Banyak orang yang salah mengartikan kata kafir. Ada yang menyebut kafir itu adalah seseorang yang mempunyai keyakinan berbeda dengan orang yang mengatakan bahwa dia kafir. Ada juga yang mengatakan kafir itu adalah sebutan bagi orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Fenomena seperti ini yang harus kita luruskan. Apakah orang seperti di atas memang disebut kafir? Atau ada hal lain yang bisa membuat seseorang dikatakan kafir?

Dalam tulisan ini, saya akan coba membahas kafir menurut pandangan Islam sendiri dengan menggunakan dalil Alquran dan hadis. Apakah kafir itu memang identik dengan orang non-muslim atau kafir itu juga bisa orang muslim.

Secara bahasa, kafir itu berasal dari bahasa Arab, yaitu ka-fa-ra yang berarti menutup. Dalam Alquran, petani juga disebut kafir (kuffar) karena dia menggali tanah, menanam biji-bijian, kemudian menutupnya.

Pengertian kafir itu sendiri adalah suatu pengingkaran atau penolakan terhadap sebuah kebenaran yang telah dipahami, diterima, dan diakui oleh seseorang sebagai sebuah kebenaran. Sedangkan orang kafir itu adalah seseorang yang dengan berbagai alasan atau kepentingan diri menyangkal dan bersikap tidak konsisten terhadap kebenaran yang diyakininya.

Menurut Alquran, penyangkalan terhadap kebenaran itu terjadi secara sadar. Kita bisa mengambil contoh terhadap kaum kafir Quraisy yang apabila ditanyakan kepada mereka, "Siapa tuhan kalian?" Niscaya mereka menjawab Allah. Pernyataan itu ditegaskan dalam Q.S Al-Zumar ayat 38.

Orang kafir juga menerima bahwa Muhammad Saw adalah rasul Allah. Tetapi, setelah diturunkan berita dan keterangan-keterangan tentang Alquran kepada kaum tersebut, mereka ingkar kepadanya. Padahal sesungguhnya mereka menginginkan kedatangan seorang rasul.

Sungguh Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang-orang dzalim. Ditegaskan dalam Q.S Al-Baqarah ayat 86, sesungguhnya orang kafir itu ialah orang yang menolak terhadap suatu kebenaran karena kepentingan pribadi.

Dikisahkan dalam sebuah riwayat yang dilaporkan oleh Ibn Hisyam dalam sirah-nya, disebutkan bahwa Abu Sufyan, Abu Jahal, Akhnaf ibn Syuraiq, ketiga-tiganya secara bersamaan (tanpa sepengetahuan satu sama lain) pernah menyelinap di sekitar rumah Nabi Muhammad.

Mereka terkesima mendengar bacaan Alquran yang dilantunkan nabi. Di lubuk hati yang paling dalam, mereka tak dapat menyangkal kebenaran firman yang dibacakan. Kejadian itu terus berulang sampai mereka memutuskan untuk tidak lagi mengulanginya.

Bukan karena hati mereka yang menolak kebenaran Alquran, tetapi lebih ke kepentingan diri sendiri. Karena berbagai alasan dari segi sosial, ekonomi, maupun politik. Sebagaimana yang ditunjukan oleh Hussain Haykal dalam hayat Muhammad bahwa penolakan dan penyangkalan terhadap ajaran yang dibawa Nabi lebih mengarah pada kepentingan sosial.

Abu sufyan tetap bertahan pada agama Arab jahiliah, bukan karena ia meyakini kebenaran agama tersebut, melainkan karena dia tetap mempertahankan kelas sosial pada saat itu. Karena menurutnya lebih menguntungkan daripada mengikuti ajaran Islam.

Bagaimana tidak, Islam datang dengan membawa ajaran kesetaraan antara kaya dan miskin, tua dan muda, kaum biasa dan kaum jutawan, serta menyamakan budak dan majikan. Yang membedakan hanyalah ketakwaan dari mereka.

Perubahan seperti ini yang membuat orang seperti Abu sufyan berat untuk menerima ajaran Islam karena lebih mementingkan kepentingan sendiri. Menurutnya, jika dia menerima ajaran Islam, maka akan ada banyak perubahan dalam kehidupannya yang menurutnya kurang menguntungkan.

Selain itu, ada contoh lain juga yang membuat masyarakat pada waktu itu sulit untuk menerima Islam. Diceritakan sejak masa pra-Islam, kota Makkah sudah menjadi pusat bisnis yang menghasilkan uang.

Karena pada masa itu, kafilah dagang yang akan menuju Yaman, Syam, Mesir, Herat, dan Persia sudah pasti melawati Makkah. Mereka juga sering singgah di kabah untuk menyembah berhala pada waktu itu. Aktivitas ini pun yang membuat area sekitar itu menjadi ramai. Banyak orang yang memanfaatkan tempat tersebut untuk berdagang. Area tersebut juga menjadi area kompetisi para sastrawan.

Tentu saja, bagi pemikiran orang Arab saat itu, jika mereka menerima Islam yang antipaganisme, maka akan turun nilai ekonomi dan hilangnya sumber kekayaan bagi pembesar arab di masa itu. Artinya, faktor ekonomi dan politik yang menjadi alasan atas penolakan atau penyangkalan terhadap ajaran Islam yang dibawa Nabi pada waktu itu, bukan karena keyakinan teologis dari mereka.

Maka, kesimpulan sementaranya adalah, jika seseorang tidak menerima Islam karena ketidaktahuan atau argumen tentang Islam yang masuk kepadanya itu tidak meyakinkan, maka orang tersebut tidak bisa semerta-merta disebut kafir

Kalau menurut ulama shalaf dan khalaf, harus ada kepemilikan pengetahuan yang meyakinkan tentang kebenaran Islam atau biasa mereka sebut qiyam al-hujjah kepada orang tersebut sebelum mengatakan bahwa seseorang kafir ketika dia mengingkarinya. Dan, menurut Rasyid Ridha, seseorang dikatakan kafir jika telah sampai kepadanya dakwah Nabi Muhammad secara meyakinkan kepadanya, namun ia tetap mengingkari dan menolaknya.