Lelah sudah Rosa menanti kepastian dari Andika. Sudah tiga tahun Rosa menjalin hubungan namun tak kunjung dilamar juga. Padahal, umur mereka dikatakan sangat cukup, sama-sama dua puluh lima tahun. Mereka juga sudah punya penghasilan tetap. Terus mau menunggu apa lagi?

Hingga lebih dari satu tahun mereka berpacaran, Rosa tak menyangka akan jadi begini. Namun, setelah beberapa kali Rosa datang ke rumah Andika, belakangan tahulah dia bahwa orang tua Andika tak merestui hubungan mereka.

Rosa mencoba mengingat pertama kali ia dikenalkan kepada ibu Andika, itu sekitar dua tahun lalu. Agak telat memang, mengingat hubungan mereka sudah berjalan hampir setahun. Namun apa boleh buat, saat resmi berpacaran, mereka masih semester akhir kuliah.

Sungkan rasanya membicarakan hubungan serius kepada keluarga, bila belum bergelar sarjana dan belum bekerja. Maka, mereka menunggu saat yang tepat dan dipilihlah hari itu. Beberapa hidangan kue kering sudah disiapkan ibu Andika di atas meja tamu. Rosa pun sudah berdandan cantik dan rapi demi –katakanlah— calon mertuanya.

Seperti yang direncanakan Andika, perkenalan itu bisa dibilang sukses. Ibu Andika senang belaka melihat calon mantunya cantik dan sopan kelakuannya, apalagi ia sudah bekerja sebagai pegawai bank. Rosa juga merasa disambut baik, dengan hidangan dan obrolan, tanya ini-itu. Bahkan, sebelum Rosa pulang ibu Andika dengan bercanda menyindir Andika, “Sebaiknya jangan tunggu lama-lama, nanti keduluan lelaki lain.” Rosa girang tak kira-kira.

Akan tetapi, kedatangan Rosa kali kedua jauh berbeda dengan yang pertama. Tak ada lagi sambutan hangat dari ibu Andika. Tak ada lagi hidangan kue kering. Bahkan, ucapan salam, “Assalamu’alaikum” dari Rosa pun tak dijawab.

Mulanya, Rosa menduga ibu Andika tidak ada di rumah sore itu. Barangkali sedang ngerumpi di rumah tetangga. Atau, mungkin ada acara arisan ibu-ibu komplek. Tapi, ibu Andika ternyata sedang tidur-tiduran sambil menonton TV di ruang tengah. Ah, barangkali karena terlalu fokus pada TV, tante tak dengar aku datang, begitu pikir Rosa.

Rosa pun mencoba menyapa Ibu Andika. Sekali dipanggil Ibu Andika tidak menoleh. Dua kali pun begitu. Kali ketiga, cuma sedikit menoleh, lalu melanjutkan nonton TV. Rosa tersinggung. Siapa pula yang tidak tersinggung diperlakukan begitu? Selain tersinggung, ia juga bingung. Padahal, minggu lalu aku datang, tante sangat baik kepadaku. Sekarang berbalik seratus delapan puluh derajat! gumamnya.

Tiba-tiba Rosa merasa tidak enak hati. Barangkali ada satu sikapnya yang melukai perasaan ibu Andika. Rosa berusaha mengingat-ngingat kembali. Tetapi, mungkin karena Rosa lupa atau tak sadar, ia jadi tak menemukannya.

"Nanti sebelum pulang, aku akan menanyakannya dan minta maaf, sekarang tampaknya bukan waktu yang tepat."

Dan sekali lagi Rosa dibuat tersinggung, saat hendak pamit pulang, ibu Andika malah berlalu saja masuk kamar, tanpa sepatah kata pun. Rosa masih berbaik sangka. Ia berpikir, mungkin hari itu ibu Andika memang sedang tak ingin bicara. Mungkin ada suatu masalah yang membuat ibu Andika jadi bad mood, lalu malas ngobrol.

Tentu saja, itu tak patut ditanyakan kepada Andika. Rosa pun memakluminya, kadang-kadang ia juga begitu. Namun, kedatangan berikutnya tetap tidak berubah. Malah, sikap dingin ibu Andika semakin menjadi-jadi. Saat berpapasan di depan rumah, ibu Andika sedikit berbincang dengan anaknya tanpa sedikit pun melirik Rosa. Rosa merasa seperti patung. Rosa pun jadi enggan masuk ke rumah. Ia meminta diantar pulang saja.

“Ada yang ingin kutanyakan kepadamu, sebaiknya tidak sini.” Dalam perjalanan pulang, Rosa memberanikan diri bertanya kepada Andika: “Ada apa dengan sikap ibumu? Apa aku telah berbuat salah?”

“Tenang saja, itu bukan salahmu. Ada sedikit masalah dalam keluarga kami. Namun, kau jangan khawatir, biar aku yang urus,” jawab Andika, datar.

Tenang? Jangan khawatir? Bagaimana pula Rosa bisa tenang dan tidak khawatir dengan keadaan seperti itu? Bila masalah ini semakin berlarut, hubungan mereka yang dirawat susah-payah bisa berantakan. Kalau itu benar-benar masalah internal keluarga, seperti yang dikatakan Andika, tentulah Rosa tak perlu ikut campur. Tetapi, dari kata-kata “biar aku yang urus,” Rosa menangkap seperti ada yang ditutup-tutupi Andika.

Karena masalah ini juga menyangkut kepentingan Rosa, harusnya ia berhak diberi tahu duduk persoalannya. Namun sekali lagi karena itu adalah masalah keluarga, maka Rosa tak ada pilihan, selain memercayakannya pada Andika. Sejak hari itu, Rosa tidak mau lagi datang ke rumah Andika. Setidaknya sampai masalah keluarga itu selesai.

***

Ada satu hal yang selama ini ia sembunyikan, yaitu orang tuanya. Rosa malu mengakui bahwa ia terlahir dari keluarga broken home. Setiap diantar ke rumah, Rosa minta diturunkan di depan pagar rumah dan enggan mengajak Andika masuk. Bila Andika menanyakan perihal orang tuanya, Rosa akan menjawab sekenanya: mereka ada di rumah, sedang istirahat. Dan bila Andika minta dikenalkan kepada orang tuanya, Rosa selalu menghindar: "Nanti saja, sekarang waktunya belum pas," lalu mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Kenyataannya tidak begitu. Rosa tinggal bersama neneknya. Sebenarnya, ibunya juga tinggal di rumah yang sama, namun jarang pulang, lebih sering di rumah suami barunya. Ayah Rosa pun tak jelas rimbanya, neneknya bilang ia tinggal di kampung halaman, tapi beberapa kali Rosa berkunjung ke kampung halaman ayahnya, ia tak ada di sana.

Kenyataan itulah yang dirahasiakan Rosa rapat-rapat. Namun, suatu hari sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya. Pesan itu dikirim oleh nomor yang tidak tercatat di kontaknya. Isinya singkat: “Jangan teruskan hubunganmu dengan Andika. Kau tak layak untuk Andika.”

Bah, apa ini? Pesan ancaman? Siapa sih, pengirimnya? Sok mau ikut-campur hubungan orang? Rosa penasaran. Ia menduga si pengirim adalah perempuan yang iri dengannya.

Rosa membalas, “Anda siapa? Enggak usah ikut campur, ya! Tahu apa Anda?”

Pesan balasannya, membikin Rosa kaget. “Saya mbaknya Andika. Saya tahu kamu bukan dari keluarga baik-baik. Saya tidak mau masa depan Andika hancur seperti ibu-bapakmu. Paham kau?”

Semua orang yang bisa membaca dan berbahasa Indonesia, tentu paham dengan isi pesan tersebut. Namun, yang tidak dimengerti Rosa: dari mana mbak Andika mengetahui keadaan keluarga Rosa. Padahal, Rosa yakin betul ia tidak banyak cerita perihal orang tuanya kepada siapa pun; tidak kepada teman-temannya, apalagi kepada mbak Andika yang bahkan Rosa sendiri lupa apakah mereka pernah bertegur sapa.

Ah, tapi rasanya bukan hal yang mustahil juga mencari informasi semacam itu. Kau tentu tahu, manusia memang sangat suka bercerita satu sama lain. Apalagi kalau itu tentang keburukan orang lain. Barangkali, desas-desus tetangga sampai pula ke telinga mbaknya Andika. Sejak dulu, Rosa benci sekali dengan pepatah “Buah jatuh tak jauh dari pohonnya.”

Baginya, itu omong kosong. Perangai anak tidak mesti selalu mirip orang tuanya. Contohnya ia sendiri. Rosa selama ini merasa sebagai anak yang baik-baik. Rosa tidak pernah berbuat macam-macam, seperti seks bebas, narkoba, atau mabuk-mabukan. Jangankan itu, menginjakkan kaki ke diskotek saja ia belum pernah.

Lalu, mengapa mbak Andika menyangkutpautkan orang tua Rosa dengan dirinya? Sampai dia bilang Rosa akan menghancurkan masa depan Andika. Rosa mengutuk pemikiran bodoh seperti itu.

***

Kemarin Rosa menyapaku lewat Blackberry Messenger (BBM). Mula-mula Rosa bertanya, apa kabar. Kujawab saja, “Baik-baik saja, kamu sendiri?” Rosa bilang keadaannya “buruk” (dengan tambahan emoticon wajah sedih). Aku balik bertanya, “Buruk yang bagaimana? Kesehatan atau apa?”

Seperti sudah direncanakan, Rosa mengatakan itu tentang hubungannya dengan Andika. Katanya, “Aku tak tahu lagi kelanjutan hubungan kami.” Aku tak paham maksud Rosa. Seingatku mereka sudah berpacaran sejak aku masih kakak tingkatnya di kampus.

“Kalian ‘kan sudah lama pacaran dan sekarang masing-masing punya penghasilan. Ya sudah, suruh si Andika cepat melamar,” jawabku enteng.

“Masalahnya tidak segampang itu, Kak.”

Kemudian Rosa pun bercerita tentang hubungannya dengan Andika. Bahwa seharusnya Andika sudah melamarnya. Namun, gara-gara satu sebab, hal itu tak kunjung terlaksana. “Ibu Andika tak merestui hubungan kami. Pertama bertemu, ibunya baik kepadaku. Kemudian berubah total, ketika mbak Andika berhasil melacak asal-usul keluargaku.”

Obrolan itu didominasi Rosa. Aku sedikit menanggapi, “ya, ya” dan “terus?” supaya Rosa meneruskan ceritanya dengan sempurna. Biarlah Rosa bicara sepuasnya, semoga itu bisa sedikit melegakan hatinya.

***

Sambil menulis cerpen ini, aku menunggu kedatangan Rosa. Kami janji bertemu di kantin kampus. Katanya, kangen makan di kantin kampus. Walaupun alasannya begitu, aku sudah bisa menduga maksud sebenarnya Rosa mengajakku makan siang, melanjutkan obrolan kemarin.

Sepanjang makan siang akan dihabiskan dengan membincangkan hubungannya dengan Andika. Apakah Rosa akan tetap melanjutkan hubungannya, meski harus rela menahan sakit dan sabar menanti kejelasan kapan akan dilamar, atau bagaimana.

Apakah Rosa harus putus dengan Andika, dan mencari laki-laki lain (aku percaya tidak begitu sulit, sebab Rosa berparas cantik) yang artinya memulai dari nol kembali, atau bagaimana. Setelah itu, kemungkinan Rosa juga ingin mendengar nasihatku.

Dan bila benar ini yang terjadi, sudah jelas bahwa tugasku tidak boleh dianggap remeh. Hal demikian membuat aku akan serba salah. Tentulah kau tahu, bersimpati di zaman banyak tuduhan seperti sekarang tidaklah gampang. Peduli dibilang cari perhatian, cari kesempatan.

Misalnya, kalau aku menyarankan pilihan memutuskan saja hubungan dengan Andika, dan Rosa betul-betul mengikuti saranku, boleh jadi teman-teman Rosa dan teman-temanku akan mencapku sebagai perusak hubungan orang. Lebih parah lagi, mereka juga akan menuduhku hendak merebut Rosa dari Andika.

Dengan demikian, nama baikku akan rusak. Kacau, dah! Atau, sebaiknya aku menyarankan Rosa tetap melanjutkan hubungannya dengan sedikit bersabar, barangkali Ibu Andika akan melunak? Ini juga tidak bagus. Sama saja aku tidak menolong Rosa sama sekali, malah makin menjerumuskannya.

Tentu kau tahu pula, bahwa restu orang tua dan perbedaan agama merupakan halangan terbesar untuk pernikahan di negeri kita. Andai saja, Andika berani melawan ibunya, tentu masih ada harapan untuk Rosa. Namun, Andika –seperti kata Rosa— sangat menyayangi ibunya.

Tapi yang paling aku duga, Rosa sendirilah yang menghendaki pilihan tetap melanjutkan hubungannya. Dari obrolan kemarin, aku menangkap Rosa sangat mencintai Andika yang katanya, “Enggak ada lelaki sebaik dia.” Busyet. Bila benar Rosa sendiri menghendaki seperti itu, lantas apa gunanya ia meminta nasihatku?

Kukatakan padamu, harusnya Rosa tak meminta nasihatku. Aku hanyalah seorang pengarang cerita. Bukan konsultan asmara, bukan pula orang yang berpengalaman dengan hal semacam ini. Kebetulan saja, aku kakak tingkatnya di kampus dulu, dan itu tidak berarti aku lebih bijaksana. Buktinya, aku belum tahu nasihat apa yang akan kuberikan untuk Rosa sebentar lagi.

Lubuklinggau, 23 November 2015.