Polemik yang terjadi akhir-akhir ini secara kolosal telah merekrut perhatian publik untuk turut menyaksikan lakon politis-agamis yang sangat tidak berguna. Berbagai lapisan masyarakat seolah-olah dialihkan untuk menyoroti kasus yang sama sekali kontra-produktif ini.

Hal ini tak terlepas dari kehebohan media dalam menyuguhkan informasi yang memantik berbagai respons masyarakat. Begitu juga respons ormas keagamaan yang secara simultan larut aktif dalam polemik itu.

Polemik yang diciptakan oleh orang bernama Ahok ketika mengeluarkan sebuah statement yang kurang lebih begini bunyinya: “jangan mau dibodohi oleh surat al-Maidah ayat 51.” Dalam menulis ini sebenarnya saya sama sekali tidak tertarik untuk ikut-ikutan debat, namun seiring semakin berkembangnya opini masyarakat hingga menembus celah-celah dinding warkop.

Artinya isu ini telah telah tercerap dengan cepat sampai kalangan masyarakat lapisan warkop. Baiklah, di sini saya ingin mengajak “manusia yang beriman dan memiliki akal sehat” untuk merenungkan beberapa poin berikut ini untuk sama-sama menimbang sikap selanjutnya terhadap kasus ini.

Menakar urgensi isu

Ada banyak masalah yang melanda negeri ini dalam berbagai level dan strukturnya. Krisis ekstra-dimensi yang terjadi membutuhkan penanganan yang cepat disertai presisi tepat dalam upaya penyelesaianya.

Isu statemen Ahok yang menurut sebagian ormas adalah “penistaan agama” merupakan hal yang selayaknya tidak terlalu dibesar-besarkan. Terlepas benar atau tidaknya pendapat ormas yang terkait dalam menanggapi statemen itu, yang jelas telah membentuk sebuah konflik horizontal di kalangan masyarakat yang menjadi simpatisan satu ormas tertentu.

Isu di atas –kalau kita berpikir lebih jernih- seharusnya tidak akan pernah seheboh ini. Statmen Ahok yang demikian merupakan satu dari sekian otokritik kepada masyarakat beragama agar tidak memelintir ayat-ayat suci demi kepentingan politik soliter. Walaupun secara etika Ahok tidak pantas berbicara demikian dengan konstruksi ide yang tidak diperjelas sebelumnya.

Kritik terhadap statemen Ahok boleh saja bahkan wajib hukumnya agar si empunya lebih hati-hati ke depannya. Namun, melakukan agitasi serta mengerahkan puluhan tenaga rakyat demi sebuah statement yang bisa disikapi dengan lebih cerdas tanpa membuang banyak waktu adalah sebuah perkara yang sama sekali tidak produktif.

Kritik terhadap ormas dan OKP

Ormas dan OKP termasuk salah satu eksponen penting dalam sebuah masyarakat secara keseluruhan dalam bangsa ini. Ormas dan OKP memiliki andil besar dalam membangun karakter rakyat dalam mengisi ruas-ruas peradaban yang diidamkan oleh negeri.

Pergerakan ormas yang semakin dinamis, telah membantu masyarakat untuk terus bergerak kepada level kematangan dalam berbangsa dan bernegara. Dalam hal ini, salah satu proyek vital ormas adalah membentuk dan memperbaiki sumber daya manusia yang ada. Ormas berkewajiban untuk melakukan kaderisasi membentuk kader-kader dan simpatisan yang menunjang perbaikan negeri ini ke level kehidupan lebih baik lagi.

Dengan demikian, semua ormas dituntut untuk lebih jeli dalam memandang dan menyikapi opini yang beredar. Analisa terhadap opini yang sedang berkembang diperlukan kejernihan serta memikirkan aspek teleologis yang akan terjadi. Sangat disayangkan dalam kasus “statemen Ahok” kali ini, ormas dan OKP ternyata turut aktif nimbrung dalam kekeruhan isu yang bermuatan SARA dan Politik identitas.

Ketika ormas dan OKP ini nimbrung dalam larutan isu yang tidak urgen ini, maka secara otomatis pula masyarakat tersedot kedalam kubangan isu yang berpotensi pada lahirnya konflik SARA karna sebab “terbodohi oleh politik”.

Dari tulisan singkat ini, penulis menginginkan agar semua ormas tidak lagi larut dalam kubangan opini yang semakin lama semakin keruh akibat perbedaan masyarakat dalam memberikan konfirmasi terhadap kasus ini. Secara kasat mata, kasus ini tidak terlepas dari rimbunan kepentingan-kepentingan yang tidak penting dalam sebuah dinamika politik.

Wallahul muwaffiq ila Aqwamitthariq