Hingar bingar peringatan kemerdekaan benar-benar terasa di setiap daerah. Beragam lomba diadakan baik untuk anak-anak maupun orang dewasa.

Sementara itu, pada 19 Agustus 2017, dua hari setelah peringatan kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 72, hingar bingar itu justru baru saja tiba di salah satu sudut pemukiman di Yogyakarta. Tidak jauh dari Stasiun Tugu Yogyakarta, sejumlah anak tampak memegang bendera merah putih dari plastik dengan gambaran bendera Indonesia di pipi kiri dan kanan mereka.

Tidak lebih dari 15 anak-anak berkumpul pada siang ini, biasanya jumlah mereka mencapai 20-an anak. Sudah beragam kegiatan yang mereka lakukan sejak awal berdirinya Kelompok Belajar Ceria, mulai dari kegiatan mewarnai, membuat kreativitas dari kertas poporo, menonton film dan panggung boneka hingga membuat batik celup di baju.

Hal-hal ini sebenarnya tergolong sederhana bahkan bagi beberapa anak di luar sana mungkin cenderung membosankan dan sudah pernah mereka pelajari sebelumnya. Namun, tidak demikian dengan anak-anak ini. Antusias, itulah yang selalu mereka tunjukkan setiap mengikuti kegiatan di Kelompok Belajar Ceria. 

Mungkin ini memang merupakan momen-momen yang mereka rindukan, bisa belajar sambil bermain dengan lepas. Momen yang mungkin sulit didapatkan selama ini.

Bagaimana tidak, bangunan tempat tinggal yang hanya berjarak 8-12 meter dari rel kereta, tentu bukan tempat bermain yang layak dan aman bagi anak-anak. Ancaman bahaya senantiasa mengancam jika mereka tidak berhati-hati bermain di dekat rel yang hampir tiap 30 menit dilalui oleh kereta.

Kelompok Belajar Ceria merupakan sebuah kelompok belajar yang aktif melakukan kegiatan setiap Sabtu siang di sebuah pemukiman tepat di pinggir rel dekat Stasiun Tugu. Pengajarnya merupakan para anak muda, baik yang sudah bekerja maupun masih kuliah. Penggagasnya adalah seorang Pastor Jesuit bernama Pater Adri.

Dalam obrolan sesudah mendampingi adik-adik pada siang itu, Pater Adri mengungkapkan bahwa kegiatan ini merupakan inisiatif dari salah seorang ibu di daerah tersebut. Si ibu menyadari bahwa anak-anak di sana selama ini hidup di dunia orang dewasa, mereka perlu kegiatan-kegiatan yang dapat membawa anak-anak merasakan dunia mereka sendiri. Akhirnya, 2-3 minggu sebelum lebaran kegiatan pertama Kelompok Belajar Ceria ini dimulai. 

Ada beragam cerita menarik saat memulai kegiatan ini, salah satunya pengalaman para volunteer ketika mulai berinteraksi dengan anak-anak di sana. Ada seorang anak yang selalu enggan ketika diajak berpegangan tangan, jika pun mau, maka ia hanya akan menyentuh kelingking volunteer

Berbeda dengan teman-temannya yang langsung akrab, anak ini cenderung pemalu. "Aku isin, mas," begitu katanya ketika diajak oleh salah satu volunteer. Setelah 3-4 pertemuan, barulah ia mulai berani untuk berinteraksi.

Pendampingan ini juga secara sederhana mencoba mengajarkan anak-anak tentang sikap-sikap hidup, mulai dari bersabar ketika mengantri giliran mencelupkan batik mereka, belajar berbagi ketika menggunakan pensil warna, hingga belajar saling membantu ketika mengerjakan pekerjaan rumah masing-masing. Anak-anak diajak juga untuk berani tampil lewat berbagai permainan yang diadakan.

Kegiatan siang itu diisi dengan lomba bersama. Anak-anak dibagi menjadi 3 kelompok dan setiap kelompok berlomba untuk menghabiskan donat yang digantung pada sebuah tali. Keceriaan, itulah yang tergambar dari wajah para anak.

Sesudah asik bermain dan bernyanyi, anak-anak diajak untuk tetap di kelompoknya masing-masing dan setiap anak membuat sandwich.

Bagi sebagian orang, mungkin menikmati makanan seperti ini sudah merupakan hal yang luar biasa, tapi tidak demikian dengan mereka. Saking antusiasnya, bahkan beberapa anak meminta untuk memanggang sendiri roti lapis mereka. Kegiatan makan bersama ini menjadi semakin spesial karena setiap anak duduk makan bersama kelompok mereka.

Peringatan kemerdekaan Indonesia senantiasa membawa sukacita bagi setiap lapisan masyarakat, tak terkecuali bagi anak-anak di sini. Meski tinggal tak jauh dari pusat kota, namun sejatinya anak-anak ini merasakan sesuatu yang berbeda dengan anak-anak lainnya.

Faktor lingkungan tempat tinggal yang sebenarnya kurang begitu sesuai dengan usia mereka menjadi salah satu pengaruh dan alasan mendasar diadakannya Kelompok Belajar Ceria di sana seperti yang sudah disinggung di atas.

Lokasi tempat tinggal mereka dikenal sebagai sebuah lokasi prostitusi dan pembaca tentu dapat membayangkan sendiri bagaimana suasana di sana. Kehadiran Kelompok Belajar Ceria diharapkan mampu mengajak anak-anak untuk sungguh merasakan dunia anak-anak, dunia mereka.

Maka, kegiatan siang itu menjadi spesial karena anak-anak tidak hanya mengisi waktu luang mereka, tapi mereka belajar bercengkerama dengan orang-orang baru. Berbagai permainan dilakukan dengan antusiasme yang tinggi, termasuk ketika menyanyikan lagu-lagu kebangsaan. 

Sejatinya, pendidikan akan memerdekakan setiap orang terlebih anak-anak. Kemerdekaan yang disimpan sendiri tidak akan mampu menandingi kegembiraan tatkala melihat sukacita anak-anak yang maju pendidikannya.

"MERDEKA!!! MERDEKA!!! MERDEKA!!!" Pekik para anak sesudah menyanyikan lagu Hari Merdeka.