Saat ini kita hidup pada era globalisasi, yang difasilitasi dengan berbagai kemudahan akses. Hal tersebut tentu memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia.

Namun di balik banyaknya manfaat tersebut, ternyata juga terdapat sisi kurang baiknya, seperti dengan tingginya mobilitas manusia membuat virus SARS-CoV-2 ini begitu cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. 

Bukan hanya manusianya yang mengalami mobilitas tinggi tapi juga parasit seperti serangga, bakteri, virus serta parasit lainnya yang juga dapat ikut serta terbawa. Terbukti dalam waktu yang tidak begitu lama, WHO telah mengumumkan bahwa penyakit Covid-19 telah menjadi pandemi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk meminimalisasi terjadinya penularan penyakit ini, mulai dari pemberlakuan sosial distancing, physical distancing sampai Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Namun nyatanya berbagai upaya tersebut belum menunjukkan hasil yang begitu maksimal.

Terjadinya pandemi Covid-19 ini juga sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian masyarakat maupun negara, seperti banyaknya pekerja harian yang mulai kesusahan mencari penghasilan, turunnya harga jual ikan yang menyebabkan penurunan pendapatan nelayan, banyaknya karyawan yang mengalami PHK, serta masalah-masalah lainnya.

Dengan berbagai pertimbangan tersebut, pemerintah akhirnya mengumumkan rencana pelonggaran sampai penghentian Pembatasan Sosial Berskala Besar dengan mulai memberlakukan penerapan new normal pada beberapa daerah. Mengingat masyarakat tidak mungkin dapat terus bertahan dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil seperti yang terjadi saat ini.

Namun tepatkah new normal diberlakukan dalam waktu dekat ini?

Pemberlakuan new normal di masa pandemi seperti ini sama artinya dengan membiarkan terjadinya proses seleksi alam. Mengingat masih tingginya jumlah kasus yang terkonfirmasi positif Covid-19, serta masih rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga pola hidup bersih dan sehat.

Teori Seleksi Alam Darwin 

Darwin menjelaskan bahwa proses evolusi sebenarnya terjadi karena adanya mekanisme seleksi alam. Ia menjelaskan tentang teori evolusi paruh yang terjadi pada burung Finch di kepulauan Galapagos. Ia menyatakan bahwa perubahan ketebalan paruh burung merupakan hasil adaptasi evolusioner terhadap variasi ketersediaan sumber makanan.

Burung Finch merupakan burung pemakan biji-bijian dan menggunakan paruhnya untuk memecahkan biji-bijian tersebut. Burung ini lebih suka memakan biji-bijian yang berukuran kecil dibandingkan dengan biji-bijian yang berukuran besar karena memang lebih mudah untuk dihancurkan.

Di kepulauan Galapagos, selama masa basah (banyak hujan), biji-bijian berukuran kecil dihasilkan sangat begitu melimpah. Namun ketika masa kering terjadi, ketersediaan semua biji menjadi berkurang, serta lebih bayak biji-bijian besar yang dihasilkan pada saat itu.

Hal tersebut menyebabkan terjadinya perubahan pada pola ketersediaan makanan yang kemudian berdampak pada terjadinya perubahan terhadap rata-rata ketebalan pada paruh burung Finch.

Burung yang memiliki paruh lebih kuat dan tebal, dialah yang akan bertahan hidup dan memiliki tingkat keberhasilan reproduksi yang lebih tinggi di masa kering karena mampu mengonsumsi biji-bijian yang berukuran besar. 

Sehingga burung Finch yang memiliki paruh tebal mampu menurunkan atau mewariskan sifat gennya pada keturunan selanjutnya. Jadi ketebalan paru pada burung Finch ini bukan merupakan sesuatu yang didapatkan, namun merupakan sesuatu yang diwariskan.

Evolusi paruh yang digambarkan Darwin pada burung Finch memperkuat teori bahwa seleksi alam sebenarnya sangat bergantung pada situasi serta merupakan suatu mekanisme perubahan yang akan terus terjadi dalam suatu populasi.

Teori evolusi Darwin menyatakan bahwa tiap-tiap individu yang tidak mampu beradaptasi dengan lingkungannya lama-kelamaan akan mengalami kepunahan, sehingga hanya individu terbaik dan mampu bertahan yang dapat melalui proses seleksi alam tersebut.

Kaitan antara New Normal dan Seleksi Alam

Pemberlakuan new normal atau kehidupan normal yang baru menuntut kita untuk dapat beradaptasi dengan lingkungan baru yang kondisinya tentu tidak sama lagi seperti sebelumnya.

Penerapan new normal berarti bahwa kita harus mampu hidup bersahabat dan berdampingan dengan Virus SARS-CoV-2. Walaupun memang tingkat kesembuhannya relatif tinggi, namun penyakit Covid-19 ini juga telah menyebabkan ribuan orang meninggal.

Pemberlakuan penerapan new normal pada masa pandemi Covid-19 sama artinya dengan membiarkan terjadinya proses seleksi alam. Dengan pemberlakuan kehidupan normal yang baru saat ini, artinya peluang tiap-tiap individu untuk dapat terlular virus SARS-CoV-2 akan jauh lebih besar dari sebelumnya. 

Bagi orang yang mempunyai daya tahan tubuh kuat akan mampu bertahan dan menang melawan virus ini. Namun bagi mereka yang memiliki daya tahan tubuh lemah akan lebih mudah tertular dan sakit sehingga mereka akan kalah melawan virus dan terkena seleksi alam.

Ini menjadi kewaspadaan tersendiri. Banyak orang yang merasa cemas dan ketakutan tertular penyakit tersebut. Terlebih bagi mereka kelompok masyarakat rentan seperti orang tua, orang yang memiliki penyakit bawaan, serta kelompok rentan lainnya.

Masyarakat harus benar-benar memiliki kesadaran dan kedisiplinan untuk menerapkan kaidah new normal ini, karena jika tidak justru akan peningkatan kembali jumlah kasus Covid-19 seperti halnya yang terjadi di Korea Selatan, di mana pemberlakuan new normal di sana dinilai kurang berhasil. 

Sebagai individu dan merupakan bagian dari masyarakat, kita harus menerapkan kaidah new normal dengan baik, seperti rajin mencuci tangan pakai sabun, menjaga jarak, memakai masker, menghindari kerumunan dan seterusnya. Sehingga kita dapat menjadi pemenang dari proses seleksi alam melawan virus SARS-CoV-2 di masa pandemi saat ini.