Dewasa ini, karakter keberagamaan sebagian masyarakat Muslim Indonesia cenderung eksklusif, fundamentalistik, kultus, dan ekstrem. Kecenderungan tersebut berakibat pada sikap tidak terbuka terhadap perkembangan zaman, tidak kreatif, dan berorientasi ke masa lalu.

Fenomena-fenomena tersebut tampak, misalnya, dalam prasangka-prasangka buruk terhadap yang berbeda dengan mereka. Sikap-sikap tersebut patut untuk dikoreksi dan dipikirkan ulang lewat pemahaman yang holistik dari Alquran dan hadis.

Jika direnungkan kembali kemunculan fenomena tersebut, maka dapat diambil asumsi bahwa pemahaman Muslim Indonesia terhadap agama mereka sendiri belum mencapai derajat yang disebutkan dalam Alquran dengan kâffah atau utuh/menyeluruh. Sebagian Muslim Indonesia justru bersikap fanatik. Hal ini mengakibatkan pada kemunculan friksi-friksi, baik di kalangan internal Islam maupun eksternal antargama.

Meskipun sebenarnya hal semacam ini kebanyakan terjadi di dunia maya. Namun, jika terus terjadi, bukan tidak mungkin dalam jangka waktu ke depan dapat berakibat pada disintegrasi sosial dan degradasi moral bangsa dan negara. Melihat situasi dan kondisi sedemikian rupa, sekiranya penting untuk dikemukakan kembali pemikiran-pemikiran yang lebih inklusif, terbuka, dan toleran.

Dalam sejarah pemikiran Islam Indonesia, beberapa cendekiawan Muslim telah berusaha menggagas sebuah konsep Islam yang ramah, tidak kaku, dan tidak rigid serta sesuai dengan kultur-sosial kehidupan masyarakat Indonesia yang plural. Pada tulisan ini, saya memilih salah satu cendekiawan yang berhasil menggagas konsep tersebut, yaitu Nurcholish Madjid atau Cak Nur.

Cak Nur, oleh beberapa akademisi, dianggap berhasil memberikan gagasan Islam ramah yang diejewantahan dari Alquran dan hadis untuk kepentingan kehidupan keberagamaan masyarakat Muslim Indonesia. Upaya ini bertujuan agar masyarakat Muslim Indonesia mampu hidup lebih terbuka, adil, dan demokratis.

Selain melalui konsep integrasi keislaman dan keindonesiaan serta integrasi keislaman dan kemodernan, Cak Nur juga berhasil mengelaborasi apa yang disebut dalam Alquran dengan "hanif".

Konsep keislaman yang hanâfiyat al-samhah atau keislaman yang hanif merupakan istilah yang berasal dari Alquran surah al-Rum ayat 30. yang artinya, “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”

Dengan mengutip dan mengembangkan istilah yang dikemukakan ayat di atas, Cak Nur mengungkapkan bahwa keislaman yang hanif selaras dengan fitrah manusia. Fitrah manusia itu sendiri, oleh Cak Nur, dibagi menjadi dua, yaitu fithrah munazzalah dan fithrah mujâbalah.

Secara sederhana, fithrah munazzalah adalah fitrah yang diturunkan, sedangkan fithrah mujâbalah adalah fitrah yang tertanam kokoh dalam diri manusia, yaitu hati nurani. Sementara hati nurani itu sendiri dimaksudkan sebagai hati yang penuh kebaikan yang merupakan fitrah kemanusiaan. Dengan demikian, seseorang yang hidup sepenuhnya dengan hati nurani akan memenuhi apa yang merupakan inti ajaran agama (Islam).

Di samping itu, ditinjau dari aspek perkembangan zaman, keislaman yang hanif dapat dipahami sebagai fondasi teologis bagi pemahaman masyarakat Muslim agar dapat menerima sepenuhnya ide-ide kemajuan yang telah direnungkan dalam sejarah pergulatan pemikiran modern.

Fondasi teologis tersebut dianggap penting, karena sampai saat ini masih terdapat sebagian kalangan yang menolak ide-ide kemajuan. Salah satu alasannya adalah karena apa yang disebut kemajuan atau modern sering kali diasosiasikan berasal dari Barat, yang secara simplikatif dianggap "kafir" atau "non-Muslim".

Konsep Islam hanâfiyat al-samhah dapat juga dilihat sebagai sebuah proses pembentukan karakter atau moral individu yang memandang dirinya sebagai seorang hamba (‘abdun). Cak Nur menjelaskan bahwa Muslim yang demikian cenderung berpikir, bersikap dan berlaku terbuka, adil dan demokratis serta selalu mengacu kepada kebenaran dan objektivitas. 

Atas dasar itu, dapat dikatakan bahwa orientasi pemikiran Cak Nur tersebut bukan pada segala aktivitas yang eksplisit di kehidupan bermasyarakat itu sendiri, melainkan hanya memberi asupan dan bekal kepada masyarakat mengenai nilai-nilai dan norma-norma kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pandangan Cak Nur tersebut disinyalir karena ia mengetahui dan memahami bahwa setiap lingkungan masyarakat itu saling berbeda satu sama lain, sehingga tidak tepat ketika suatu permasalahan di satu lingkungan dengan lingkungan lain dipecahkan melalui cara yang sama.

Namun, perlu segera ditegaskan bahwa implementasi keislaman yang hanif secara utuh dan menyeluruh ini, agar tidak terjebak pada hal-hal yang dalam jangka panjang dapat berakibat pada disintegrasi dan degradasi, dibutuhkan peran yang lebih aktif atau proaktif dari berbagai lembaga dan institusi keagamaan di Indonesia. 

Dengan demikian, jika institusi dan lembaga keagamaan proaktif mengampanyekan keislaman hanâfiyat al-samhah, dan mampu diinternalisasikan kepada setiap Muslim Indonesia, maka kemunculan sosok yang terbuka pada kebenaran, yang membawa pada kelapangan hidup, dan tidak bersikap eksklusif, fanatik dan intoleran adalah keniscayaan.