Di tengah kondisi serba modern seperti saat ini, apakah kita semua masih memiliki pengetahuan tentang Balai Desa? Ataukah kata tersebut sudah mulai asing di telinga kita masing-masing? Jika memang sudah asing, berarti teknologi smartphone sudah berhasil merenggut nilai sosial dalam diri kita masing-masing.

Balai Desa adalah sebuah pertemuan warga desa untuk mendiskusikan suatu kegiatan desa atau kemajuan desa untuk ke depannya. Balai desa merupakan salah satu tempat yang dijadikan wadah oleh masyarakat desa untuk menampung segala macam aspirasi masyarakat, mulai dari kebutuhan pribadi hingga kebutuhan golongan.

Di mana-mana di sebuah desa pasti ada memiliki semacam “BALAI” Dan semua orang menyebutnya dengan sebutan balai desa. Karena dengan adanya balai desa semua kegiatan desa ke depannya akan didiskusikan melalui balai desa.

Balai Desa terbentuk karena memiliki tujuan untuk mendiskusikan kemajuan Desa ke depannya, karena pasti lah sebuah warga desa ingin desanya mendapatkan kemajuan entah di bagian ekonomi, budaya, atau kerajinan tangan. Pada hakikatnya, semua desa ingin maju dan sejahtera.

Tetapi beberapa bulan terakhir ini, beredar isu atau rumor bahkan mendekati fakta. Bahwa Balai Desa di suatu Desa akan dibubarkan. Padahal balai desa sangat penting bagi sebuah desa supaya desanya ke depannya bisa memajukan ekonomi desa melalui balai desa.

Tetapi kenapa Balai Desa tersebut dibubarkan dan alasannya kenapa padahal desa tersebut sudah berdiri puluhan tahun silam dan bahkan desa itu sudah berbau dengan Kota tetapi kenapa desa tersebut membubarkan sebuah Balai Desa yang memiliki tujuan untuk memajukan entah dalam Ekonomi, Budaya yang ia miliki, atau bahkan peninggalan sejarah yang ia miliki tetapi belum di tahu semua orang dan kenapa desa tersebut membubarkan sebuah balai desa tersebut.

Apa alasannya? Bagaimana bisa balai desa itu mendadak terancam? Asal-usulnya dari mana? Berangkat dari kebijakan dan keputusan yang seperti apa? Tidak tanggung-tanggung desa yang terancam sirna sebanyak 3 (tiga) balai. Lokasi desa tersebut terletak di 3 kota besar, Semarang, Yogyakarta dan Sidoarjo.

Namanya sebuah desa pasti ada Kepala Desanya. Dan mestinya juga ada Lurahnya. Mohon untuk dibedakan antara Kepala Desa dan Lurah. Yang berjalan memimpin keberlangsungan balai desa selama ini adalah Kepala Desanya.

Tentu saja mendengar dan mengalami bahwa desanya akan "diselesaikan", Sang Kepala Desa merasa harus ada tindakan untuk mencegah supaya balai desa beserta isinya tidak jadi dieksekusi.

Soal Kepala Desa dan Lurah tidak akan dibahas lebih lanjut di sini. Namun, aku yakin masing-masing balai desa tersebut memiliki Lurah yang bekerja secara senyap dan tak banyak orang mengetahuinya.

Dan Ketiga Kepala Desa ini melakukan koordinasi dan sinkronisasi secara sinergis dengan atasannya yang lebih tinggi dari desa. Tetapi Siapa atasan mereka? Namanya juga Desa, secara hierarki merangkak ke level kecamatan di atasnya lagi ada level kabupaten, yang membawahi.

Lalu siapa pihak yang ingin menyudahi ketiga balai desa ini tersebut. Mengingat ketiga kepala balai ini melakukan koordinasi dengan level di atasnya, pasti bukan Kecamatan yang punya ide dan inisiatif untuk tutup buku. Ada dua kemungkinan level di atasnya yang memiliki peran dan kekuasaan untuk melakukan itu. Yakni Kabupaten dan Provinsi.

Tetapi kalo misalnya Provinsi yang membubarkan sebuah balai desa tersebut. Alasannya kenapa apakah provinsi tersebut tidak ingin terkenal budaya oleh orang luar, memang sih provinsi tersebut sudah tidak terlalu asing oleh orang luar tetapi mereka yang memiliki sebuah desa yang terpencil pasti ingin memiliki kemajuan dalam bidang budaya.

Tetapi provinsi yang ingin membubarkan sebuah komunitas yaitu Balai Desa yang memiliki tujuan untuk memajukan ekonomi dalam sebuah desanya tetapi di bubarkan, dan pasti desa yang terpencil yang jarang terdengar oleh kalangan orang akan mengalami kemunduran suatu saat karena desa tersebut tidak memiliki sebuah Balai Desa yang di anggap sebagai tangan kanan selain kepala dusun.

Tidakkah engkau perhitungkan kekuatan doa para penghuni Balai Desa tersebut? Mereka perlu pekerjaan, mereka memiliki keluarga, mereka para penduduk dari Desa yang tidak mengerti apa-apa soal kebijakan-kebijakan, soal kepentingan-kepentingan sekelompok maupun golongan.

Mereka para penduduk Balai Desa hanya mengerti bagaimana menjalankan tugas sesuai dengan job desk-nya masing-masing yang di arahkan oleh pemimpinnya mereka suatu saat akan tidak memiliki sebuah tujuan.

Tetapi pasti ada warga desa yang memiliki pendirian tetapi tidak seberapa. Dan itulah kenapa warga desa sangat memerlukan sebuah komunitas yaitu Balai Desa karena balai desa tersebut yang akan membimbing atau mendiskusikan sebuah kemajuan desa nya

Dan engkau para Pemimpin Desa Tidakkah engkau perhitungkan kekuatan doa para penghuni Balai Desa tersebut? Mereka perlu pekerjaan, mereka memiliki keluarga, mereka para penduduk dari Desa yang tidak mengerti apa-apa soal kebijakan-kebijakan, soal kepentingan-kepentingan sekelompok maupun golongan.

Semoga ini menjadikan pelajaran bagi seluruh komponen yang terlibat di dalamnya. Hikmah akan selalu ada dan menjadi semacam pembelajaran ataupun bahkan ini hanya trigger yang memang sudah dirancang sebelumnya. Ketiga Balai Desa itu kini bisa tersenyum lebar, namun banyak pekerjaan rumah yang mesti dilaksanakan sesuai dengan arahan Pak Pimpinan. Dan untuk sebuah untuk kemajuan desanya.