Ketika MUI mengeluarkan fatwa “menggunakan atribut keagamaan non-muslim adalah haram”, muncul banyak pro-kontra, baik dari sesama umat muslim sendiri maupun umat non-muslim. Walaupun tidak secara eksplisit fatwa tersebut tidak menyebut atribut Natal maupun kristiani, namun banyak yang menerjemahkan seperti itu melihat bahwa fatwa muncul ketika Natal tiba dan diperkuat ada sweeping penggunaan atribut natal seperti topi sinterklas.

Benarkah fatwa itu ditujukan mengharamkan atribut Natal, atribut kristiani? Entahlah. Hanya MUI dan para dewa yang tahu.

Fatwa tersebut dikeluarkan dengan alasan bahwa penggunaan atribut agama lain dapat merusak akidah umat muslim. Penggunaan atribut Natal seperti topi Sinterklas, baju Sinterklas, maupun segala yang berbau Sinterklas, ditakutkan dapat merusak keimanan, walaupun Sinterklas tidak ada hubungannya dengan kekristenan.

Benarkah itu bahwa atribut dapat merusak akidah? Kita sebagai umat kristiani sebaiknya tidak berkomentar mengenai itu. Biarlah itu menjadi urusan saudara kita yang muslim.

Kita sebagai umat krisitiani harus mengevaluasi dan bertanya, apakah Natal dengan segala tetek bengek perayaannya, termasuk si opa Sinterklas, sesuai dengan akidah kita? Apakah perayaan Natal sesuai dengan ajaran dan semangat yang dibawa Yesus sebagai sumber mengapa ada hari dinamakan Natal?

Saya tidak akan pernah lupa ajaran yang disampaikan kakak-kakak unyu pengajar sekolah minggu ketika saya kecil. Kakak tersebut menjelaskan tentang makna dan semangat Natal, yaitu berbagi dan kesederhanaan. Dan apakah Natal yang kita jalankan sesuai dengan dengan makna tersebut?

Berbagi

Yesus turun ke dunia dipastikan bukan karena ingin berpartisipasi dalam Harbolnas (Hari Belanja Online Nasional) atau midnight sale. Beliau datang untuk berbagi atau memberi keselamatan kepada kita manusia yang penuh dengan salah dan khilaf ini.

Paus Fransiskus dalam khotbah Natal-nya mengatakan bahwa “perayaan Natal disandera materialisme” and couldn’t agree more. Natal sekarang identik dengan beli, beli dan beli serta belanja, belanja dan belanja, dari baju baru, gadget baru, bahkan istri baru..ehhh.

Nafsu konsumerisme manusia bertemu dengan semangat kapitalisme indusri menjadikan Natal sebagai perlambang apa yang dinamakan dengan Hedonisme. Natal yang seharusnya melambangkan semangat memberi dan berbagi mulai terhapus akibat nafsu manusia, di mana seharusnya Natal kita gunakan untuk berbagi sesuatu kepada sesama, namun kita habiskan waktu dan uang kita untuk memuaskan dahaga duniawi kita.

Pada akhirnya, kita terlupa untuk memberi dan berbagi kepada sesama, terlebih kepada yang kekurangan maupun terpinggirkan.

Kesederhanaan

Dalam sebuah kandang yang kotorlah Yesus memilih untuk lahir. Dalam palungan yang merupakan tempat makan ternak Yesus dibaringkan bukan dalam box bayi produk m**hercare yang diskon mau tidak harganya membuat para orangtua bayi mengalami penuaan dini.

Beliau pun lahir dari wanita bias,a bukannya dari kaum bangsawan maupun selebritis yang dari proses hamil sampai kelahiran didokumentasikan dan dikomersilkan. Semua hal tersebut menggambarkan apa yang dinamakan kesederhanaan.

Berdoa dan memuji Tuhan di hari Natal membuat hal tersebut menjadi spesial? Saya rasa tidak. Natal hanyalah 1 satu hari dari 365 hari dalam satu tahun, tidak lebih tidak kurang.

Segala pujian yang kita panjatkan kepada Tuhan pada hari Natal dengan lebih meriah, ditambah sound yang menggelegar plus dengan kostum yang bling-bling tidak menambah nilainya sama sekali. Kita sangat merendahkan Tuhan apabila mengira dengan segala aksesori duniawi tersebut Tuhan akan terkesima lalu ikut menari. Kita hanya mencoba mengurung ke-maha-an Tuhan dalam persepsi sempit manusia.

Semua perayaan itu demi dan untuk Tuhan? Ah, yang bener? Kitalah yang memakai baju baru. Kitalah yang berjoget ria dalam kesenangan dalam meriahnya lagu pujian dan perut kita jugalah yang membuncit akibat segala makanan yang kita santap di perayaan Natal yang saya yakin tidak mendapat label halal.

Lalu sebenarnya, segala perayaan itu untuk siapa? Dan dengan segala kemewahan itu, ke mana perginya makna Natal yang disebut kesederhanaan?

Terlepas apakah fatwa mengenai haramnya penggunaan atribut agama lain benar atau tidak, setidaknya umat muslim sangat peduli dengan akidahnya berkaitan dengan perayaan Natal. Bagaimana dengan kita umat kristiani menjaga akidahnya ketika perayaan Natal? Jangan-jangan akidah kita sudah rusak berpuluh-puluh tahun lalu sejak makna dan semangat Natal yang dibawah oleh Yesus tergerus oleh konsumerisme dan materialisme?

Semangat berbagi dan memberi ke sesama hilang dengan semangat membeli (belanja) dan menghias diri sendiri. Kita lupakan orang yang kekurangan dan terpinggirkan. Kesederhanaan yang digambarkan melalui proses kelahiran Yesus ke dunia digantikan dengan pesta perayaan yang megah dan santapan yang mewah.

Lebih ironis, rusaknya akidah kita diwariskan kepada anak-anak kita. Bagi mereka sekarang, Natal adalah mengenai menerima hadiah dan bukannya memberi ataupun berbagi ke sesama. Bagi mereka, Natal adalah saatnya pesta dan makan bersama, bukannya merenungi arti Natal dalam kesederhanaan.

Bukan umat muslim yang seharusnya takut dengan rusaknya akidah akibat atribut agama lain ketika Natal tiba, tapi kita umat Kristianilah yang harus takut akan rusaknya akidah kita ketika Natal tiba. Shalom.