Secara umum, nelayan didefinisikan sebagai orang yang aktif melakukan pekerjaan operasi penangkapan binatang atau tanaman air dengan tujuan sebagian atau seluruh hasilnya untuk dijual.

Berdasarkan definisi ini, orang yang melakukan pekerjaan membuat perahu, mengangkut ikan, pedagang ikan, bahkan istri dan anak nelayan bukan termasuk dalam kategori nelayan (Kusnadi, 2002). Mereka pada umumnya tinggal di pinggir pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang dekat dengan lokasi kegiatannya.

Karakteristik nelayan secara sosiologis berbeda dengan masyarakat petani dalam menghadapi sumber daya alam, karena nelayan menghadapi sumber daya alam bersifat open access yang menyebabkan mereka berpindah-pindah dengan segala risiko yang dihadapi untuk memperoleh hasil tangkapan dengan maksimal.

Kondisi sumber daya alam yang berisiko tersebut menyebabkan nelayan memiliki karakter yang keras, tegas, dan terbuka. Di samping itu, nelayan juga mengahadapi dua musim yang tidak bersahabat, yaitu musim barat dan musim timur di setiap tahun.

Problem lain yang dihadapi nelayan juga sangat kompleks, misalnya kemiskinan, perkampungan kumuh, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nelayan (K3 Nelayan), dan konsumerisme. 

Anomali Cuaca di Pantura Jawa

Salah satu dampak perubahan iklim (climate change), secara global, ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan bumi atau yang dikenal dengan istilah pemanasan global (global waming).

Beberapa dampak perubahan iklim yang sudah dirasakan saat ini adalah suhu permukaan laut menghangat di atas normal, permukaan air laut meningkat, curah hujan meningkat, angin puting beliung, pergeseran musim, dan cuaca ekstrem.

Secara global, Indonesia terkena dampak perubahan iklim, kondisi cuaca di Tanah Air yang dalam beberapa tahun belakangan mengalami penyimpangan atau anomali dari kondisi normal. Anomali tersebut mengakibatkan musim di Indonesia mengalami perubahan. Pada saat periode musim kemarau, malah turun hujan beberapa kali.

Sebaliknya, saat periode musim hujan, malah datang kemarau berkepanjangan. Anomali cuaca juga mengalami perubahan musim dari biasanya, perubahan waktu musim barat dan musim timur yang mengakibatkan perubahan musim melaut bagi nelayan dan musim libur nelayan.

Berdasarkan kalender tradisional nelayan, musim barat yang dihadapi nelayan biasanya terjadi pada minggu ketiga Desember sampai dengan Februari, terkadang sampai minggu pertama Maret.

Sedangkan musim timur biasanya terjadi Agustus, tetapi tahun ini dua musim yang dihadapi nelayan waktunya telah berubah. Tahun 2018-2019, musim barat bergeser pada Januari sampai dengan Maret, sedangkan musim timur tahun ini lebih cepat dari biasanya, yaitu April minggu ketiga.

Anomali cuaca yang terjadi tahun ini sangat mengganggu aktivitas nelayan tradisional di kawasan Pantura Jawa karena dua musim tersebut tidak bersahabat. Walaupun musim timur nelayan tradisional terkadang masih bisa melakukan aktivitas melaut.

Dampak negatif yang ditimbulkan dengan adanya anomali cuaca adalah roda perekonomian masyarakat nelayan jadi terganggu, tentu akan berdampak pada sektor dan sendi kehidupan yang lainnya. Pelaku ekonomi lain yang tergantung pada sektor perikanan dan kelautan juga terganggu.

Solusi Menghadapi Musim Timur 

Ada tiga musim yang dikenal oleh nelayan tradisional Pantura Jawa, yaitu musim barat, musim timur, dan musim tedo (laut dalam kondisi tenang; tidak ada angin kencang, tidak ada ombak bergulung-gulung, tidak ada hujan yang lebat dan terus menerus).

Pada musim barat, nelayan tradisonal libur total karena kondisi laut sangat ganas; ditandai dengan ombak bergulung-gulung, angin kencang, disertai hujan setiap hari. Adapun musim timur nelayan tradisional masih bisa melaut, tetapi nelayan tetap siap siaga dan waspada karena angin timur (timuran) bisa datang dengan tiba-tiba.

Sedangkan musim tedo waktunya nelayan tradisional untuk mengais rezeki dalam menyambung hidup keluarga, terkadang dalam waktu tertentu terjadi musim timbul (hasil tangkapan melimpah ruah tidak seperti biasanya).

Musim timur yang dihadapi nelayan tradisional Pantura Jawa tahun ini (2019) terjadi lebih cepat dari pada tahun sebelumnya. Musim timur ditandai dengan adanya ombak besar dan angin kencang sebagai dampak dari angin muson timur.

Karakteristik musim timur berbeda dengan musim barat yang ditandai dengan hujan sepanjang hari, ombak besar dan besar bergulung-gulung, serta angin kencang setiap hari dengan durasi terus-menerus.

Sedangkan musim timur ditandai dengan angin kencang dan ombak dengan durasi waktu dua sampai dengan tiga hari, kemudian berhenti seminggu kemudian angin dan ombak datang kembali dengan durasi waktu yang sama.

Terkadang angin timur sangat kencang datang secara tiba-tiba, nelayan menyebut dengan istilah angin kemaragan, pada saat terjadi angin kemaragan nelayan biasanya lebih cepat pulang melaut tanpa membawa hasil tangkapan.

Musim timur memang tidak seganas musim barat karena musim timur nelayan tradisional masih bisa bekerja untuk mencari nafkah, tetapi nelayan tradisional harus ekstra waspada. Di sisi lain, hasil tangkapan pada musim timur terkadang kurang maksimal apabila dibandingkan dengan musim tedo hasil tangkapannya melimpah.

Kondisi dan nasib nelayan tradisonal Pantura Jawa perlu perhatian serius dari pemerintah dan seluruh staekholder yang ada. Setidaknya pemerintah dan anggota legislatif yang terpilih di pemilu 2019 telah siap-siap membawa segudang program pemberdayaan untuk nelayan tradisional, itupun kalo masih ingat pada saat kampanye.

Tentu masyarakat nelayan tradisonal berharap program yang dijanjikan akan diajukan dalam gedung dewan yang terhormat, selanjutnya direalisasikan dalam kerja kongkrit. Tiga program skala prioritas untuk pemberdayaan nelayan tradisional, di antara;

Pertama, bantuan modal untuk memperbaiki teknologi armada yang lebih besar dan kuat, serta alat tangkap canggih yang ramah lingkungan. Suntikan permodalan sangat dibutuhkan mengingat sampai saat ini nelayan tradisional masih terjebak dengan sistem ijon atau rentenir yang terstruktur dan mengakar di lingkungan masyarakat nelayan.

Kedua, urgensi pelatihan program Keselamatan dan Kesehatan Kerja Nelayan (K3 Nelayan) karena nelayan tradisional seringkali mengabaikan keselamatan dalam bekerja.

Nelayan tradisional dalam bekerja seringkali tidak dilengkapi dengan alat keselamatan kerja, seperti pelampung. Sehingga ketika terjadi insiden kecelakaan kapal tenggelam atau karam, kebanyakan nelayan tidak selamat karena mengabaikan bekal alat keselamatan kerja tersebut.

Ketiga, dibutuhkan pendidikan dan pemberdayaan sumber daya manusia, mengingat nelayan tradisional seringkali dikonotasikan sebagai kelompok masyarakat yang termarjinalisasikan dalam menyerap informasi dengan dunia luar.

Maka pendampingan yang intensif dan berkelanjutan untuk memberikan informasi dan pengetahuan tentang seputar dunia nelayan sangat dibutuhkan.

Dengan alternatif tiga program utama yang ditawarkan untuk pembedayaan dan pendidikan nelayan tradisional paling tidak sebagai modal awal nelayan tradisional dalam menghadapi anomali cuacu yang terjadi setiap tahun. Selamat berjuang saudaraku nelayan.