Kita tidak bisa terlalu percaya padanya, atau sedikit percaya, atau agak percaya. Kita percaya atau tidak percaya, tanpa jalan tengah.

Kepercayaan mirip kehamilan, karena mengandung sesuatu yang paling berharga, harapan tak bersyarat. Dia pun mempunyai unsur diskrit: iya atau tidak – seorang perempuan tidak mungkin "hampir hamil" atau "sangat hamil," begitu juga kita tidak bisa "separuh percaya."   

Kepercayaan selalu mengingatkan saya tentang sebuah buku. Entah mengapa saya tidak jatuh cinta pada pengarangnya, Salman Rushdie. Meskipun dia jenius, saya enggan membacanya, barangkali karena dia terlalu bagus. Tapi buku yang satu ini saya sangat suka: Shalimar the Clown, sebuah roman yang tidak terlalu terkenal dan tidak terhitung sebagai karya dahsyat.

Kisahnya mulai di sebuah kampung imajiner yang berdekatan dengan Srinagar, ibukota Kashmir. Saya belum pernah ke sana, meskipun ini adalah salah satu wilayah yang paling saya rindukan dan ingin saya kunjungi. Di situ Rushdie bercerita tentang sejarah, perlawanan untuk kemerdekaan, kebencian, nafsu, dan pengkhianatan.

Kepercayaan juga mengandung pengkhianatan. Benihnya, berbeda dengan janin, kita berharap tidak akan pernah berkembang, karena ia lahir melalui kematian segalanya – silaturahmi, cinta, kasih. Di buku Rushdie pengkhianatan demi kekuasan atas tanah, harta, badan dan hati nurani orang lain membinasakan semua ikatan antar manusia.

Barangkali ikatan-ikatan itu tidak mungkin tumbuh tanpa persetujuan untuk menerima khianat. 

"Kepercayaan" juga terlalu luas untuk bisa membawakan kita langsung pada hubungan antar manusia saja. Tapi mungkin ini adalah sifat hakikinya, bahwa kita ingin merasakannya sebagai sesuatu yang lebih mulia.

Andaikan dalam bahasa Indonesia kepercayaan mendekati keyakinan, di bahasa Polandia ia lebih mirip kepasrahan. Karena itu saya mudah percaya pada orang Jawa – mereka juga bisa pasrah bongkokan marang seseorang.

Saya tidak melihat kepasrahan sebagai kesediaan untuk menerima saja. Kita tidak pasif pada saat kita pasrah terhadap orang lain. Kita tetap bertindak, hanya dengan lebih halus. Tindakan itu diarahkan ke dalam diri sendiri – kita membuka, menelanjangi hati dan segala harapan yang memenuhinya.

Di buku Rushdie ada satu kalimat yang membuat saya begitu menyukainya: "Seperti apa kehidupan tanpa bisa percaya pada orang lain, bagaimana ia memungkinkan kegembiraan dan kedalaman hubungan dengan manusia lain?"

Disentuh pengkhianatan, kegembiraan itu menjadi duka, kedalamannya menyiksa. Kawah-kawah kosong, kata Rushdie, akan muncul di hati.

Ketika hati menjadi tidak subur, seperti permukaan bulan, kepercayaan susah tumbuh lagi.

Mungkin ini masokhisme Polandia-Jawa, tapi di situ pun kebahagiaan tetap mungkin, hanya dengan membuka hati lebih dalam lagi, di mana kepasrahan naik (atau turun) dari tingkat relasi antarmanusia ke sesuatu yang aneh, maha halus, di mana kita mampu menerima segalanya di hati yang sedalam-dalamnya, ketika kita nrimo ing pandum.

Di sini muncul lagi sifat hakiki kepercayaan. Dia paling tepat diungkapkan dengan bait seorang penyair Pakistan, Faiz Ahmad Faiz:

"Biarkan ia jadi kesedihan dunia, kepedihan seorang pecinta, atau ayunan dan anak panah nasib yang kejam. Biarkan, biarkanlah semua, sebab hatiku sanggup menampungnya."*

 

*Saya berterima kasih kepada Aan Mansyur yang menerjemahkannya.