Sewaktu saya masih menempuh jenjang pendidikan di bangku Tsanawiyah, saya pernah mendapatkan pelajaran bahasa Indonesia dari guru saya, almarhum Bapak Sutari. Di antara materi yang paling saya ingat dari beliau adalah tentang pentingnya menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, sebab bahasa merupakan cermin kesantunan dari orang yang mengucapkannya.

Pak Sutari pernah mencontohkan pada saya dan seluruh teman-teman sekelas lainnya tentang penerapan bahasa yang santun adalah seperti, anak ibu sebenarnya tidak bodoh, hanya belajarnya saja yang kurang. Masnya sebenarnya tidak jelek, hanya kurang dandan saja, dan seterusnya.

Meski pada dasarnya, maksud dari ucapan tersebut adalah sama saja, namun setidaknya dengan menggunakan kalimat lain tersebut, menjadikan ucapan terasa lebih enak saat didengar oleh telinga.

Setali tiga uang dengan praktik berbahasa santun yang dicontohkan oleh Pak Sutari tadi, rupanya hal ini juga dilakukan oleh pemerintah kita yang budiman yang beberapa hari terakhir tengah gencar-gencarnya mengumumkan kebijakan the new normal, kehidupan normal yang baru.

Kalimat the new normal-nya pemerintah ini jelas terdengar lebih ramah dalam angan-angan kita sebagai masyarakat, dibandingkan dengan kalimat vulgar the real abnormal, meski pada intinya bermaksud sama.

Di tengah-tengah pengumuman the new normal-nya pemerintah itu, masyarakat tentu sangat mafhum bahwa kondisi mereka saat ini masih abnormal. Mereka masih harus memakai masker, gemar mencuci tangan, menjaga jarak, sebagai konsekuensi atas pelaksanaan protokol kesehatan. Dalam benak masyarakat pastilah terbersit dugaan, barangkali inilah yang dimaksud dengan the new normal itu.

Fenomena the new normal seakan memberikan standard baru atas kondisi normal seseorang, dimana mereka yang kondisinya abnormal pun bisa saja dikatakan ‘normal’ berdasarkan standard baru ini. Mereka yang berhadapan dengan bahaya terinfeksi virus pun, dapat dikatakan normal kondisinya sebab persebarannya yang sudah terlanjur merata di berbagai wilayah sehingga wajar manakala virus ini mampu menjangkiti siapa saja. Ibaratnya tinggal menunggu waktu terjadinya saja.

Apa lacur hendak dikata, kondisi yang serba terbatas dan mendesak memaksa pemerintah beserta masyarakat harus berbuat demikian. Keadaan perekonomian harus mampu segera bangkit dari kelesuan seakan memaksa mereka untuk tetap bekerja dengan mematuhi anjuran dari pakar kesehatan. Mereka harus bekerja secara normal dengan mematuhi ketentuan-ketentuan yang baru, sebagai konsekuensi dari kebijakan the new normal.

The new normal bukan barang baru

Pengumuman the new normal beserta atributnya bagi sebagian masyarakat daerah tertentu adalah perihal yang biasa-biasa saja, bukan barang baru. Mereka bahkan jauh-jauh hari telah menerapkannya sebelum pengumuman dari pemerintah ini dipublikasikan. 

Kelompok masyarakat (sebagian didukung oleh pemerintah daerah setempat) yang begitu peka akan bahaya persebaran virus ini, telah menginisiasi gerak cepat dengan memberlakukan karantina wilayah (untuk tidak disebut lockdown) terlebih dahulu, di saat pemerintah masih bercanda dengan bahaya virus ini.

Dan nyatanya, kreativitas mereka yang awal mula tidak memperoleh respon baik dari pemerintah pusat ini, justru berbalik menjadi pilot project dalam penanganan persebaran virus di berbagai daerah lainnya.

Lagi-lagi pemerintah pun terlambat, persis seperti gambaran polisi di film-film India saat menangkap penjahat. Namun untungnya mereka mau belajar dari rakyat yang tanggap, sehingga mencegah mereka dari kesalahan yang berlarut-larut. Maka lahirlah kebijakan the new normal pemerintah untuk memberikan perhatian lebih pada daerah-daerah tertentu yang butuh penanganan khusus dalam menanggulangi persebaran wabah penyakit yang makin meluas.

Melalui kebijakan the new normal ini, pemerintah telah menyiagakan satuan gabungan aparat TNI dan Polri untuk membantu mendisplinkan warga. Dalam pandangan mereka, jika masyarakat tidak mau disiplin, maka kamilah yang akan membantu mendisiplinkan. Betapa mulianya beliau-beliau ini!

Idul Fitri, momen tepat untuk saling bermaafan dan menjalin kerja sama

Penanganan virus covid-19 ini tidak akan pernah mencapai titik akhir sebelum adanya penemuan vaksin yang mampu menyembuhkan mereka yang terjangkiti secara keseluruhan. Maka dari itu, hal yang dapat kita lakukan saat ini, khususnya pada momen Idulfitri ini adalah saling memaafkan kesalahan satu sama lain. 

Pemerintah memberikan maaf kepada sebagian besar rakyat atas segala kebandelan mereka, dan masyarakat pun membuka pintu maaf seluas-luasnya untuk pemerintah atas segala keterlambatan dan ketimpangan mereka dalam mengambil kebijakan.

Bagi sebagian besar rakyat, memberi maaf kepada pemerintah tentu tak semudah membalikkan telapak tangan, mengingat terlalu banyaknya kesalahan yang telah mereka perbuat. Namun ada satu pelajaran yang dapat mereka teladani dalam pemberian maaf ini dengan merenungi sebuah penuturan Gus Dur saat diwawancarai dalam program Kick Andi.

Dalam program Kick Andi itu Gus Dur mengaku, telah memaafkan seluruh kesalahan dari anggota keluarga cendana maupun semua lawan-lawan politiknya. Namun yang menjadi penegasan dari Gus Dur adalah beliau hanya sebatas memaafkan saja dan tidak sampai melupakan kesalahan-kesalahan mereka yang dulu pernah menzaliminya. “Maafkan iya, tapi lupa sih tidak,” begitulah tutur beliau.

Penuturun Gus Dur ini saya anggap sangat tepat. Sebab dengan tetap mengingat kesalahan mereka yang pernah menzalimi kita, maka kita pun akan mudah mengingatkan siapa saja yang hendak berbuat kezaliman yang sama, dengan mengungkap borok kesalahan mereka terdahulu. 

Dengan demikian, siapa pun tidak akan menggunakan aji mumpung terhadap diri kita, dengan memanfaatkan sikap belas kasih kita untuk menoleransi setiap kesalahan yang mereka perbuat.

Idzan, rakyat akan selalu siap untuk memaafkan kesalahan dari para pemangku kekuasaan. Namun yang perlu diperhatikan oleh pemerintah adalah rakyat bukanlah kelompok pelupa yang sewaktu-waktu tetap akan selalu mampu membuka tabir kesalahan, manakala mereka hendak mengulangi kezaliman terdahulu.

Berangkat dari pemaafan satu sama lain ini akan berpeluang membuka pintu kemudahan bagi masing-masing pihak, baik pemerintah maupun rakyat untuk menjalin ikatan batin sekaligus kerja sama yang berguna dalam penanganan persebaran virus ini hingga tuntas. Tidak perlu lagi sikap saling menyalahkan, sebab prioritas saat ini adalah menyelesaikan masalah pandemi secara bersama-sama.

Dan akhirnya, mumpung masih dalam suasana hari raya Idul Fitri ini, saya pun ingin mengungkapkan. Dear pemerintah, saya sekeluarga mohon maaf lahir dan batin. Dan kami pun telah memaafkan kesalahan Anda semua. Akan tetapi, untuk mengantisipasi potensi munculnya kezaliman yang serupa dari Anda, kami tetap tidak akan pernah bisa melupakan kesalahan-kesalahan Anda. 

Berbekal kepercayaan yang mulai kita tanam saat ini dan kerja sama yang hendak kita jalin, kita pun dapat berharap, semoga wabah ini lekas berlalu dan kita segera masuk pada babak the real normal, kehidupan normal yang sesungguhnya.