Awal tahun 2021, Indonesia telah dihadapkan dengan gempa, banjir, longsor, dan erupsi gunung. Bencana alam yang melanda di berbagai wilayah merupakan kabar duka bagi kita semua di saat pandemi corona belum usai.

Berbicara tentang bencana, sebuah ungkapan seorang profesor dalam novel Hujan karya Tere Liye bisa menjadi renungan bagi kita semua, terutama pemerintah. Novel ini memang bercerita tentang persahabatan, cinta, melupakan, perpisahan, dan hujan. Namun, peristiwa dalam novel ini berkenaan dengan bencana alam.

Sebelum mengulas novel tersebut, saya ingin memberikan satu cerita menarik yang bercerita tentang sapi memberi manfaat pada manusia tapi sapi tidak mau menjadi kucing, kucing memberi manfaat pada manusia tapi kucing tidak mau menjadi tikus, tikus memberi manfaat pada manusia tapi tikus tidak mau menjadi manusia.

Kenapa tikus tidak mau menjadi manusia? Padahal manusia merupakan makhluk diciptakan dalam bentuk terbaik. Mari kita simak kisahnya dalam buku Hidup Jangan Seperti Babi dan Kera yang ditulis oleh Abdillah Firmanzah Hasan.

Suatu hari, penduduk rimba berkumpul dalam sebuah perjamuan yang dipimpin oleh singa, si raja rimba. Pertemuan itu begitu ramai, semua penduduk diundang untuk mengikuti acara tahunan; mulai dari hewan jinak hingga buas.

Raja rimba senang dengan acara seremoni tersebut, ia dapat melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh rakyatnya. Tak ada penduduk yang bersedih hati, semuanya larut dalam kegembiraan. Mereka bernyanyi dan menari dengan riang. Ketika raja rimba naik podium, sesaat rakyatnya terdiam untuk mendengarkan titah sang raja.

Wahai rakyatku, apakah kalian semua yang hadir di sini merasakan kebahagiaan? Kami bahagia, wahai raja rimba. Tuan bisa melihat sendiri bagaimana kami riang bergembira pada malam ini, ujar seekor monyet.

Kami gembira wahai raja, sahut burung rajawali. Kami tidak pernah bersedih hati, timpal seekor kijang. Kami tidak pernah gelisah, imbuh si kancil. Raja rimba mengamati sejenak wajah berseri rakyatnya. Namun, raja belum yakin sehingga memutuskan untuk bertanya pada beberapa rakyatnya yang hadir.

Wahai sapi, bagaimana kehidupanmu saat ini? Aku sangat gembira dan bersyukur diciptakan menjadi sapi, dapat membantu manusia menikmati susuku. Dagingku pun banyak mengandung gizi untuk dimakan. Aku senang menjadi sapi daripada menjadi kucing yang hidup dan tidur di kolong-kolong rumah.

Raja pun bertanya kepada kucing, bagaimana kehidupanmu wahai kucing? Aku tidak pernah bersedih dan selalu senang diciptakan sebagai kucing, aku makan dengan menangkap tikus yang menjadi hama bagi sawah para petani.

Tikus pun ditanya oleh raja, bagaimana denganmu wahai tikus? Wahai raja aku bersyukur diciptakan Tuhan menjadi seekor tikus, karena dapat memakan sisa-sisa makanan manusia yang terbuang percuma. Aku lebih senang menjadi tikus dari pada manusia.

Raja rimba heran dengan pernyataan si tikus, lalu ditanya lagi. Mengapa begitu? Si tikus menjawab, wahai raja rimba, jika menjadi manusia tapi tidak memiliki amal kebajikan, maka tidaklah pantas aku disebut menjadi manusia, sebab manusia telah dianugerahi kesempurnaan akal, pikiran dan jiwa.

Betapa banyak manusia serakah dan membuat kerusakan di muka bumi? Betapa banyak manusia yang berbuat curang, jahil dan dosa sehingga membuat orang lain sengsara? Tidak raja, aku akan tetap menjadi tikus, sampai kapanpun.

Tikus tidak mau menjadi manusia karena manusia telah diberikan akal, pikiran, dan jiwa tapi masih saja serakah dan membuat kerusakan di muka bumi. Nah, apa hubungannya dengan novel Hujan karya Tere Liye ini dengan manusia yang serakah. Mari kita lihat di bawah ini.

Seperti yang saya katakan di atas, ungkapan dari seorang profesor dalam novel Hujan bisa menjadi renungan bagi kita semua. Profesor tersebut mengatakan bahwa manusia sejatinya sama seperti virus, berkembang biak cepat menyedot habis, kemudian tidak ada lagi yang tersisa. Manusia rakus sekali, maka seperti virus, hanya obat paling keras yang bisa menghentikannya.

Obat paling keras tersebut bukan perang atau epidemi penyakit, itu tidak bisa menghentikannya karena ketika wabah penyakit mematikan muncul dan puluhan perang berlalu, manusia justru tumbuh berlipat ganda. Jadi, apa obat paling keras? Obat paling keras adalah bencana alam.

Tere Liye menambahkan penjelasannya yang menyebutkan manusia mungkin saja merasa berkuasa dan spesies paling unggul di atas muka bumi, tapi manusia sebenarnya dalam posisi sangat lemah saat berhadapan dengan alam.

Cerita novel ini terjadi pada tahun 2042 ketika keadaan dunia sudah super canggih dan mewah dengan kemajuan teknologinya, walaupun kecanggihan teknologi telah diraih manusia, tidak bisa lari dari yang namanya bencana alam seperti gunung meletus, banjir, dan perubahan iklim.

Keberadaan teknologi menyebabkan segala aktivitas banyak diperankan oleh robot, ketika bencana alam terjadi, tenaga relawan pun sangat dibutuhkan, yang mana definisi seorang relawan itu sendiri adalah siap berkorban demi kepentingan orang lain dan siap mengutamakan keselamatan orang banyak.

Ada yang menggelitik hati dalam kisah novel ini yaitu dalam keadaan bencana pun masih saja mementingkan kepentingan politik. Para pejabat dalam mengurusi bencana alam hanya basa-basi dan omong kosong saja ketika ada pertemuan, para pejabat tidak pernah berbicara soal ilmu pengetahuan dan pendekatan teknologi.

Para politisi sangat egois dan hanya mementingkan diri masing-masing, ketika datang bencana alam yang lebih besar barulah sadar dan baru berbicara soal ilmu pengetahuan dan pendekatan teknologi.

Bukankah para pejabat dan politisi hari ini begitu? Dalam keadaan bencana pun masih saja mementingkan kepentingan politiknya.

Nah, ternyata ketika terjadi bencana alam seperti gunung meletus, tapi umat manusia tetap bertahan. Manusia seperti virus, rakus menelan sumber daya di sekitarnya, terus berkembang biak hingga semuanya habis, hanya obat paling keras yang bisa menghentikannya dan obat paling keras itu adalah bencana alam.

Walaupun ada bencana alam, manusia tetap bertahan. Karena itu, virus tidak bisa diobati, virus hanya bisa dihentikan oleh sesuatu yang lebih mengerikan daripada bencana alam. Saat manusia merusak dirinya sendiri, menghancurkan dirinya sendiri, barulah manusia akan berhenti.

Manusia lemah jika berhadapan dengan alam, karena itu kalau ingin alam tidak marah janganlah seperti virus yang menggerogoti sumber daya alam. Manusia harus bisa menjaga keharmonisan alam dan hidup secara harmonis dengan alam dengan tidak merusaknya.

Jika manusia diciptakan dalam bentuk terbaik dan telah diberikan akal, pikiran, dan jiwa, kenapa manusia masih merusak alam? Jawabannya satu kata ‘rakus’ dan kerakusan manusia itu hanya bisa dihentikan dengan obat paling keras, yaitu bencana alam.

Info Novel:

Judul Novel : Hujan

Penulis : Tere Liye

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tempat Terbit : Jakarta

Tahun Terbit : Cetakan Ke-35, Januari 2020

Jumlah Halaman : 318