Rasanya kita sudah hampir kehabisan kosakata untuk menggambarkan kelakuan orang-orang yang selalu saja menerbar kebencian dan kerusakan atas nama agama. Pada peringatan hari toleransi internasional tahun ini setidaknya ada dua isu yang menghiasi media kita belakangan ini, satu kisah pedih berasal dari negeri kita sendiri, di mana  pengeboman gereja di Samarinda yang merenggut nyawa Intan Olivia, gadis kecil yang baru saja hendak mengenal indahnya kehidupan ini.

Sementara beberapa korban lain yang juga kebanyakan dari mereka adalah anak-anak, mengalami luka-luka dan tentu luka psikologis yang mungkin akan menerpanya sepanjang hidupannya. Kepedihan mendalam yang mengiringi hari demi kita, di luar negeri isu yang juga hadir menghiasi media masa kita adalah polemik di Myanmar seputar “Rohingnya”, kekerasan yang kemudian diasumsikan oleh publik sebagai gesekan antara umat muslim dan budha.

Hari toleransi sedunia tahun ini juga dilengkapi oleh dilema yang dialami oleh saudara-saudara muslim dan kaum minoritas di Amerika Seirikat, umat Islam dan kaum minoritas di Amerika Serikat saat ini banyak yang dilanda ketakutan dan kekhawatiran karena sikap politik Presiden Terpilih Amerika Serikat Donald Trump yang melarang umat Islam masuk AS dan berjanji akan menutup masjid-masjid di AS. 

Hari Toleransi Sedunia yang ditetapkan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1996 ini, diharapkan sebagai upaya refeleksi untuk memperkuat toleransi dengan meningkatkan rasa saling pengertian antar budaya dan bangsa. Namun, melihat yang terjadi belakangan ini masih saja isu SARA dan radikalisme masih menjadi momok yang menggetirkan.

Radikalisme, kekerasan dan upaya-upaya sikap intoleran mungkin dilakukan oleh mereka yang sesak napas karena tidak berani hidup berdampingan dan saling menjalin kemesraan. Bahkan apa yang dilakukan oleh para teroris adalah bentuk kepengecutan yang nyata, bahwa mereka tidak berani hidup bermakna, kematian lebih mereka pilih ketimbang kehidupan.

Sungguh sikap yang tak masuk akal jika mereka mengaku ber-Tuhan dan ber-Islam yang artinya adalah kedamaian. Sikap intoleran dalam jangka panjang hanyalah akan menjadi iklan yang buruk bagi peradaban dunia, dan tentu bagi perkembangan paham keagaman di kehidupan ini. Penulis sendiri tak mampu membayangkan jika suatu saat anak-anak kita akan gagal memaknai kehadiran agama, mereka mungkin akan dihadapkan dengan wajah agama yang bengis dan menaktutkan, bukan agama yang seharusnya menjadi sumber kedamaian. Sedangkan agama penulis sendiri yaitu islam tentu adalah agama yang paling rentan terhadap godaan radikalisme kerena posisi islam saat ini masih berada pada buritan peradabaan dunia.

Posisi buritan islam saat ini dapat mendorong orang untuk bertindak radikal, seperti ditampakan oleh saudara-saudara kita yang tergabung dalam ISIS itu. Godaan untuk berkuasa atas sumber daya alam juga akan menjadi sumber tindakan-tindakan intoleran seperti mungkin yang saat ini terjadi di rohingnya, rohingnya merupakan wilayah dari Negara bagian Rakhine yang oleh beberapa sumber dijelaskan sebagai wilayah dengan kekayaan alam yang tinggi.

Kehidupan yang materialistik dan menjadikan kepentingan pribadi sebagai panglima menghantarakan mereka bertindak intoleran, yang ujungnya adalah gesekan antar pemeluk agama dan tentu berita kekerasan serta jatuhnya korban yang mengotori kemanusiaan.

Moralitas Ecek-Ecek

Inti dari masalah kekerasan dan diskriminasi yang tergambarkan adalah kegagalan mereka menyajikan jawaban modern atas tantangan kehidupan masa kini. Fungsi sumber daya alam yang semakin tergerus oleh efek entropi yang juga menyebabkan problem tambahan, seperti misalnya pemanasan global dan persaingan politik kekuasaan ekspolitasi alam, pandangan yang sempit dalam memaknai keberagaman, serta semakin jauhnya sikap inklusif dalam masyarakat dunia. Jika diakumulasikan maka yang tergambarkan adalah “moralitas ecek-ecek”, oleh kaarenanya tindakan intoleran bertebaran dimana-mana.

Perilaku radikalisme yang berpusat pada keinginan berkuasa atas nama agama, menjual ayat-ayat tuhan untuk kekerasan dengan tujuan menguasai alam sudah seharusnya dihentikan. Kehidupan yang damai, saling bergandengan tangan dalam menjalani kehidupan yang hanif perlu terpatri dalam hati masing-masing. Menatap masa depan bumi yang indah ini dengan keberlanjutan generasi mendatanglah yang harus menjadi inti dalam makna hakikat Toleransi antar bangsa dan umat beragama.

Dunia tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa budaya saling percaya, memahami dan adil. Syarat dari itu semua entah siapapun saja harus meninggalkan kepongahannya yang berujung tindakan intoleran, teruntuk isu Rohingnya, Pemerintah Myanmar harus mampu menghentikan segala tindak kekerasan pada warga muslim Rohingnya, serta mencari formula yang tepat dan adil kepada status kewarganegaraan mereka.

Sedangkan untuk umat Islam yang masih melakukan tindakan radikalisme atas nama Islam, harus membuang jauh-jauh teologi mautnya, sebab pasti akan berujung dengan kehancuran diri sendiri dan orang lain. Islam ada bukan untuk menghancurkan, tetapi untuk membangun peradaban yang adil, ramah dan toleran.

Islam seharusnya mencintai dan mendoakan Intan Olivia serta korban bom Gereja Samarinda yang lainnya, layaknya Islam mencintai saudara-saudara muslim di Rohingnya. Islam yang penulis kenal adalah islam yang plural, toleran, ramah dan memanusiakan manusia.

Momen Hari Toleransi tahun ini seharusnya menjadi nikmat Islam yang terdalam, yaitu “Kedamaian”. Namun nestapa yang terjadi, menjadikan momen ini tidak lebih nikmat dari kopi pahit di pagi hari. semoga Tuhan tak sungkan-sungkan menegur mata batin kita, manusia yang ia percaya mengelola Alam-Nya. Semoga.