Suatu saat, saya berkunjung di sebuah desa yang letaknya tak jauh dari pesisir pantai. Akibat konsekuensi letak geografis itulah, sudah dapat dipastikan bahwa laut merupakan halaman depan masyarakat desa agar 'dapur tetap bisa ngebul'. 

Desa itu cukup jauh dari pusat-pusat keramaian kota. Karena itu, kemajuan yang berbau modernitas laiknya daerah urban menjadi barang langka di sana. Nelayan masih menggunakan alat seadanya dengan kapal yang pas-pasan. Dengan begitu, perputaran ekonomi yang terjadi masih minim.

Saya mengamati dari jauh proses serta pola ekonomi yang berkembang di sana. Namun, saat saya berkunjung ke sana, saya melihat ada beberapa rombongan yang sedang bercakap cukup serius dengan para nelayan di tepi pantai. Saya coba mendekat, untuk mengetahui topik apa yang sedang mereka perbincangkan. 

Dengan samar-samar saya mendengar, saya menarik kesimpulan awal bahwa rombongan tersebut sedang menawarkan sesuatu barang yang disebut 'teknologi'. Tetapi saya merasa ada yang cukup janggal. Rombongan tersebut seperti 'memaksa' teknologi tersebut untuk digunakan dengan segala kelebihannya dan 'menjelek-jelekkan' barang-barang perlengkapan nelayan yang sudah digunakan selama bertahun-tahun. 

Dengan pola interaksi yang seperti itu, saya melihat nelayan kurang antusias, bahkan beberapa nelayan yang sebelumnya mendekat untuk mendengarkan lambat laun satu per satu mulai berlalu.

Dari pengalaman yang saya alami seperti itu, saya mulai berpikir; kenapa nelayan sangat sulit menerima hal-hal yang baru?

Akibat peristiwa yang saya alami itu, mengingatkanku pada suatu cerita di awal saya menginjakkan kaki di bangku perkuliahan; saya pernah dicurhati oleh salah satu teman. Tepatnya sih seperti dinasihati. Beliau memberi nasihat bahwa apa yang sering saya pikirkan dan tuliskan (pada waktu itu saya kerap menulis di kolom opini DEMA) mengenai perubahan ini-itu tidak semudah yang saya kira. 

Lantas beliau membagikan pengalamannya selama bertemu petani dengan menjajakan barangnya yang telah teruji secara saintifik bahwa bila produk ini digunakan maka akan meningkatkan produktivitas pada suatu varietas tanaman pangan tertentu. Bukannya disambut dengan gegap gempita oleh petani, malah mendapatkan banyak penolakan.

Seperti halnya sebuah pengalaman, tentu akan menjadi sebuah pembelajaran yang berharga. Dari situlah saya mencoba mengamati dan mempelajari untuk menjawab kenapa hal tersebut bisa terjadi.

Saya memulainya dengan sebuah pernyataan yang mungkin mengundang perdebatan: adalah wajar sekali bila nelayan, setiap musim bergulat dengan lapar dan segala konsekuensinya, mempunyai pandangan yang agak berbeda dengan sebut saja penanam modal tentang persoalan mengambil risiko. Kenapa bisa begitu?

Corak perilaku dalam ekonomi memiliki kekhususan dari nelayan yang berorientasi subsistensi merupakan akibat dari kenyataan bahwa unit konsumsi dan unit produksi menjadi satu kesatuan. Tentu corak ini berbeda bilamana kita komparasikan dengan corak perilaku ekonomi dari suatu perusahaan. 

Agar nelayan bisa bertahan sebagai satu unit, maka nelayan pertama-tama harus memenuhi kebutuhannya sebagai konsumen yang boleh dikatakan tak dapat dikurangi lagi dan tergantung kepada besar-kecilnya keluarga nelayan itu. 

Bagi mereka yang hidup di ambang batas subsistensi, mereka lebih mengutamakan apa yang dianggap aman dan dapat diandalkan daripada keuntungan yang dapat diperoleh dalam jangka panjang apalagi tentang pelestarian. Seperti semut di seberang lautan.

Tenaga kerja acap kali menjadi satu-satunya faktor produksi yang dimiliki nelayan secara melimpah, maka mungkin ia akan terpaksa melakukan kegiatan-kegiatan yang memerlukan banyak kerja dengan hasil yang sangat kecil, sampai kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi (Ester, 1965). 

Misal pada umumnya nelayan melaut di malam hari dengan memanfaatkan angin darat, sedang kembali ke darat di siang hari dengan memanfaatkan angin laut. Pemanfaatan waktu-waktu senggang antara siang hingga malam nanti nelayan biasa melakukan kegiatan-kegiatan ekonomi lain seperti berjualan di pasar, menjadi tukang reparasi alat-alat produksi nelayan, mengolah hasil-hasil tangkapannya seperti dipindang, diasap, diasinkan dan lainnya dalam skala kecil. 

Hasil yang didatangkan pun cukup kecil, akan tetapi boleh dikatakan hanya dengan cara-cara itulah mereka dapat memanfaatkan kelebihan tenaga kerja. Oleh karena kondisi itulah, seperti apa yang dikatakan Chayanov (1966), terkadang mereka seperti harus memusatkan segenap perhatian kepada kebutuhan di hari ini saja dan terpaksa menggadaikan masa depannya.

Fenomena lain yang sering kita temukan dalam kehidupan nelayan adalah keharusnya memenuhi kebutuhan keluarga, seringkali nelayan terpaksa menjual dengan harga berapa saja asal laku. Namun, di beberapa kesempatan sering pula menemui akan membayar lebih jika nelayan tersebut membeli atau menyewa alat produksi vitalnya seperti kapal kepada juragan-juragan kapal, lebih besar dari apa yang lazim di dapatkan.

Seperti kata Chayanov, sifat kekhususan dari seorang petani dan nelayan dari perilaku ekonomi itu telah membantah kebenaran asumsi-asumsi ilmu ekonomi klasik tentang perilaku rasional yang berkembang di dunia barat. Dan hal-ihwal yang telah dijelaskan sebelumnya merupakan akibat dari opportunity cost (tingkat kesempatan tenaga kerja) yang rendah dan marginal utility atau guna batas yang tinggi dari penghasilan bagi orang-orang yang berada di ambang kemiskinan.

Dengan adanya realitas sosial seperti apa yang digambarkan sebelumnya, maka sangat masuk akal apabila mereka menganut prinsip yang penting selamat, yang berarti memiliki kecenderungan untuk lebih memperkecil kemungkinan yang terjadi (re: perubahan teknologi) dibandingkan memperbesar penghasilannya. 

Prinsip-prinsip menghindari risiko ini saya menilai sangat rasional karena nelayan tidak ingin mendapat sebuah risiko-risiko kerugian yang besar yang membahayakan subsistensinya.

Argumen tersebut diperkuat pula oleh studi Michael Moerman yang bagus tentang masyarakat agraris pedesaan di sebuah desa di daratan Indochina memberikan salah satu bukti yang paling menyakinkan bahwa orang-orang yang bergerak di sektor agraris seperti nelayan dan petani lebih mengutamakan soal-soal kebutuhan daripada keuntungan.

Lalu bagaimana dengan perubahan teknologi?

Pendapat umum yang menganggap teknologi baru sebagai faktor untuk memajukan ketidakmerataan dalam sektor pedesaan, terutama didasarkan pada asosiasi yang lemah antara kemajuan teknologi dan ketidakmerataan yang semakin bertambah. 

Menurut Kasryno dan Stepanek (1985) benar adanya, tidaklah sukar menjumpai kasus-kasus di mana kemiskinan dan ketidakmerataan telah berlipatganda secara berdampingan dengan penerapan yang berlebih-lebihan dari teknologi modern. Bagaimanapun, suatu kesimpulan yang didasarkan asosiasi sederhana, condong untuk tidak menemukan sebab yang sebenarnya.

Perihal liyan yang perlu diperhatikan adalah ekonomi berskala dalam pelaksanaan perubahan teknologi. Ekonomi berskala biasanya berasal dari keterpaduan atau ketidakterbagian faktor-faktor produksi. 

Sederhananya seperti ini, kalau teknologi baru membutuhkan modal besar, maka pemakaiannya terbatas hanya pada petani besar dan tidak dimungkinkan untuk dipergunakan secara tepat guna dalam unit operasi kecil. Efeknya adalah pemakaian teknologi baru ini memungkinkan untuk berkerja sebagi suatu dorongan yang kuat untuk nelayan-nelayan skala besar guna menumpukkan lebih banyak alat-alat produksi. Pembelian alat produksi dari nelayan-nelayan kecil. 

Hal ini menciptakan efek distribusi yang pincang dari kekayaan dan kekuasaan yang mendorong ke arah keuntungan bagi  golongan pemodal/elit. Maka sudah menjadi hal yang wajib dalam usaha-usaha guna perubahan teknologi perencanaan yang hati-hati sangat diperlukan untuk memilih berbagai teknologi dari negara maju pada kondisi lokal. Agar kombinasi penggunaan teknologi diperuntukan untuk kedua tujuan, yaitu pertumbuhan dan pemerataan yang disesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi.

Referensi:

  • Chayanov, 1966, The Theory of Peasant Economy, American Economic Assosiation.
  • Ester, Boserup, 1965, The Condition of Agricultural Growth: The Economics of Agrarian Change under Population Pressure, Chicago: Aldine Atherton.
  • Kasryno, F dan Stepanek, J.F., 1985, Dinamika Pembangunan Pedesaan, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
  • Moerman, M., 1968, Agricultural Change and Peasant Choice in a Thai Village, Berkeley and Los Angeles: UCLA Press.