Ada yang menarik dari tayangan TV Trans7 serial acara Mata Najwa bertajuk “Panggung Rhoma Irama”. Dipandu jurnalis Najwa Shihab, ia mencoba menelisik keberadaan Orkes Melayu Soneta yang beraliran musik dangdut. Kata pengamat musik kawakan Bens Leo, Orkes Melayu Soneta mengalami revolusi.

Perubahan tersebut ditandai tenarnya musik rock yang mulai melanda dunia, termasuk Indonesia. Dengan begitu, ujar Rhoma Irama, upaya memasukkan gaya musik rock ke Orkes Melayu, serta memakai sound system ratusan ribu watt, membuat alunan nada Soneta grup lebih modern, sehingga performennya mampu menyaingi band rock.

Dalam konteks di atas, grup Soneta memberikan muatan baru di dunia permusikan Indonesia, dapat dijadikan contoh. Bagaimana tidak, musik yang beraliran dangdut tersebut awalnya dianggap kuno dan orang enggan mendengarnya. Berkat trobosan komposisi musik bergaya baru, akhirnya mulai diminati masyarakat pada saat itu.

Lebih jauh lagi, Orkes Melayu Soneta memiliki karya yang bernuansa pendidikan, seperti lagu Mirasantika, Judi, dan Begadang. Dengan menggunakan alat musik sebagai instrumen yang cukup ampuh untuk diterima masyarakat, nuansa pendidikan itu membuat lagu tersebut terkenal hingga mancanegara. 

Pendidikan yang dimaksud ini ialah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan pengajaran afektif, perolehan pengetahuan, serta pengembangan kemampuan. Karena genjereng musik merupakan suara alam yang ditemukan manusia, ketika bercocok dengan kehidupannya, di mana keahlian dari pemain musik menimbulkan suara yang amat teratur, jika didengar dapat membuat orang terasa nyaman dan terkadang dijadikan obat pelipur lara.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia V (KBBI V), musik merupakan suara yang disusun demikian rupa sehingga mengandung irama, lagu, dan keharmonisan. Terutama mengunakan alat-alat musik yang dapat mengeluakan bunyi. Maka tak ayal, keteraturan berkesinambungan terdapat pada sentuhan musik.

Kenapa orang-orang senang sekali mendengarkan musik? Karena "nada adalah dasar dari segalanya di dunia fisik," kata Rudolf Joseph Lorenz Steiner. Hal ini termuat pada racikan lagu Orkes Melayu Soneta, dengan hasil tangkapannya atas realitas kehidupan kita.

Nyata sekali bila kita mendengarkan untaian lagu berjudul Begadang. Dengan sentuhan instrumen alat musik, membuat narasinya lebih hidup; “Boleh begadang asal ada perlunya”. Mengigat ketika kita memiliki pekerjaan yang tidak dapat diselesaikan pada waktu siang dan dibutuhkan besok pagi. Maka tidak dapat dimungkiri, harus begadang sampai larut malam untuk menyelesaikannya.

Sebaliknya, “jika tidak ada perlunya jangan begadang”, karena dalam pandangan medis, terlalu sering begadang dapat menyebabkan badan kita kurang sehat. Begitu pun terkandung pada judul lagu Judi, menganjurkan kepada kita untuk selalu intropeksi diri, ketika melakukan perjudian, sebab termasuk perbuatan dosa.

Dengan begitu, jelas sekali bahwa musik dapat menjadi instrumen pendidikan yang cukup ampuh. Apalagi mereka yang meracik musik, lihai dalam membaca fenomena kehidupannya dan masyarakat, untuk dijadikan komposisi proyek lagu yang enak didengar, bernyawa dan bernuansa mendidik.

Musik sebagai instrumen pendidikan ini pernah juga difungsikan wali sanga, di antaranya Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Sunan Drajat, Sunan Muria, dalam menyiarkan agama Islam. Sehingga mudah diterima masyarakat. 

Suksesi para wali sanga yang menggunakan alat musik sebagai instrumen pendidikan dakwah itu. Karena mereka mendengar denyut nadi dari kehendak Ilahi yang mengalir melalui dunia, kemudian diekspresikan pada nada.

Dalam pandangan Rudolf Stainer, kelahiran Hongaria 1861 ini, musik memiliki inti gema yang dapat dirasakan manusia, sehingga erat kaitannya. Karena perasaan adalah elemen terdalam jiwa yang mirip dengan dunia spritual dan melalui nada jiwa menemukan unsur yang sebenarnya bergerak. Dengan mediator musik jiwa manusia akan hidup, di mana ia terdiam.

Ketika ‘manusia mendengarkan musik terdapat perasaan sejatra, karena nada-nada selaras dengan apa yang telah ia alami di dunia spritual’. Salain itu, Rudolf Steiner, sala satu tokoh pendidikan ini, memasukkan musik ke kurikulum sekolah “Waldorf Education” yang didirikan pertama di Jerman, terkenal dengan metode seni dalam pendidikannya.

Setiap ‘keluarnya suara dari para pemain alat musik yang lihai, akan menunjukkan ekspresi pengetahuan tuhan. Kelainan itu membuat posisi musik dalam kanca pengetahuan dapat dikata yang paling tertinggi atau mempunyai nilai khusus, jika dibandingkan dengan pengetahuan seni dan lain-lain’.

Misalnya tokoh sufi kelahiran Balkh, Jalaluddin Rumi, menjadikan alat musik sebagai instrumen pendidikan rohani; semesta cintanya kepada tuhan. Alat musik itu, Biola, Seruling, Rebab, Rebanan, Pandura dan Tabla. Musik yang indah baginya merupakan ungkapan kerinduan seseorang terhadap asal-usul kerohaniannya di alam sebenarnya tidak jauh dari dirinya.

Penggambaran akan perjalanan kerohaniannya ini termuat dalam bukunya Masnawi, pada bagian pertama berjudul Kisah Lagu Seruling, sebuah upaya yang diejawantahkan dengan bait-bait puisi. Bila puisi tersebut kita coba untuk mengekspresikanya melalui sentuhan alat musik yang pernah beliau gunakan, barang tentu kita akan menemukan semacam perjalanan kerohanian.

Selain itu, Al Farabi, pemikir Islam, dalam tulisannya Kitab Musik Al Kabir (Buku Besar tentang Musik), bahwa musik dapat menciptakan perasaan tenang dan nyaman. Musik juga mampu memengaruhi moral, mengendalikan emosi, mengembangkan spiritualitas, serta menyembuhkan penyakit seperti gangguan psikosomatik.

Ia juga mengatakan, musik dapat menjadi alat terapi. Sebab musik adalah sesuatu yang muncul dari tabiat manusia dalam menangkap suara indah yang ada di sekelilingnya. Maka dari itu, musik dapat menjadi instrumen di dunia pendidikan, untuk mengasah diri agar lebih baik dalam menempuh hiruk-pikuk kehidupan.