Paling pertama, saya ingin mengatakan bahwa ongkos hidup manusia di zaman modern ini tergantung sesering apa dia ngaca. Hipotesis yang terlalu terburu-buru. Benar. Tapi ini demi kepentingan wacana media; penulis dituntut untuk menyerang benak pembaca secara telak dengan kalimat pertamanya.

Bercermin, berkaca atau ngaca pada dasarnya merupakan kebiasaan lumrah yang hampir dilakukan oleh semua orang. Ini mengacu pada sebuah praktek menghadap cermin, melihat serta mengamati pantulan diri dalam cermin. Biasanya kebanyakan orang melakukan ngaca untuk menilai penampilan dirinya; apakah sudah layak untuk dilihat orang? Apakah tidak memalukan? Apakah sudah cocok untuk dibawa kondangan? Apakah... apakah...

Budaya ngaca tidak mengenal gender. Baik laki-laki atau perempuan sama-sama melakukan hal tersebut. Mulai dari anak-anak hingga dewasa dipastikan pernah melakukan ngaca, minimal sehari sekali. Bagi kalangan artis ngaca hukumnya wajib, layaknya cuci tangan sebelum makan, ia mesti dilakukan sebelum keluar ke ruang publik.

Ada satu hal sebenarnya yang diinginkan manusia melalui ngaca. Yakni kepercayaan diri berdasarkan penampilan yang dimilikinya, terutama penampilan fisik. Mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki diperhatikan jeli. Sebisa mungkin seorang manusia modern tidak akan keluar rumah sebelum memastikan dirinya ideal; sudah tidak memiliki kekurangan yang membuatnya khawatir. Khawatir apa? Khawatir ditertawakan, diperhatikan, atau tidak sesuai dengan kode “mode” zaman.

Jacques Lacan pernah berkata, “Mens desire is desire to the Other.” Kecenderungan manusia sejatinya merupakan kecenderungan pada yang Lain. Artinya, dalam budaya ngaca, manusia pada hakikatnya dikelabui oleh bayangan dirinya sendiri. Pantulan yang sebenarnya menyuguhkan sosok-sosok ideal yang bersifat semu, yang kemudian memaksa manusia yang ngaca memantau penampilannya sesuai dengan bayangan “ideal” yang ada dalam benaknya. Dalam ngaca manusia menghianati dirinya.

Apa sebabnya? Banyak. Salah satunya media. Iklan-iklan kecantikan, obat-obat pemutih wajah dan pemulus betis. Suguhan-suguhan imajiner yang secara tidak sadar membangun tata nilai kecantikan dalam benak manusia modern. Oh cantik itu kalau kulit putih mulus, alis melengkung tegas dan rambut lurus yang ketika dilepas ikatannya langsung terurai jatuh layaknya rintik hujan. Gambaran ideal semacam ini tentu didapat dari iklan pemutih wajah, make up kecantikan dan iklan shampo.

Setelah nonton iklan yang demikian deras dalam televisi, Ia lalu berkaca. Eh kok ada jerawat... Seribu satu jalan akan manusia tempuh untuk menghilangkannya. Karena jerawat merupakan tanda ketidaksempurnaan, tidak ideal dan tidak ganteng. Tahu dari mana? Di televisi dijadikan contoh kok. Iklan sabun wajah menggambarkan itu dengan jelas; kalau tidak jerawat ya wajah hitam kusam karena asap.

Tidak berhenti di sana. Iklan-iklan pun meluaskan penjajahannya pada seluruh ladang tubuh manusia. Perusahaan-perusahaan kosmetik dan fashion kapitalistik berlomba-lomba untuk mengeksploitasi seluruh tubuh manusia, khususnya perempuan. Mereka berpacu menciptakan bayangan-bayangan ketidaksempurnaan, membentuk serta memanfaakan ketakutan manusia modern terhadapnya. Dengan telak mereka lalu menawarkan, “ini lho bedak biar putih; biar cantik; dan biar sempurna.”

Zaman ini percaya diri merupakan modal utama kesuksesan dan daya saing seseorang. Ngaca merupakan satu-satunya budaya yang menawarkan hal itu. Cermin seakan-akan mampu berbicara; layaknya dongeng-dongeng ratu kecantikan, ia mampu meneguhkan kecantikan dan ketampanan pemiliknya. Kesimpulannya, ngaca kontribusi besar dalam kesuksesan karir seseorang dan prestasi kerjanya.

Namun, sebagaimana yang saya katakan di awal, semakin ngaca semakin mahal pula ongkos hidup seorang manusia. Dari apa yang telah saya uraikan dalam statemen ini, mau diakui atau tidak, benar adanya. Bagaimana tidak mahal jika melalui ngaca seseorang terpacu untuk mulus seperti Pevita Pearce misalnya. Atau terpacu tampan seperti al-Ghazali dan Aliando dalam iklan sabun wajah. Bagi rakyat jelata, terjerumus dalam ruang ini tentu malapetaka, baik bagi hidupnya khususnya bagi dompetnya.

Rumusan-rumusan ganteng, cantik, seksi dan ideal inilah yang mendorong budaya ngaca sangat marak di Indonesia. Selain dikenal sebagai negara konsumen, manusia Indonesia yang gak pedean juga menjadi faktor mengapa budaya ngaca serta iklan kecantikan beriringan saling mendukung dan menguatkan. Keduanya kini menjelma udara di mana manusia bernafas, tanah di mana manusia berpijak dan denyut di mana manusia menjalani hidup.

Oh, saya tidak bisa membayangkan berapa ongkos hidup manusia dalam budaya ngaca di Indonesia selama sebulan. Kalau mau dihitung berdasarkan iklan kecantikan dari rambut hingga kaki, pembaca sudah tentu bisa mengira-ngira besarnya ongkos kehidupan manusia modern. Sangat mahal...

Saya atau bahkan pembaca bisa melihat dengan telanjang bagaimana manusia Indonesia kini tidak bisa lepas dari cermin dan ngaca. Wadah-wadah bedak dibuat sedemikian rupa sehingga ada cerminnya. Dompet dan beberapa barang pribadi lainnya yang biasa dibawa kemana-mana juga didesain untuk menyediakan ruang bagi budaya ngaca. Di rumah apalagi. Di kamar, ruang tamu, dapur dan tiap petak rumah dipastikan ada cermin. Yang terbesar tentu di kamar mandi. Spion motor dan mobil kini berfungsi ganda; salah satunya buat ngaca.

Kerapatan manusia dengan budaya ngaca turut menyuburkan akar-akar kapitalisme di bumi pertiwi. Penjajahan ekonomi negara-negara adikuasa seperti Amerika kepada negara-negara berkembang di dunia ketiga tidak perlu repot-repot memakai senjata. Cukup dikasih cermin, suruh ngaca! Orang Indonesia yang rata-rata bekulit sawo matang (bahasa halus dari hitam) lalu dibandingkan dengan Angelina Jolie, Alexandra Daddario atau Monnica Belluci. Langsung gak pede. Mau pede? Nih ada obat kecantikan, peninggi badan, pembesar ini dan itu, pemutih dan lain-lain. Kalau pake ini kalian bisa kinclong seperti mereka.

Jalan satu-satunya untuk selamat dari kurasan ekonomi semacam itu adalah jarang ngaca. Terlalu sering ngaca tidak haram, hanya saja tidak baik. Keseringan ngaca bukan menambah kepercayaan diri seseorang. Justru sebaliknya, dengan gambaran yang sudah saya uraikan, ia malah menambah keraguan, memperteguh kekhawatiran sehingga manusia pun menjauh dari bayangan dirinya sendiri, hinggap di bayangan orang lain. Manusia makin terasing secara eksistensial, atau dengan kata lain, mereka makin gak pedean.

Ngaca pada dasarnya merupakan problem sosial. Keseringan ngaca bisa menyebabkan kematian; baik kematian psikis ataupun fisik. Ingat kisah Narsisus?!