Traktat Angkatan Nuklir Jangka Menengah (Intermediate-Range Nuclear Forces Treaty) atau biasa disingkat INF, saat ini bersiap untuk diakhiri. Meski perjanjian yang awalnya ditandatangani oleh Uni Soviet dan Amerika pada tahun 1987, yang diwakilkan oleh AS Ronald Reagan dan Uni Soviet Mikhail Gorbachev, belum resmi dinyatakan bubar atau dihapus.

Melalui INF Treaty tersebut, AS dan Rusia sepakat melarang seluruh rudal dan roket, baik nuklir maupun non-nuklir, baik dengan jarak tempuh pendek maupun menegah. Dengan pengecualian yang tidak masuk dalam traktat ini, senjata yang diluncurkan dari laut. 

Pada periode 1988-1991, AS dan Rusia sepakat untuk menghancurkan sekitar 2700 roket. Kedua negara sepakat untuk saling mengawasi instalasi rudal masing-masing negara.

Dan dengan adanya Traktat INF, dimaksudkan sebagai langkah konkret untuk mencegah kedua negara meluncurkan persenjataan nuklirnya yang tidak hanya berakibat hancurnya kedua negara adikuasa tersebut, tetapi juga bisa membawa efek mematikan bagi negara-negara di benua Eropa.

Rudal Jarak Menengah? 

Menurut artikel milik Russia Beyond, kategori angkatan nuklir ini termasuk segala rudal nuklir dengan daya jelajah antara 500 – 1.000 km (jarak pendek), dan 1.000 – 5.500 km (jarak menengah).

Misil tersebut dapat mencapai target lebih cepat daripada rudal balistik antarbenua. Dan yang paling penting, daya jelajahnya yang relatif pendek membuat rudal semacam ini tak masuk dalam lingkup Perjanjian Pembatasan Senjata Strategis tahun 1972.

Sementara para analis politik tengah sibuk mendiskusikan konsekuensi serta akibat yang mungkin terjadi jika AS betul-betul menarik dari dari Traktat INF, kita perlu memahami untuk apa awalnya perjanjian tersebut dibuat. 

Kala itu, Eropa tengah berada di ambang perang nuklir. Oleh karena itu, sekarang kita akan menuju kilas balik bagaimana bisa terciptanya traktat INF 30 tahun yang lalu.

Sejarah Traktat INF

Pada 1977, sebagai bagian dari rencana untuk memodernisasi persenjataannya, Uni Soviet meluncurkan rudal baru untuk disebarkan di Eropa Timur, yaitu Sabre SS-20 jarak menengah. Kabar ini sontak sangat mengejutkan Eropa Barat.

Kala itu, tak ada perjanjian apa pun yang mengatur keberadaan tiga rudal berdaya ledak 150 kiloton itu. Artinya, Uni Soviet sewaktu-waktu bisa saja menghantam dan menyapu bersih kota manapun di Eropa Barat.

Soviet bermaksud untuk menggantikan rudal SS-4 dan SS-5 yang sudah usang dengan SS-20 dan menjamin kedigdayaan negara di daratan Eropa. Namun demikian, langkah semacam itu dengan cepat memperburuk hubungan dengan Barat.

“Baik Barat maupun Tiongkok sangat prihatin dengan penyebaran senjata itu,” tulis sejarawan Alexei Bogaturov. “Langkah itu dilihat sebagai bukti bahwa Soviet sedang bersiap-siap untuk memulai perang nuklir terbatas.”

Eropa Barat merasa sebagai pihak yang paling rentan. Kemungkinan serangan besar-besaran Soviet dapat memusnahkan seluruh infrastruktur militer Eropa bahkan sebelum sekutunya yaitu Amerika mereka dapat bereaksi.

Sebagai pemimpin NATO, AS bertindak dengan tegas. Pada 1983, rudal baru Amerika, Pershing II, dikerahkan di Jerman Barat, sedangkan beberapa rudal jelajah darat lainnya disiagakan di Belgia, Italia, Belanda, dan Inggris. Rudal-rudal ini dapat mencapai sasaran di sebagian besar wilayah Eropa yang dikuasai Soviet.

Baik politisi Soviet maupun Barat paham bahwa mereka harus sama-sama mengurangi ketegangan. Akhirnya, pada 1987, Mikhail Gorbachev dan Ronald Reagan mencapai kesepakatan dan menandatangani sebuah perjanjian.

Nasib Traktat INF 

Terancam diakhirinya Traktat ini, yaitu setelah pernyataan yang diucapkan Presiden Ameika Serikat, Donuld Trump, pada saat wawancara oleh salah satu stasiun Televisi.

President Trump mengatakan, “Rusia has violated the agreement, they’ve been violating it for so many years. And I don’t know why President Obama didn’t negotiate or pull out. We’re not gonna let Rusia violate a nuclear agreement, they allowed to do weapons and we’re not allowed to. Rusia, has not unfortunately under the agreement, so we pull out.”

Amerika menuduh bahwa Rusia telah melanggar kewajibannya berdasarkan traktat INF dengan pengujian rudal 9M729 berkemampuan nuklir.

Dalam siaran resmi yang disiarkan secara langsung oleh white house, Sekretaris Negara AS, Mike Pompeo, mengatakan bahwa Amerika Serikat menangguhkan kewajiban Traktat INF secara efektif pada hari Sabtu, 2 Februari 2019, dan bahwa Rusia memiliki waktu 6 bulan untuk mematuhi ketentuan ketentuan dalam traktat tersebut, atau itu akan diakhiri.

Sedangkan, di sisi lain, Presiden Rusia Vladimir Putin secara resmi juga telah memerintahkan penangguhan kewajiban Rusia di bawah perjanjian tersebut.

Menurut Media Kremlin, keputusan untuk menangguhkan perjanjian dibuat setelah Amerika Serikat mengatakan akan berhenti mematuhi traktat INF.

Tentunya Rusia tidak terima dengan tuduhan tersebut. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh AS bersikap keras kepala. Menurutnya, Moskow telah menawarkan untuk mengizinkan para ahli Washington memeriksa rudal yang dicurigai itu, yang menurutnya tidak melanggar batas yang ditetapkan dalam traktat INF

Resolusi Dewan Keamanan PBB 

Dengan AS maupun Rusia tidak mau mengalah, sangat kecil kemungkinan bahwa kedua belah pihak akan siap untuk melakukan tindakan perdamaian yang berarti.

Dengan Rusia yang tidak akan tunduk pada tekanan AS, dan Amerika sama tidak mungkinnya untuk mengubah tuntutannya, sangat penting untuk mempersiapkan dunia tanpa traktat INF.

Prioritas pertama yang harus dilakukan ialah pengendalian kerusakan. Amerika dan Rusia harus mencegah agar runtuhnya traktat INF tidak mengikis komitmen yang lebih luas untuk skenario non-proliferasi. 

Artinya, komitmen terhadap perjanjian yang telah ada harus dipertegas kembali, seperti perjanjian New START 2011, yang membatasi jumlah gudang senjata rudal mereka menjadi 1.550 hulu ledak nuklir yang dikerahkan.

Amerika juga dapat memberikan kepastian bahwa mereka akan terus menjunjung tinggi kewajiban non-INF mereka, bahkan jika traktat INF runtuh. Amerika diharapkan dapat menunjukkan keinginannya untuk memperpanjang perjanjian New START melampaui berakhirnya perjanjian tersebut pada tahun 2021 saat ini.

Traktat INF adalah tiang penting bagi stabilitas serta kemananan global. Diiringi dengan hubungan antara Rusia dan Barat sangat bergejolak, berbagai upaya harus dilakukan untuk memastikan agar runtuhnya traktat tersebut tidak membawa kita kembali pada era perang dingin.