Sebagai orang yang sudah merantau sejak tamat SD, saya sudah menggunakan semua alat transportasi modern. Dimulai dari mini bus, bus, kereta, kapal hingga pesawat sudah saya coba. Beberapa orang teman pernah bertanya: enak dong naik pesawat terus? Meskipun menurut sebagian orang naik pesawat terkesan seru dan keren. Tapi, menurut saya naik bus jauh lebih menyenangkan daripada naik pesawat.

Awalnya sih saya juga berpikiran naik pesawat itu bakal seru banget. Karena, mikirin naik besi besar yang bisa terbang aja rasanya udah keren banget. Apalagi dari atas saya bisa liat pemandangan yang luas tanpa terhalang apa pun. Bisa liat sungai yang meliuk-liuk seperti ular raksasa yang kapan pun siap melahap perkampungan di sekitarnya. Atau saya bakal bisa liat lautan awan dari atas kayak diiklan-iklan. Wah, pokoknya keren deh.

Tapi setelah akhirnya saya berkesempatan naik pesawat, saya dengan segera menyadari naik pesawat itu sangat membosankan. Mula-mula saya masih excited celingak-celinguk liat kiri liat kanan. Setelah beberapa menit kemudian saya baru menyadari bahwa dari atas kita tidak bisa melihat apa-apa. Hanya awan putih, lalu awan lagi,lagi dan lagi. Lautan awan yang awalnya saya pikir keren itu ternyata hanya awan juga. Putih dan membosankan.

Belum lagi kalo turbulensi. Mungkin saya aja yang katrok. Tapi entah kenapa, meskipun sudah berkali-kali naik pesawat, turbulensi masih terasa sangat menyeramkan buat saya. Saya selalu beristighfar, bertakbir, membaca salawat dan apa saja yang dapat saya baca, yang kira-kira bisa membuat saya husnul khatimah sekiranya pesawat itu jatuh, setiap kali sedang terjadi turbulensi.

Tak kalah menyeramkan juga ketika take off dan landing.

Aduh, itu rasanya seperti jantung mau copot. Padahal pesawatnya cuma turun biasa. Pilotnya juga mungkin sudah ratusan kali melakukan itu. Tapi emang dasar sayanya katrok, sampai sekarang saya masih belum bisa nyaman setiap kali take off dan landing.

Saya memilih pesawat karena sangat efisien secara waktu aja. Kalau engga mah, saya bakal tanpa ragu milih naik bus yang menurut saya jauh lebih menyenangkan. Setidaknya ada beberapa alasan yang membuat naik bus terasa lebih menyenangkan daripada naik pesawat.

Naik bus bisa liat pemandangan

Meskipun naik bus itu lama, perjalanan tidak akan terasa karena suguhan pemandangan yang ditawarkan membuat mata enggan untuk berkedip. Pemandangan dari bus tidak sama dengan pemandangan di pesawat. Dari pesawat saya hanya bisa melihat awan dan awan lagi. 

Kalaupun bisa melihat ke bawah, pemandangan yang disediakan hanya warna hijau kalau sedang menempuh hutan atau rumah-rumah yang terlihat kotak-kotak.

Berbeda halnya kalau naik bus. Naik bus saya dapat melihat sawah, gunung, kota dan masih banyak lagi. Salah satu favorit saya adalah melihat ragam arsitektur rumah di setiap daerah. Misalnya rumah di salah satu daerah di Lampung yang di depan rumahnya terdapat bangunan vihara seperti di Bali. Saya juga heran kok beberapa vihara juga dibangun di pinggir-pinggir sawah.

Lain lampung, lain lagi Sumatra Selatan. Di Sumatra Selatan ternyata rumahnya tidak jauh berbeda dengan kampung halaman saya di Jambi. Rumah di sana itu rata-rata panggung dan tinggi-tinggi. Tingginya bisa mencapai dua hingga tiga meter dengan banyak jendela besar di depannya. Pemandangan-pemandangan tersebut tidak akan saya dapati kalau saya naik pesawat.

Bisa dapat kenalan baru

Sudah menjadi rahasia umum kalau orang yang naik pesawat itu sulit diajak ngobrol. Saya pernah beberapa kali mencoba mengajak orang di sebelah saya ngobrol. Namun, obrolan kami hanya sebatas dari mana – mau kemana. Habis itu obrolan berakhir.

Lain halnya kalau saya naik bus. Mungkin karena jauh dan lama sehingga para penumpang bus merasa harus berkenalan satu sama lain dengan orang yang di sebelahnya. Hal tersebut juga berlaku untuk saya. Saya pernah berkenalan dengan seorang bapak-bapak yang rupanya san gat paham soal perkayuan. Saya juga pernah mendapat teman yang bercerita tentang apa saja sampai hal-hal berbau 21+. Pokoknya seru deh ngobrol dengan orang asing di perjalanan tuh.

Naik bus bisa dapat makan gratis

Loh kok bisa?

Bisa dong. Saya pernah sekali mendapat pengalaman ini.

Jadi di sepanjang jalan lintas itu terdapat banyak sekali rumah makan yang hanya bertahan mengandalkan pelanggan dari penumpang bus. Sehingga setiap rumah makan akan sangat senang jika ada supir yang membawa busnya ke rumah makan mereka. 

Mereka menyiapkan tempat khusus untuk supir dan kernet. Supir-supir dan kernet itu dikasih makan gratis sebanyak apapun mereka mau. Selagi makanan tersebut tidak dibawa.

Supaya dapat makan gratis kita harus pandai mengajak supir bicara dan menemaninya menyetir mobil sepanjang perjalanan. Nah, ketika tiba waktu makan biasanya supir akan mengajak kita untuk makan bersamanya. Karena makan bareng supir, pihak rumah makan akan mengira kita juga supir atau setidaknya kernet. Sehingga kita tidak perlu membayar atas apa yang sudah kita makan.

Saya sendiri waktu itu sebenarnya bukanlah orang yang mengajak supir itu ngobrol. Yang ngajak ngobrol itu senior saya. Tapi, karena saya bersama senior itu, saya juga diajak makan bareng mereka di tempat supir biasa makan. Kata senior saya, dia sering diajak makan gratis karena menemani supir ngobrol.

Lagi-lagi pengalaman tersebut tidak akan didapat kalau naik pesawat. Membayangkan ngobrol dengan pilot aja rasanya sudah tidak mungkin. Apalagi diajak makan oleh pilot. Lebih tidak mungkin lagi dong.

Itulah alasan saya mengapa naik bus itu lebih menyenangkan daripada naik pesawat. Kalau menurutmu gimana?