati.