Tanamlah pohon ini
satu demi satu
demi anak-anak demi cucu-cucu.

Tanaman ini hidung saluran napas bumi.
Bisa kau rasakan hembusan angin sejuk
dari dalam dadanya. 

Bila perlu, kau tanami beringin, asam, bambu
dan jati di tengah-tengah lapangan terbang itu,
atau di tengah-tengah gedung bertingkat
demi sejuk dan napas panjang bumi,
demi hembusan angin sejuk dari hidungnya.

Mati, jika bumi tak bernapas lagi
lantaran hidungnya mampet dan perutnya tak berair.
Tanamlah pohon-pohon ini, lebih banyak lagi,
di tanah yang subur ini, demi air, demi hidung,
demi napas bumi.

Dan bila suatu ketika
tak ada lahan untuk menanam pohon,
robohkan saja gedung-gedung  yang menyumbat
pernapasan bumi.
Hancurkan saja tol-tol yang mengancam bumi.
Tanamlah bambu-bambu di sana bila perlu.

Anak-anak kecil datang dari penjuru,
membawa pohon-pohon.
Pohon-pohon yang seperti rumput
yang tak berakar kuat,
yang runtuh dengan satu kali cabut.

Petugas-petugas datang dengan pedang.
Awalnya menakut-nakuti anak-anak
yang membawa pohon-pohon.
Anak-anak tak gentar. Petugas-petugas mendekat
lalu menendang. Anak-anak melayang.

Petugas-petugas apa yang bengis
menendang anak-anak yang ingin membawa
napas panjang bumi.
Anak-anak mana yang berpikir-pikir cemerlang,
demi napas panjang bumi.

Petugas-petugas itu
cari makan dengan pasang badan.
Demi perut, demi rumah, demi mobil,
dan katanya, demi pendidikan anak.

Anak-anak yang datang dari penjuru itu
tanpa orang tua,
membawa pohon-pohon,
tanpa makan gaji-gaji badan dan mata-mata buta
para orangtua. 

Mereka datang membawa pohon demi perut bumi,
demi napas bumi panjang,
bukan demi perut-perut buncit bersabuk emas
dan mutiara hasil kepicikan.

Jika anak-anak itu sampai mati,
siapa yang akan menanam pohon-pohon
hidung bumi.
Jika petugas-petugas itu tetap bermata gaji-gaji,
bagaimana dengan napas-napas bumi.

Anak-anak datang membawa pohon,
petugas-petugas datang membawa senjata
lengkap lekat di badan. 

Anak-anak mengguruk tanah
demi menanam pohon,
kaki-kaki petugas dan pentungan
mendorong-dorongnya hingga jauh
terpelanting ke rongga-rongga.

Rongga-rongga itu tempat bumi
memeluk anak-anak yang membawa pohon-pohon.
Suatu saat mereka akan melawan
bersama bumi yang mati,
mengirim laknat yang tak terperi,
dan napas bumi panjang ini
barangkali hanya sebentar lagi,
dan setelahnya,
bumi akan benar-benar mati.