Pada tahun 1467 di Florensia, Italia, lahir seorang anak gila belajar dari pasutri kelas menengah. Namanya Niccolo Machiavelli. Seorang anak yang walaupun bukan berasal dari keluarga kerajaan, ketika dewasa mendapat kesempatan untuk menjadi pegawai negeri sipil. Hal itu karena kecemerlangan otaknya yang dihasilkan ketika belajar di rumah semasa kecil.

Tentu Machiavelli kecil tidak pernah menduga ia bakal menjadi korban bullying bahkan hingga berabad-abad setelah kematiannya. Semua kesialannya bermula ketika Piero Soderrini, pemimpin yang mempercayainya sebagai pejabat militer dan diplomasi (semacam Menlu yang rangkap jabatan sebagai Menhan) direbut kekuasaannya oleh penerus keluarga Medici yang dahulu kala pernah berkuasa. 

Dengan berdirinya kembali kerajaan Medici, Machiavelli dipecat, diasingkan, bahkan disiksa walaupun pada akhirnya ia dilepaskan. Bentuk pemerintahan yang dulunya berbentuk republik dibawah kekuasaan Soderini menjadi pemerintahan monarki dibawah dinasti Medici.

Dalam kondisi gejolak politik yang demikian, Machiavelli mulai berusaha berpikir realistis soal dunia politik. Sebagai seorang nasionalis garis keras, ia mencari cara bagaimana mendapatkan kembali jabatannya untuk bisa kembali mengabdi pada negara. Lantas lahirlah bukunya yang paling terkenal dan paling sering dikecam, “Il Principe” atau “Sang Pangeran” yang rencananya ia persembahkan sebagai hadiah kepada pemimpin dari keluarga Medici.

Secara garis besar, karyanya yang satu ini berisi tentang bentuk-bentuk negara, bagaimana menjadi pemimpin yang baik, bagaimana memperlakukan rakyat, dan seterusnya. Basically tutorial mengurus negara. 

Hanya saja detil-detilnya yang membuat orang sekelas Raja Friedrich II harus capek-capek membuat buku tandingan “Anti-Machiavelli” dan juga membuat penulis sekelas Michael Hart menyebut “Il Principe” sebagai sebuah buku pedoman para diktator.

Machiavelli menulis “Il Principe” berdasarkan pada pengamatannya pada berbagai kerajaan yang ada yang dilakukannya semasa menjabat sebagai diplomat dibawah pemerintah Soderrini. Dan ia menuliskannya dengan penuh kejujuran demi membuat pemerintah Medici lebih baik.

Hal-hal kontroversial seperti politik menghalalkan segala cara, membuat rakyat takut ketimbang cinta pada pemimpin, dan ajaran untuk tidak menepati janji tertulis secara jelas dalam buku ini. 

Di waktu yang sama, Machiavelli juga menulis sebuah buku yang berisi pikiran idealisnya tanpa embel-embel pencarian jabatan. Yaitu “Discourses on Livy”. Sebuah buku yang berisi tentang tatanan negara ideal dengan memandang Roma sebagai kota percontohan. 

Dalam buku ini Machiavelli memposisikan dirinya sebagai seorang republikan dan seorang liberalis. Berbeda dengan “Il Principe” yang secara terang-terangan mendukung pemerintah autokrasi yang otoriter.

Sayangnya, “Il Principe” lebih dulu dikenal daripada “Discourses on Livy”. Nama Niccolo Machiavelli terlanjur digambarkan sebagai tokoh antagonis di dunia filsafat. Bahkan, pada dunia politik modern, seorang politikus yang menghalalkan segala cara disebut sebagai Machiavellian.

Tampangnya menjadi buruk hingga berabad-abad setelah kematiannya. Padahal ia hanya menjabarkan pengetahuan ralistis yang ia dapatkan dari pengamatan lapangan yang teliti dan jujur.

Apakah pada akhirnya Machiavelli berhasil mendapatkan jabatannya kembali dibawah dinasti Medici? Sialnya tidak. Ia tetap diasingkan. Ia tetap menulis karya-karyanya setelah lolos dari siksaan dan tetap berada dalam pengasingan. Setelah itu Ia tidak pernah mengabdikan dirinya kembali ke dunia politik.

Dari kisah hidup Machiavelli yang demikian, kita dapat melihat gambaran utuh kekejaman politik mengotori wajah para filsuf. Pandangan realistis dan jujur dalam “Il Principe” seakan menjegal para pembaca untuk lebih lanjut menelaah pemikiran Machiavelli. 

Di sisi lain, teori-teori dalam “Il Principe” yang menghalalkan segala cara dipakai untuk melegitimasi kejahatan para politikus di masa sekarang. Padahal, jika melihat kembali konteks ditulisnya “Il Principe”, buku tersebut sudah tidak lagi patut menjadi gambaran politik masa kini yang nampaknya lebih lunak.

Kontroversi “Il Principe” juga seakan menjadi penghalang para pembacanya di masa sekarang untuk melihat sisi idealis dari Machiavelli. Fakta bahwa ia adalah seorang pendukung republik dan liberalisme dalam "Discourses on Livy" langsung pudar. Beberapa pelajar menuruti hati nuraninya untuk berhenti membaca Machiavelli.

Tidak hanya berhenti sampai disitu, hingga kini dunia politik dan pemikiran realistis yang jujur sepertinya memang menjadi racun bagi image para filsuf. Seperti Habermas yang mengkritik kekacauan gerakan mahasiswa, hingga ia dimusuhi oleh mahasiswa yang dahulu mengikuti ideologinya.

Di Indonesia sendiri ada Rocky Gerung yang seakan-akan membelah netizen menjadi dua kubu yang memujinya habis-habisan sekaligus menolaknya keras setelah terjun dalam dunia politik. Masalah ini juga banyak juga terjadi pada filsuf-filsuf lain yang mencelupkan pemikirannya pada dunia politik.

Yang lantas menjadi pertanyaan adalah, apakah menjadi filsuf harus melulu merumuskan pemikiran utopis? Atau, apakah memikirkan dunia politik yang realistis perlu dihindari? Jawabannya cukup sulit. Jangankan berpikir realistis. Lha wong liberal sedikit saja dibully.