Kemunculan Nurhadi-Aldo di jagat media sosial seakan menunjukan bahwa suasana Pilpres kini diiringi dengan berbagai ketegangan dan intrik. Sehingga perlu ada upaya untuk menjadikannya lebih asyik.

Memasuki penghujung tahun 2018, lini masa saya mulai ramai diisi oleh foto dua bapak-bapak yang wajahnya sangat asing. Tidak lain dan tidak bukan kedua bapak-bapak tersebut ternyata adalah Nurhadi dan Aldo, paslon poros ketiga—yang tentu saja fiktif—untuk Pilpres 2019.

Bisa dikatakan, saya sudah cukup sering melihat meme-meme yang beredar di media sosial mengenai calon yang akan berkompetisi pada pemilu. Saking seringnya, saya sudah hafal dengan model joke yang dibuat. Hal tersebut menjadi membosankan bagi saya. 

Namun berbeda dengan apa yang diposting oleh paslon yang memiliki akronim "Dildo" ini. Postingan yang pertama kali saya lihat berisi foto Bapak Nurhadi dengan quote yang menyentil soal pemikiran Karl Marx. Isinya begini: “Jika Karl Marx memimpikan tatanan masyarakat tanpa kelas, lalu di mana kita akan belajar?”

Setelah mengamati secara singkat, saya jadi berpikir bahwa apa yang sudah dilakukan oleh akun nurhadi_aldo ini bukan hanya memunculkan kritik akan apa yang terjadi pada Pilpres 2019, tapi juga membawa harapan akan suasana Pilpres yang sehat dan asyik. Seperti nama koalisi mereka, yaitu Koalisi Indonesia Tronjal Tronjol Maha Asyik. Ada beberapa alasan yang mendasari pemikiran saya tersebut.

Menjadi Poros Ketiga, Penawar dari Dikotomi yang Ada

Pilpres saat ini sangat jelas kondisinya mendikotomi orang, terutama para pemilih. Ketika ada orang yang mengkritik Pak Prabowo, ia dengan mudahnya akan mendapat julukan cebong. Dan sebaliknya, ketika ada yang mengkritik Jokowi, maka otomatis dia akan dituduh sebagai kampret. 

Rasanya para pemilih Pilpres besok cuma bisa milih mau jadi cebong, kampret, atau golput sisan! Saya—dan mungkin banyak orang—yang tidak mau mendapat julukan tersebut lantas memilih diam, karena saya adalah manusia bukan cebong ataupun kampret. Pasca melihat kemunculan Nurhadi-Aldo ini, saya jadi yakin, saya bukan cebong atau kampret, tapi saya adalah dildo!

Ya, benar, banyak masyarakat yang jengah dengan kondisi dikotomi ini. Dan Nurhadi-Aldo ini seakan menjadi penawar dari dikotomi yang ada.

Berkampanye secara Programatik, Tidak Ketokohan

Berkampanye secara programatik artinya apa yang ditunjukkan dari sang calon adalah visi, misi, gagasan, dan program apa saja yang akan dilaksanakan jika terpilih. Tentu ini merupakan hal yang pentung untuk disampaikan kepada masyarakat—terutama para pemilih—agar mereka dapat memilih secara rasional. 

Namun yang terjadi belakangan tidak demikian. Banyak masyarakat yang terjebak akan politik ketokohan pada calon yang akan berkompetisi. Dapat dilihat pada apa yang terjadi saat Pilkada DKI 2017. 

Hawa panas yang menyelimuti suasana Pilkada DKI tersebut tidak lain tidak bukan karena maraknya politik ketokohan. Katakanlah para pendukung Anies, mereka menyerukan untuk memilih Anies Baswedan dengan kampanye bahwa pemimpin itu harus Islam. Sedangkan Ahok adalah bukan Islam—dan penista agama—yang tidak pantas untuk dipilih. 

Dengan narasi demikian, politik identitas menjadi lahan subur bagi para elite politik untuk memobilisasi masyarakat. Tentu memilih calon atas dasar persamaan agama tidak dilarang. Namun visi, misi, dan program yang diusung mutlak harus dilihat pula. 

Kontestasi Pilpres 2019 ini politik ketokohan masih sering ditemukan. Duel siapa yang lebih ‘Islam’ menjadi lahan kampanye bagi kubu masing-masing. Proses politik ketokohan ini dikhawatirkan akan menyebabkan pengultusan terhadap tiap calon dan para pemilih bak menjadi fans club bagi bagi para calon. Memandang Jokowi layaknya memandang Aliando Syarief, dan memandang Prabowo layaknya memandang Raffi Ahmad. 

Proses ini pada akhirnya menjadikan pembahasan mengenai visi, misi, gagasan, dan program calon menjadi menguap dan tidak dipedulikan oleh para pemilih. Berbeda dengan apa yang dikampanyekan pleh Nurhadi-Aldo. Sejak pertama kali muncul ke jagat media, pasangan Nurhadi-Aldo sudah mengenalkan programnya yang bernama Kulum Pentil alias Kurikulum Pendidikan Tingkat Lanjutan.

Program lain yang diusung tidak kalah unik, mulai dari Peju (Perekonomian Juara), Kampang Pantek (Kampung Terbelakang Pandai Teknologi), Prostat Bau (Program Subsidi Tagihan Warnet bagi Umum), hingga Peli Gajah (Program Legalisasi Ganja Halal). 

Semua program tersebut sangat unik dan sangat mudah diingat oleh masyarakat. Bahkan program-program tersebut menjadi perbincangan oleh beberapa teman saya. Tidak ada yang peduli Nurhadi dan Aldo itu agamanya apa, keturunannya siapa, atau bahkan berafiliasi dengan siapa.

Tidak Pernah Menggoreng Isu

Hal yang menjadi tontonan masyarakat kini bukanlah adu gagasan atau saling mengkritisi program, yang ada adalah tiap kubu saling menggoreng isu. Apa pun yang dilakukan oleh satu kubu bisa dijadikan bahan untuk siap digoreng. Kesalahan atau keluputan calon layaknya seperti adonan bakwan yang siap dimasukkan ke minyak panas. Bahkan urusan ucapan natal pun tak luput menjadi bahan menggoreng. 

Video Ma’ruf Amin mengucap selamat natal dan Prabowo yang berjoget saat perayaan natal menjadi bukti. Diskusi-diskusi yang muncul lagi-lagi soal hal-hal kecil yang lagi-lagi melupakan hal-hal yang bersifat programatik. Berbeda dengan pasangan Nurhadi-Aldo ini, dari awal muncul sampai detik ini tidak pernah saya lihat akun tersebut beserta tim suksesnya membahas (baca: menggoreng) isu remeh-temeh, baik yang ada di kubu Jokowi maupun Prabowo.

Mungkin secara sekilas kemunculan Nurhadi-Aldo seperti sebuah lelucon belaka. Namun saya tetap berpikir bahwa ini bukan hanya soal lelucon untuk sekadar menghibur netizen. Pasangan ini muncul atas dasar keresahan akan ketegangan dan intrik yang menyelimuti suasana Pilpres saat ini. 

Nurhadi-Aldo beserta para timsesnya seakan membawa harapan bahwa Pilpres 2019 yang tinggal beberapa bulan haruslah diisi dengan konten-konten yang programatik serta dibalut dengan suasana yang sehat dan asyik. Jadi kepada kubu Jokowi dan Prabowo, tolong contohlah Nurhadi dan Aldo ini!