Dalam sunyi malam ganggang menari
Menurut beta punya tifa,
Pohon pala, badan perawan jadi
Hidup sampai pagi tiba.

Mari menari!
mari beria!
mari berlupa!

  - Chairil Anwar


Kita rasanya perlu membicarakan Nietzsche lagi. Kita berada di sebuah masa ketika sejumlah besar penganut agama hendak memanggungkan Tuhan dengan gemuruh, dengan rasa dendam kepada dunia, dengan rasa marah dan dengki (ressentiment) kepada kehidupan yang mereka anggap tak suci, dengan sikap ingin lekas-lekas mencapai kehidupan setelah ini. Hampir tiap hari dunia menyaksikan aksi pembom bunuh diri atas nama iman dan untuk akhirat — mereka yang oleh Nietzsche akan dinamai sebagai para “penista hidup”, Verächtern des Lebens.

Di hadapan keadaan macam itulah Nietzsche membuka satu perspektif lain: ia tak menista. Ia mengatakan “ya” kepada hidup, mengisbatkannya, bahkan merayakannya. Ia tahu hidup mengandung kepedihan dan kekecewaan, tapi “disposisi tragis” itu tak mengharamkan unsur negatif dan destruktif itu. Malah menerimanya: penderitaan adalah bagian dari yang indah dan sejati. Amor Fati: cintai nasib, seutuhnya.

Sangat tepat A. Setyo Wibowo dalam buku pengantar tentang pandangan Nietzsche ini*) membuka uraiannya dengan sebuah paparan tentang penyakit yang diderita pemikir itu — penyakit yang nyaris melumpuhkannya tetapi ia atasi sendiri. Dalam pergulatan itu, kata Setya Wibowo, Nietzsche “memasuki pengalaman sakit, mengolahnya, dan membangun filsafatnya yang khas”. Ia menemukan betapa bernilainya kehidupan. Bukunya, Götzen-Dämmerung, oder Wie man mit dem Hammer philosophirt, (Senjakala Berhala-berhala, atau Bagaimana Berfilsafat dengan Palu), mengingatkan kita akan rasa sakit yang ditanggungkan seorang ibu waktu melahirkan: dari dan dalam kesakitan itu kemudian datang sesuatu yang baru. Rasa sakit adalah sebuah kontras yang niscaya, tak dapat dielakkan, dan punya nilai tersendiri.

“Dalam diri manusia, ciptaan dan pencipta bersatu: dalam diri manusia ada materi, serpihan, ekses, lempung, najis, nonsens, khaos; tapi ada juga sang pencipta, pemahat, kerasnya palu, kebaikan hati penonton, dan hari ketujuh — mengertikah kau akan kontras ini? Tubuh mesti dibentuk, dibuat lecet, dijerang, dicetak, dipanggang, dan dihaluskan — artinya, tubuh harus menderita.” 

Sikap menerima hidup seperti itu — mengatakan ‘ya’ kepada hidup meskipun dirundung “masalah yang paling aneh dan berat”, kata Nietzsche — adalah kemauan yang mengandung gairah dewa anggur, musik dan tari: impuls Dionysius.

***

TARI

Bukan kebetulan Nietzsche memakai tauladan dari mithologi Yunani pra-Kristen, khususnya dewa anggur dan musik itu. “Agama Kristen,” tulisnya dalam Die Geburt der Tragödie, “sejak awalnya, secara fundamental dan secara hakiki, adalah bentuk rasa mual dan muak kepada hidup”. Sebaliknya Dionysius: ia menggambarkan dorongan vital yang meluap, riang yang menggebu, kacau tapi asyik seperti karnaval — saat manusia belum melepaskan diri dari alam dan menaklukannya dan juga ketika manusia belum diyakinkan agama-agama bahwa akhirat lebih berharga ketimbang dunia.

Dalam pesona Dionysus, bukan hanya pertautan sesama manusia diteguhkan, tapi Alam, yang telah jadi asing, tak ramah, atau ditaklukkan, merayakan lagi rekonsiliasinya dengan anaknya yang nakal, manusia... Kini budak jadi bebas, kini runtuh pagar-pagar yang keras kepala dan ketus, yang didirikan oleh keharusan, oleh laku sembarangan, atau "cara yang tak tahu malu"...Tiap orang merasa diri bukan sekedar bertaut, rukun kembali, berbaur dengan tetangganya, tapi semua seakan-akan lebur menyatu dengan tetangganya...Dalam lagu dan tari manusia mengeskpresikan diri sebagai anggota sebuah komunitas yang lebih luhur; ia telah lupa bagaimana berjalan dan bicara, ia hampir-hampir terbang menari ke angkasa ..Ia merasa dirinya dewa, berjalan ke sana ke kemari seakan-akan tersihir, dalam gembira lena...

“Dalam lagu dan tari“….”Ia hampir-hampir terbang menari…”. Dalam pelbagai tulisannya, Nietzsche menggunakan “tari” dan “menari” sebagai salah satu kiasan yang utama.

Sebuah tari mengandung “permainan simetri dalam pelbagai jenis — dan sebuah cemooh terhadap simetri itu.” Dengan kata lain: paradoks dan permainan. Itulah juga corak hidup: gerakan tenang atau lincah, perubahan dan kontradiksi yang tak henti-henti. Dan memikat. Tuhan yang memahami ini adalah Tuhan yang tak kaku dan mandeg seperti patung besar yang berat yang menekan bumi manusia. Kata-kata Nietzsche yang terkenal: “Aku semestinya beriman kepada satu Tuhan yang tahu bagaimana menari”.

Satu pasase di bagian awal Also Sprach Zarathustra:

Suatu senja pergilah Zarathustra dan murid-muridnya menembus hutan. Tatkala mencari sebuah sumur, ah, pandangnya tertumbuk pada sebentang padang hijau yang dikelilingi semak dan pohon: di sana gadis-gadis tengah menari. 

Ketika mereka mengenali Zarathustra, mereka berhenti. Tapi Zarathustra mendekat dengan wajah ramah, seraya berujar:

“”Jangan kalian berhenti menari, para jelita! Yang datang ini bukan pengganggu permainan, tak bermata keji, bukan musuh para dara. Tuhan menganjurkanku bersama iblis: tapi iblis adalah roh yang membenam-memberat. Bagaimana mungkin aku, wahai kaki-kaki lentik yang ringan, akan memusuhi tarian yang maha indah, memusuhi kaki perawan yang lemah gemulai?”

Dalam perumpamaan Nietzsche, tari, gerak yang ringan, lincah, adalah antithesis terhadap kecenderungan hidup yang digondeli apa yang disebutnya sebagai “semangat membenam memberat,” der Geist der Schwere. Kepada para gadis yang ditemuinya di hutan itu Zarathsutra menganjurkan mereka terus menari, diikuti sebuah lagu — “sebuah lagu untuk….mencemooh semangat yang membenam memberat”. Semangat inilah sesungguhnya, ujar Zarathustra, “setan yang paling perkasa, setan yang paling puncak, yang konon maha-tuan dunia.

Tak pernah jelas benar apa sebenarnya maksud Nietzsche dengan semangat yang angker itu. Nietzsche bukan jenis penulis filsafat yang merangkai konsep; ia penyair yang melontarkan imaji, beraneka kalimat figuratif, tanpa definisi. Zarathustra penuh dengan flora dan fauna — onta, elang, singa, ular, clurut, tarantula, pohon zaitun… Tiap bagian punya sudut-sudut yang enigmatis. Gambaran tentang der Geist der Schwere baru kita temukan agak jelas dalam sebuah parabel yang surrealistis dalam Zarathustra.

SyahdanZarathustra bercerita kepada para muridnya tentang perjalanannya mendaki gunung; ia melangkah di antara tumpukan karang, menapak lintasan yang senyap. Di pundaknya duduk seorang cebol, atau lebih tepat “setengah-cebol, setengah-clurut” (Maulwurf), yang lumpuh, tapi juga melumpuhkan, yang meneteskan cairan timah ke telinga Zarahustra dan “pikiran-pikiran” ke dalam otaknya. Dialah, kata Zarathustra, “semangat membenam-memberat”, “setan dan musuh besarku”.

Mahluk ini mengejeknya: “Kau, kebijaksanaan yang keras bagai batu! Kau lontarkan dirimu jauh tinggi, tapi setiap batu yang terlontar pasti jatuh!”

Setelah itu si mahluk cebol diam. Tapi justru kebisuannya menekan perasaan Zarathustra. Hanya kemudian, setelah empat hari perjalanan, ia mengatasi kegalauannya. Ia tak takut lagi. Jatuh adalah bagian dari gerak hidup.

Tak mudah menafsirkan metafor yang dipilih Nietzsche. Tapi kita bisa meraba, bahwa kata “lumpuh” dan “melumpuhkan”, juga “tetesan cairan timah” yang “masuk ke dalam telinga”, menyarankan sebuah citra yang membebani dan meniadakan gerak. Bagi saya, imaji-imaji der Geist der Schwere atau the spirit of gravity itu mengacu ke sikap “serius, mendalam, khidmat” tipikal para theolog dan ahli hukum agama. Para theolog, kata Nietzsche, yang mengedepankan desain tentang “sebuah tata moral dunia”, terus merecoki usaha orang yang tak bersalah untuk naik ke depan; mereka mencemarinya dengan khotbah tentang hukuman dan dosa. Ini terutama diartikulasikan agama “Yudaisme Tidak” yang diuraikan Setyo Wibowo dengan gamblang dan tajam di bagian akhir bukunya.

Sikap seperti itu membuat hidup beku, tak spontan, diberati ajaran-ajaran yang menetap, kesimpulan yang tegar tentang kesalehan dan kesalahan, tentang yang patut dan tak patut, tentang surga dan neraka. Agama jadi “metafisika algojo”, Metaphysik der Henkers. Hidup pun dikuntit dan ditelikung rasa bersalah, atau perasaan kekurangan, atau takut kematian, atau kecemasan akan nasib dan ketidak-pastian.

"Hidup dan bumi jadi tampak gawat". Manusia melihat ke dalam diri dan sekitarnya dengan waswas, dan menciptakan batas-batas yang ketat, yang ingin kekal dan berlaku kapan saja, "baik buat semua, keji buat semua", disertai alasan-alasan yang berlapis-lapis. Untuk itu manusia memikirkan dan merumuskan agama, membentuk sistem filsafat dan ideologi. Ia tak membuka ruang yang khusus untuk tiap-tiap “aku” dan “kau” yang berbeda dan berubah dan tak terduga. Ia menekan, membenam, memberat. Akhirnya kita yang “terlalu lelah untuk mati” hidup terus, tapi “dalam ruang-ruang pemakaman”.

Tarian membebaskan diri dari itu. Ekspresi tubuh itu penting untuk menyambut hidup dengan riang, ringan hati, berani, tanpa beban, dengan tawa lepas. Zarathustra menunjukkan dirinya:

Zarathustra, sang penari; Zarathustra, si ringan yang menggamit dengan sayap-sayapnya, beranjak terbang, mengajak burung-burung, bersiap dan bersemangat, suka cita

Di sini pula Zarathustra mencerca “manusia yang lebih luhur”: “Yang terburuk tentang diri kalian, kalian belum belajar menari sebagaimana orang harus menari!”.

Tarian tak berarti sepenuhnya impuls. Di bagian ketiga Zarathustra kita dapatkan Zarathustra menari bersama Hidup, yang digambarkan sebagai seorang perempuan. Adegan ini sepenuhnya alegoris, tapi menarik untuk melihatnya sebagai tarian dua orang: yang satu mengikuti yang lain, meskipun dengan kelincahan yang beda, berganti-ganti antara lepas dan lekat.

Di sini kita melihat tarian yang tak sepenuhnya digerakkan pukau Dionysus, di mana sang penari sepenuhnya pasif terbawa keasyikan karnaval mengikuti sihir sang dewa. Di sini tarian adalah respons terhadap penari lain; kakinya yang “mabuk” itu mungkin ingin “menari melintasi semua langit”, tapi sang penari tak hanyut setengah sadar. Seperti dikatakan Nietzsche, dalam diri manusia pencipta bukan hanya Dionysus yang berkuasa; ada juga impuls Apollo, kecenderungan menata konstruksi yang stabil, membentuk kosmos. Deleuze pernah mengutip sebuah kata untuk paduan dan kontras itu: khaosmos, antara ekspresi lepas, improvisatoris, dengan sebuah bentuk yang mewujud.

Dalam tari, dalam hidup, kata Nietzsche, “yang kebetulan dan yang niscaya, yang tak bisa dielakkan, bermain bersama, juga ketegangan pertentangan dan harmoni.”

Pada akhirnya, seperti ia katakan di ujung perjalanannya, “Zarathustra bukanlah taufan tornado ataupun angin puyuh, dan jika pun ia penari, ia bukan lagi penari tarantella”. 

***

TUBUH

Bangunkan hatimu, saudara-saudaraku, tinggi, lebih tinggi! Dan jangan lupa, kakimu! Angkat kakimu juga, penari piawai, dan akan lebih baik lagi jungkirkan tubuhmu! 

Dengan tarian sebagai perumpamaan atau kiasan, Nietzsche memberi aksen istimewa kepada tubuh. Ini juga bagian penting dalam kritiknya kepada pandangan Platonis dan kepada agama. Dalam filsafat Plato, dalam agama, dalam hukum yang universal, tubuh cenderung dinistakan: ia tempat najis, ia tempat yang rumit, labil, dan tak sempurna; ia membuat manusia terbatas dalam mencapai kekekalan dan kemurnian.

Tapi bagi Nietzsche, seperti tersebut dalam bab 4 Zarathustra, tubuh justru "kearifan yang luas" (eine grosse Vernunft), yang dengan kebesaran hati menampung segala kontradiksi: "sebuah multiplisitas dengan satu arti, sebuah perang dan sebuah damai, serombongan ternak dan seorang gembala". 

Di bagian itu juga Zarathustra menegaskan:

Tubuh, itulah aku, juga sukma” — begitulah kata si anak…Namun ia yang terjaga dan mengetahui berkata: tubuh adalah akoiiopu seluruhnya, tak ada yang lainnya, dan sukma hanyalah sepatah kata untuk menunjuk sesuatu tentang tubuh.”

Sukma, kesadarandiri manusia — hidup dalam tubuh; seluruh dirinya adalah tubuh. Tak ada sukma sebagai o Marx dan Freud. Bagi pandangan historis materialis Marx, “sukma” dan “kesadaran” bertolak dari yang jasmani, yang material. Bagi Freud, dari nafsu yang tersembunyi di bawah-sadar; karya manusia yang disebut peradaban adalah sublimasi dan pengendalian nafsu-nafsu itu. Bagi Nietzsche: naluri dalam diri manusia bukanlah sesuatu yang rendah, melainkan sebuah kekuatan hidup dan sumber kehendak ośtrrpuntuk berkuasa yang pada gilirannya oo peradaban. Manusia, kata Nietzsche, sebagaimana dikutip Setyo Wibowo, bukan “perekam tanpa jeroan”.

Di belakang pikiran dan perasaan kau, saudaraku, ada seorang tuan yang perkasa, seorang aulia yang tak dikenal — ia disebut Diri. Di tubuhmu-lah Diri tinggal; dialah tubuhmu.

Jelas, Zarathustra seorang materialis: dalam pandangannya, dunia dan manusia pada dasarnya bagian alam fisik, alam jasad. Dalam pandangannya pula, tubuh, dengan segala kontradiksi dan enigmanya, lebih punya kearifan ketimbang nalar. Nietzsche menyatakan, sebuah buku yang “ditulis dengan darah” lebih berharga ketimbang yang hanya hasil theori.

Zarathustra/Nietzsche menolak dualisme Badan-dan-Roh, ia adalah penentang Descartes, dan tentu saja ia antithesis bagi Plato — dan ajaran Kristen. Hidup di dunia ini sangat menggairahkan; akhirat tak diperlukan. Nietzsche pernah menyatakan ia akan menyambutnya lagi dan lagi jika semua yang ada dalam hidup di dunia diulang kembali, dengan segala cacat dan kerusakannya.

Maka ia berseru, “tetaplah setia kepada bumi, dan jangan percaya kepada mereka yang berbicara tentang harapan yang melebihi kehidupan di bumi”. Mereka ini, sebagaimana para padri, terpenjara oleh janji-janji para nabi.

Bumi-lah yang harus dijunjung.

Dulu menghujat Tuhan adalah kekurang-ajaran terbesar, tapi kini Tuhan mati, begitu juga para penghujat. Menghujat bumi kini dosa paling keji”.

Bumi, tentu saja, bersifat materi. Seperti tubuh, ia juga “kearifan besar”. Ia proses, ia sebuah multiplisitas, ia menampung semua, penuh kontradiksi, enigmatik, tak mudah ditebak. Ia, seperti semua anasir alam, bermula dari “satu lautan kekuatan” (Kräften) yang serentak mengalir, bergegas, terus menerus berubah, terus menerus meluap kembali, dan selama ribuan tahun dilecut arus balik, dengan pasang dan banjir pelbagai bentuk.

Dengan kata lain, bumi, tubuh, hidup, bukan sesuatu yang sudah ada dan sudah jadi. Bumi itu nama untuk sebuah proses dari bermilyar-milyar ”ocassions” (untuk meminjam istilah Whitehead); bumi adalah “menjadi”. Ia “mewujud”, bukan “wujud”. Maka tak ada identitas, sesuatu yang sudah pasti dan stabil. Yang ada kemungkinan-kemungkinan yang tak tepermanai, yang berubah terus menerus. Bumi selamanya mengatasi, melampaui, momen-momen perwujudannya sendiri. Sang pengembara — Zarathustra — menemukan kejutan tiap kali.

Ia yang suatu hari mengajari orang-orangnya terbang akan menggeser semua marka jalan; baginya marka-marka jalan itu sendiri terbang ke angkasa; bumi akan dipermandikan lagi, diberi nama “tubuh yang enteng.

Tak ada teritori. Tak ada akhir. Tak ada akhirat. Hanya gerak, bayang-bayang tari.

***

TUHAN

“Aku semestinya beriman kepada satu Tuhan yang tahu bagaimana menari”. Tapi Tuhan, dikenal sebagai wibawa akbar yang ditopang kitab-kitab hukum yang berat, tak bisa menari.

Kemudian ada berita, ia sudah mati— sebagaimana dinyatakan Nietzsche beberapa kali.

Dalam Fröliche Wissenschaft terkenal cerita yang ditulisnya ini: Pada suatu pagi yang cerah, seorang sinting berlari ke pasar, dengan membawa lampu terang, dan tak henti-hentinya berteriak, “Aku mencari Tuhan! Aku mencari Tuhan!”

Orang yang mendengarnya tertawa geli.

“Kamu kehilangan dia?”, tanya seseorang.

“Emangnya dia hilang, seperti anak-anak?”

“Atau sedang bersembunyi? Takut kepada kita? Atau lagi bepergian? Atau transmigrasi…”

Si orang sinting (ya, “sinting”, seperti dikatakan Setya Wibowo, mungkin “nyentrik”, bukan “gila”) tak mempedulikan cemooh itu. Ia meloncat ke tengah kerumunan dan menatap tajam orang-orang yang di sana. Katanya: “Kalian tahu ke mana Tuhan pergi?”

Sebelum ada yang menjawab, ia melamnjutkan: “Kita telah membunuhnya — kau dan aku. Kita adalah pembunuh-pembunuh Tuhan…”

Adegan ini menimbulkan tafsir bermacam-macam. Tapi dari sana tampak bahwa Tuhan tak punya lagi martabat di mata orang-orang itu. Tak seorang pun yang tampak kaget, kehilangan, cemas. Juga tak ada yang menyatakan lega, ketika Tuhan tak ada. Ia mati, so what?

Orang sinting itu justru yang ingin menunjukkan bahwa persoalan Tuhan ada atau tidak, mati atau hidup, itu bukan teka-teki, bukan lelucon.

Sebab jika Tuhan (masih) ada, manusia dan hidupnya akan berdiri di atas sebuah dasar yang kekal dan dengan pusat yang mutlak, tak tersentuh sejarah. Ada pegangan, ada penentu, dalam silang selisih penilaian dan pendirian. Kebenaran jadi pasti.

Sebaliknya jika Tuhan sudah mati. Tak ada lagi dasar yang kukuh, tak lekang oleh panas tak lapuk oleh hujan, tak ada lagi pegangan tentang mana yang benar dan yang adil jika terjadi kebingungan atau perselisihan. Manusia harus menentukan sendiri. Tak ada kepastian tentang kebenaran.

Tapi persoalannya: mengapa harus ada kepastian tentang kebenaran? Pertanyaan ini, tipikal Nietzsche, membangunkan kita dari kepercayaan yang lazim:

Baiklah, kita menginginkan kebenaran. Mengapa tidak lebih baik ketidak-benaran? Dan ketidak-pastian? Bahkan ketidak-tahuan?”

Justru, kata Nietzsche, ilmu-ilmu dibangun di atas “fondasi kokoh bagaikan granit”, yakni “ketidak-tahuan”. Di situlah kehendak untuk tahu dilandasi “kehendak yang lebih perkasa” — yakni “kehendak untuk tidak tahu, kehendak untuk tidak pasti, untuk tidak benar”.

Semua itu bukan buat oposisi, melainkan malah untuk membuatnya lebih piawai. Sebab di dunia yang selalu “menjadi”, yang selalu berubah, kepastian hanya ilusi. Dan tak produktif. “Apa arti kebenaran? Inersia” — demikian kita temukan sebuah alinea pendek dalam Der Wille zur Macht.

Tapi sementara itu, kehendak untuk tahu menumbuhkan sesuatu yang lain. Ada kemauan yang fundamental dari “semangat” untuk menguasai dirinya sendiri dan sekitarnya, dan merasa dirinya sebagai tuan. Ia mendorong yang majemuk dan berlapis-lapis jadi simpel, dengan kemauan menjinakkan, mendominasi, dan mengendalikan. Kebutuhan dan kapasitasnya sama dengan “ahli ilmu faal menghadapi apa saja yang hidup, tumbuh, dan berkembang biak”.

Tampaknya, apa yang kemudian disebut Max Weber sebagai ‘nalar instrumental’, Zweckrationalität, ada di dalam semangat itu. Tapi Nietzsche melihat celah lain. Tak ada yang bisa absolut, dan tak mungkin hidup seluruhnya. diambil-alih oleh satu kecenderungan akal abad ke-21 — yang dengan brutal ingin menguasai dunia, yang mau memperalat semua, untuk mencapai hasil secara efisien.

Termasuk memperalat Tuhan untuk jadi penjaga kepastian.

Tuhan yang diperalat untuk kekuasaan seperti itulah yang akhirnya akan lumpuh, atau mati. Bukan dibunuh ramai-ramai, melainkan karena gagal. Nietzsche menyebut sisi lain dari kehendak-mengetahui dan kehendak-berkuasa : dorongan manusia untuk melawan apa yang dapat diketahui, dianalisa, dihitung. Juga untuk menikmati rasa puas kepada kegelapan, kepada cakrawala yang menyungkup, kepada ucapan “ya” yang menerima ketak-tahuan’.

Dengan itu, hidup masih tetap mengalir, berubah, tak jinak, dalam enigma. Tuhan tak terjangkau — ada jarak yang tak terlampaui dengan kalkulasi. Untuk memakai dikhotomi Jean-Luc Marion, Tuhan bukan berhala yang kita soroti dan kita konstruksi, melainkan Tuhan sebagai aikon, yang tak bisa kita kategorisasikan.

Jakarta, 4 Agustus 2017.