“Farhan, kamu sudah berani ya sekarang. Aku ngga nyangka, ternyata semenjak keluar dari pesantren kamu sudah berubah.” Sebuah pesan menyelinap masuk ke daftar percakapan bbmku.

“Loh, apanya yang berubah jid?”

“Iya, berani-beraninya kamu mempermalukan nama baik almamater pondok kita. Bermainnya juga sudah ke dunia maya. Di mana letak rasa malu mu sekarang? Apa karena kamu sudah menjadi alumni, lalu kamu bisa dengan seenaknya melupakan nasihat guru-guru kita dahulu?” Sebuah pernyataan yang membuat ku tertegun cukup lama.

“Loh, maksudmu apa jid? Memangnya apa yang berubah dariku?” aku segera membalas pesannya dengan sedikit pun tidak merasa ada yang berubah. Aku heran sebenarnya, kenapa seorang Majid yang selama ini kukenal baik dan saleh, mendadak memberi pernyataan kepada ku dengan aura yang terkesan agak sinis. Aku merasa tidak ada hal buruk yang ku beberkan di dunia maya. Toh, dia pun sekarang berada sangat jauh dariku.

Ia di Kalimantan sedangkan aku di Sumatera. Bagaimana tiba-tiba ia menyerangku dengan sebuah pernyataan yang kurang enak di dengar (atau lebih tepatnya kurang enak dibaca).

“Alah, jangan sok-sokan deh. Mana akhlaqul karimah yang dulu diajarkan sama para ustadz dan ustadzah kita di pondok? Kamu yang dulunya tertutup dengan perempuan, sekarang kok berani-beraninya foto berduaan. Disebar ke dunia maya lagi! Istighfar Han.. jujur aku kecewa dengan tingkah mu sekarang.” Kata-katanya diakhiri dengan sebuah emoticon berbentuk kepalan tinju yang diarahkan kepadaku.

Aku terdiam sejenak. Segera ku tersadar dengan sebuah foto yang kuunggah di Instagram sekitar satu jam yang lalu.
“Ada apa jid, foto yang barusan ku upload itu? Apanya yang salah? Apa aku salah berfoto dengan saudari kandung ku sendiri?”

Tiba-tiba ia terdiam. Terlihat bahwa ia telah membaca pesanku, namun tidak ada tanda-tanda akan membalas. Aku pun menghela nafas panjang. Dalam hati aku bergumam, “semoga Allah mengampuninya”.

Tidak lama berselang, handphone ku kembali bordering, menandakan ada sebuah pesan bbm yang masuk. Aku pun segera membukanya.

“Oh, itu kakak mu toh? Tapi kenapa kamu nggak bikin keterangan dulu di bawahnya, kalau itu kakakmu.” Ia masih tak mau kalah.

Aku tersentak membacanya. Seperti ada sebuah duri yang datang dari depan dan menusuk dadaku. Aku tak menyangka, seorang yang kukenal sangat ahli ibadah, ternyata memiliki pemikiran yang begitu individualis dan sempit. Apa yang salah dengan foto itu? Apakah aku harus berburuk sangka dahulu kepada semua orang, sehingga aku harus membuat keterangan khusus di bawah foto itu, agar mereka tidak menghujani ku dengan cercaan dan hinaan?

Ah, terlalu naif rasanya jika aku harus melakukan hal itu.

Rasanya aku tak ingin menggubris pesan itu lagi. Aku benar-benar merasa heran dan kecewa dengan sikapnya sekarang. Namun aku tidak tega jika ia terperangkap dengan kebiasaan seperti itu. Setelah cukup lama terdiam, aku pun kembali membalas pesannya.

Hmm.. Terima kasih atas saranmu, Majid. Tapi kamu harus ingat, bukankah jika aku membuat keterangan di bawahnya, berarti aku telah berburuk sangka kepada semua orang, bahwa mereka adalah orang-orang yang sama sepertimu, yang lebih mendahulukan prasangka buruknya dari prasangka baiknya?

Tidak apa-apa jid, biarlah seperti itu. Rasanya tidak perlu harus membuat keterangan apa pun. Aku hanya ingin berbaik sangka kepada siapa saja yang melihat foto itu, bahwa mereka adalah orang-orang yang juga berbaik sangka kepada ku.

Toh, jika ada perasaan yang mengganjal di hati mereka saat melihat foto itu, mereka pasti akan bertanya langsung kepadaku dengan nada yang lebih sopan dan tanpa didahului dengan praduga yang buruk. Terima kasih kamu telah mengingatkan ku akan satu hal, “Keshalehan bukan terletak pada penampilan, namun terletak di hati.”

Percakapan itu terhenti dengan munculnya sebuah stiker besar yang bebentuk jempol, yang hingga saat ini tak pernah lagi berganti dengan ucapan apa pun.

Cerita di atas hanyalah fiksi. Jangan diambil ceritanya, tapi ambil hikmahnya. Tidak ada maksud memojokkan siapa pun atau instansi apa pun. Jika ada kesamaan nama, mohon jangan diambil hati. :)